100 Tahun tanpa Khilafah, Apa Saja Kerugiannya?

Setelahnya dunia sangat suram, kaum muslimin di berbagai negeri dikejar dan dihabisi tanpa ada yang membela. Junnah yang telah hilang membuat umat Islam menjadi santapan lezat. Menjadi bahan permainan dan buruan yang diperlakukan semaunya. Sungguh nestapa tak terperi melanda dunia akibat penjajahan.


Oleh: Sri Rahayu

POJOKOPINI.COM — Nabi Muhammad Saw bersabda ”Sesungguhnya al-Imam (Khalifah) itu perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll)

Imam al-Mala al-Qari secara gamblang menyatakan:
”Makna kalimat (إنما الإمام) yakni al-Khalifah atau Amirnya”. Hadits tersebut menegaskan bahwa iman itu adalah junnah itu sendiri.

Hadits di atas tidak menggunakan perangkat tasybih kaf” atau perumpamaan yang semisalnya. Sehingga penyebutan الْإِمَامُ جُنَّةٌ saja bukan Al imamu kal junnah dinamakan tasybih mu’akkad, artinya bentuk tasybih yang dikuatkan, sehingga menimbulkan kesan seakan-akan keduanya (al musyabbah dan al musyabbah bihi) sesuatu yang menyatu, yaitu imam, junnah itu sendiri dan junnah itu adalah imam (khalifah).

Al Mulla’ al Qari dalam al Mirqat dinukil pula oleh Dr. Sa’id bin Ali al Qahhthani dalam Ilmu Ma’ani Irfan Abu Naveed menyebutkan bahwa hadits ini mengandung tasybih baligh, ini termasuk pembahasan al ijaz bi al hadzf (ringkasan padat dengan menghilangkan di antara bagiannya) yang menguatkan penyerupaannya. Demikianlah dalam ilmu balaghah penggambaran imam adalah junnah merupakan pengungkapan bahasa tingkat tinggi karena ringkas padat dengan menghilangkan di antara bagiannya, yaitu perangkat tasybih “kaf” atau semisalnya.

Demikian tinggi pengungkapannya, sesuai dengan kedudukan imam yang memiliki kedudukan tinggi dan mulia. Terbayang kemuliaan seorang khalifah, ketika perkara yang dihadapi manusia belum sesuai dengan syariat Islam maka khalifah takkan bisa memejamkan mata.

Bagaimana seorang Amirul mukminin karena kebijakannya ternyata berdampak para ibu buru-buru menyapih buah hatinya lantaran ingin mendapat tunjangan negara bagi anak yang sudah disapih. Seketika Umar b8n Khaththab takut dan bergetar menyadari kesalahannya. Beliau segera merevisi kebijakannya. “Mulai saat ini semua anak yang lahir mendapat tunjangan dari khilafah.”

Bergembiralah semua baik anak-anak yang baru lahir, ibu dan bapaknya. Para ibu tak perlu buru-buru menyapih anak-anaknya, karena semua anak mendapatkan tunjangan. Demikian pula dalam mengatur segala urusan baik dalam negeri maupun luar negeri, imam (khalifah) menyelesaikan dengan aturan Allah dan Rasulnya.

Dalam kitab Ajhizat Dawlat al-Khilâfah, Syaikh Atha bin Khalil menyatakan, hadis di atas menyifatkan Khalifah adalah junnah (perisai) yakni wiqâyah (pelindung). Perlindungan khalifah sebagai junnah yakni wiqayah betul-betul dirasakan oleh semua warga daulah.

Teriakan satu orang perempuan “wa Mu’tazima!” Cukup membuat khalifah yang saat itu sedang di istana menghentikan semua aktifitasnya dan menjawab satu perempuan yang diganggu pasukan Romawi di Amuria. Mu’tazim billah mengirimkan pasukan yang kepalanya sudah sampai di Amuria, ekornya masih ada di Bagdad. Demikianlah sosok pemimpin dalam khilafah dalam membela dan menjaga kehormatan seorang wanita. Sangat jauh berbeda dengan pemimpin dalam demokrasi. Mereka tak peduli walau petaka terjadi berulangkali.

Dalam Bulan Rajab ini ada peristiwa penting yang menjadi momen bahkan monumen yang mengingatkan peristiwa pilu yang membuat kelam alam raya di selimuti duka, karena khilafah institusi yang menerapkan hukum Allah telah di hapuskan dari muka bumi ini. Pada 28 Rajab 1342 H bertepatan dengan 3 Maret 1924 kaum muslimin banjir air mata. 1300 tahun negara yang dibangun Rasulullah Saw itu dalam sekejap dibunuh oleh Mustafa Kemal At- Taturk laknatullah alahi.

Setelahnya dunia sangat suram, kaum muslimin di berbagai negeri dikejar dan dihabisi tanpa ada yang membela. Junnah yang telah hilang membuat umat Islam menjadi santapan lezat. Menjadi bahan permainan dan buruan yang diperlakukan semaunya. Sungguh nestapa tak terperi melanda dunia akibat penjajahan.

Wilayah kekhilafahan Islam yang meliputi 2/3 duniapun dikerat-kerat dan dibagi-bagi sesuka mereka para penjajah. Tanpa junnah kaum muslimin tak sekedar anak ayam kehilangan induknya. Tapi umat Islam dibantai dan digenosida diberbagai negeri Muslim. Nampaknya Eropa yang sudah ratusan tahun yang lalu menaruh dendam dan menyanyikan nyanyian kebencian pada Islam melampiaskan pada kaum muslimin.

Israel pun turut andil mendapatkan bagian setelah merengek pada Inggris, Palestina menjadi tujuannya. Saudara kita hingga hari ini terus dalam derita tak terperi. Siapa yang akan menolong saudara kita? Siapa? Inggriskah? Peranciskah? Amerikakah? Ataukah para penguasa Muslim? Turki dengan pasukan dan senjata lengkap pesawat tempurnya? Yang tinggal menunggu komando presidennya akan membebaskan dari pembantaian Yahudi? Malaysia? Indonesia, negeri Muslim terbesar di dunia? Tak ada satupun yang dapat menolong dan membebaskan mereka dari pembantaian ini, kecuali seorang khalifah.

Sungguh pujian dalam Hadits di atas mengandung tuntutan kaum muslimin untuk mengadakan Khalifah. Demikian juga tuntutan dalam Al Quran untuk menerapkan hukum secara keseluruhan mengandung makna untuk mengangkat seorang khalifah. Tuntutan untuk taat kepada Allah, Rasulullah dan Ulil amri minkum adalah kewajiban untuk mengadakan khalifah. Sungguh kesedihan, ketidakadilan dan suramnya dunia hanya akan kembali cemerlang dengan khilafah ala minhajin nubuwah. Wallahu a’lam bishawab.[]

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *