19,5% Generasi Milenial : Indonesia Ideal Menuju Khilafah

19,5% Generasi Milenial : Indonesia Ideal Menuju Khilafah

Berdasarkan hasil survei IDN Research Institute dalam chapter Keagamaan ada 19,5% generasi milenial menyatakan Indonesia lebih ideal menjadi Negara Khilafah.

Oleh : Maulana Jati

WWW.POJOKOPINI.COM — Berdasarkan hasil survei IDN Research Institute dalam chapter Keagamaan ada 19,5% generasi milenial menyatakan Indonesia lebih ideal menjadi Negara Khilafah. Survei ini sangat menggembirakan khususnya bagi kalangan pengemban dakwah Islam kaffah dengan penegakkan Khilafah. Hasil survei ini seolah menjadi harapan, jika dilihat dari usaha-usaha menaikkan narasi radikalisasi dan monsterisasi atas konsep Khilafah, dan seolah-olah beberapa generasi milenial tidak terpengaruh dengan narasi tersebut.

Generasi milenial atau generasi Y juga sering disebut juga sebagai generation me atau echo boomers. Penggolongan generasi milenial terbentuk bagi mereka yang lahir pada tahun 1980 – 1990, atau pada awal 2000, dan seterusnya. Jadi bisa dikatakan generasi milenial adalah generasi muda masa kini yang saat ini berusia dikisaran 15-34 tahun. Di Indonesia, jumlah populasi penduduk Indonesia yang berusia antara 15-34 tahun saat ini sangat besar, 34,45% dari total populasi.

Keunikan generasi milenial dibanding generasi-generasi sebelumnya yang mencolok adalah soal penggunaan teknologi berbasis internet. Kehidupan generasi milenial tidak bisa dilepaskan dari teknologi internet ini yang sudah seolah menjadi kebutuhan pokok. Sehingga, kaum milenial wajib memiliki hp dan akun sosial media sebagai alat komunikasi dan pusat informasi.

Ada karakteristik unik manusia-manusia dari generasi ini yang bisa jadi alasan munculnya hasil survei tersebut dan bisa menjadi peluang bagi dakwah untuk terus menjadikan mereka sebagai agen perubahan.

Karena sering membaca informasi yang banyak di dunia maya, membentuk mereka memiliki karakter terhadap ide dan pemikiran yang kritis, otentik, dan terbuka menjadi kesempatan dan peluang para penyeru ide Syariah untuk melakukan kontak ide.

Mereka juga kritis terhadap fenomena sosial yang ada. Generasi milenial menggunakan banyak waktunya untuk bersosialisasi dengan teman lewat smartphonenya sehingga banyak bacaan terkait keadaan sosial disekitarnya. Kemudian mereka lebih aktif untuk beropini di media sosial mengenai berita yang sedang hangat dibicarakan. Oleh karenanya, muncul kemaren dari para milenial ini, pertarungan opini medsos nasional, babak pertama antara ‘kampret’ dan ‘cebong’, kemudian sekarang babak kedua antara ‘kadrun’ dan ‘bacin’ yang berbeda dalam memandang permasalahan sosial.

Karekter yang lain adalah bagi milenial adalah ‘sharing is cool’ artinya suka banget berbagi apapun itu. Tidak melihat apakah itu, kesiapa dan dimana pun para milenial akan suka berbagi. Mereka suka membagikan foto makanan, kegiatan liburan mereka, keadaan lingkungan mereka ataupun berbagi informasi ide apapun. Sehingga ide Syariah dan Khilafah masil relevan dikembangkan ditengah-tengah mereka.

Inilah peluang kita, dan survei cukup membuktikan bahwa dakwah di dunia maya, dakwah kepada para milenial memberikan harapan. Namun kopi darat tetap menjadi bagian penting.

Masa depan akan menjadi masa depan Islam, sehingga perlu terus mengumandangkan syiar-syiarnya di mana pun di dunia nyata dan dunia maya, kemudian kata Khilafah menjadi tidak asing ditengah masyarakat sehingga akan menjadi kesadaran umum dan menjadi pergerakan bersama sampai Khilafah kembali tegak di tengah-tengah kaum muslimin.

Hayu… Generasi milenial songsong dakwah ini jadikan kalian bagian dari dakwah ini dan bagian orang yang siap menegakkan Khilafah yang menjadi bagian solusi permasalahan manusia, dan jadilah kali saudara-saudara Rasulullah saw yang dirindukan keberadaannya. Rasulullah saw bersabda :

وَدِدْتُ أَنِّي قَدْ رَأَيْتُ إِخْوَانَنَا . قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ ! أَلَسْنَا إِخْوَانَكَ ؟
قَالَ : بَلْ أَنْتُمْ أَصْحَابِي ، وَإِخْوَانِي الَّذِينَ لَمْ يَأْتُوا بَعْدُ ، وَأَنَا فَرَطُهُمْ عَلَى الْحَوْضِ

“‘Aku ingin sekali berjumpa saudara-saudaraku.’ Mereka (para sahabat) berkata, ‘Wahai Rasulullah, bukankah kami saudaramu?’ Beliau bersabda, ‘Kalau kalian adalah para sahabatku. Saudara-saudaraku adalah mereka (orang-orang beriman) yang belum ada sekarang ini dan aku akan mendahului mereka di telaga.’” (HR. Muslim). []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *