Memutus Mata Rantai Seks Bebas, Bisakah?

Agaknya kita mulai memaklumi kehancuran masa depan bangsa selama kita membiarkan kondisi generasi terus digerogoti racun seks bebas berbuah petaka mewabahnya penyakit menular yang pada akhirnya mengancam peradaban manusia.

Oleh: Cut Putri Cory (*)

Pojokopini.com — Sepanjang 2019, tren angka penderita Infeksi Menular Seksual (IMS) pada kota Bekasi mengalami peningkatan. Dalam empat bulan tersisa pada kalender 2019, sejumlah 696 kasus dikhawatirkan akan terus bertambah bahkan menyalip kasus IMS di 2018.(Tirto.com, 28/8/2019)

Kabid Pengendalian dan Pencegahan Penyakit pada Dinas Kesehatan Kota Bekasi, Dezy Syukrawati mengungkap bahwa faktor kemajemukan masyarakat turut berpengaruh terhadap perilaku dan gaya hidup sehingga mereka dengan bebas melakukan tindakan apapun. Seks bebas berakibat memunculkan sejumlah penyakit, namun yang paling sering adalah klamidia, yakni penyakit menular seksual yang berasal dari bakteri chlamydia trachomatis. Penyakit ini menular melalui hubungan seksual maupun diturunkan oleh ibu kepada bayinya. Meski penyakit menular seksual ini bisa disembuhkan, namun penderitanya rentan tertular HIV/AIDS. (Antaranews.com, 27/8/2019)

Pihaknya tengah mendorong program Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk melakukan pemeriksaan kepada kelompok berisiko tinggi penyakit tersebut. Yakni, wanita pekerja seksual, Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) atau penyuka sesama jenis dan kalangan ibu hamil.(Sindonews.com, 27/8/2019)

Pengelola Program HIV, Dinas Kesehatan Kota Bekasi, Dadang Otrismo mengatakan, perilaku seks bebas mendominasi penyebaran HIV/AIDS saat ini. Sebelumnya, penyebaran lebih didominasi dengan pemakaian jarum suntik narkoba. Trendnya berubah saat ini, lebih ke seks bebas di kalangan masyarakat. Rata-rata usia penderita orang dengan HIV/AIDS (Odha) sangat beragam. Namun, paling besar didominasi dari kalangan produktif, mulai dari usia 17 tahun sampai 47 tahun.(Okezone.com, 25/6/2019).

Usia produktif adalah masa keemasan generasi muda yang sepatutnya diisi berbagai aktivitas keilmuan, namun inilah potret generasi penerus bangsa yang membuat kita mengernyitkan dahi, di ambang kehancuran, padahal masa depan bangsa ada pada pundak mereka. Agaknya kita mulai memaklumi kehancuran masa depan bangsa selama kita membiarkan kondisi generasi terus digerogoti racun seks bebas berbuah petaka mewabahnya penyakit menular yang pada akhirnya mengancam peradaban manusia.

Perilaku serba boleh memang paling dilirik dengan dalih bebas berekspresi dan berperilaku, inilah substansi dari iklim permisif yang menjadi buah dari paham liberalisme. Kebebasan ibarat primadona yang menjadi impian remaja. Sebaliknya, mereka ‘dikondisikan’ seolah dipenjara dalam aturan demi aturan yang dipersepsikan sebagai pengekangan terhadap kreativitas, ekspresi, dan pergaulan.

Padahal sejatinya kebebasan yang dipersepsikan dalam pandangan liberalisme justru mendorong generasi ke jurang kehancuran, memenjara mereka dalam kegelapan yang sulit untuk mereka hindari, pun mengerdilkan potensi besar yang dimiliki remaja dalam upaya membangun peradaban. Liberalisme menghilangkan kemuliaan remaja dengan jargon kebebasan palsu yang menghipnotis remaja, membuat mereka tertipu dan terpikat kebebasan yang kebablasan. Itulah faktanya, mulai dari pergaulan bebas sampai seks bebas yang dianggap sepele dalam budaya permisif, masyarakat dibuat menerima dengan pasrah pemahaman bahwa remaja maksiat itu biasa. Padahal justru peremehan itulah indikasi virus liberalisme menjangkiti masyarakat.

Sekularisme Memproduksi Perilaku Seks Bebas

Liberalisme tak muncul begitu saja, paham kebebasan ini diizinkan merasuk ke dalam benak generasi melalui penerapan sistem sekularisme yang memisah agama dan kehidupan. Sekularisme mengamputasi peran aturan Islam dalam mengatur kehidupan manusia, padahal sejatinya Allah mengatur manusia untuk memerdekakannya dari kehinaan yang saat ini terang terlihat mata.

Dalam sistem kehidupan sekuler liberal saat ini, kebebasan berperilaku begitu diagung-agungkan, hal itu tersebab kebebasan berperilaku merupakan satu pilar dari empat pilar kebebasan dalam demokrasi. Alhasil negara pun kehilangan nyali mengatur warga negaranya karena momok demokrasi yang mengharuskan untuk mengakomodir semua kepentingan dan kelompok, termasuk kelompok para kapitalis dan liberalis. Akibatnya, benar dan salah menjadi kabur, halal-haram tak dapat jelas dibedakan. Sistem seperti ini pun telah menyeret ‘orang baik’ untuk berbuat maksiat dan pelaku maksiat semakin kuat.

Pergaulan bebas diperparah melalu akses liberalisasi media, tindakan gaul bebas sebenarnya tak bisa dilepaskan dari banyaknya rangsangan seksual yang diproduksi oleh media. Sebab, sebagai manifestasi dari naluri manusia, kecenderungan kepada lawan jenis pada umumnya muncul apabila ada rangsangan. Sebaliknya, bila tidak ada rangsangan maka dorongan seksual kepada lawan jenis tidak muncul. Lagi-lagi, banyaknya sarana yang merangsang munculnya naluri seksual memang tak bisa dilepaskan dari sistem sekuler liberal yang saat ini diterapkan. Dengan paradigma ini, maka yang perlu dilakukan tentu bukan saja membentengi individu dengan pemahaman yang benar melalui penanaman nilai-nilai agama saja. Namun, diperlukan pula upaya lain untuk mencegah munculnya rangsangan bagi kecenderungan kepada lawan jenis, dan kesalahan penyalurannya yang tak sesuai dengan tuntunan Islam.

Hal lainnya, abainya penguasa terhadap aspek pencegahan dan sanksi tegas terhadap pelaku seks bebas menambah kelam episode peradaban manusia karena mewabahnya seks bebas. Tak berlebihan jika ada ungkapan bahwa sistem sekuler saat ini memfasilitasi bahkan memproduksi seks bebas, sekaligus melanggengkan semua keburukan yang berasal dari perilaku seks bebas itu seperti infeksi menular seksual (IMS). Sehingga kita harus memahami bahwa kerusakan generasi adalah dampak sistemik yang butuh kekuatan sistemik juga untuk menyelesaikannya.

Hanya Islam Solusinya

Secara umum, mencegah munculnya rangsangan seksual memerlukan upaya dari individu, kontrol masyarakat dan peran negara.  Tiap individu terutama remaja dan kaum muda harus memelihara diri dengan ketakwaan yang mendalam kepada Rabb-nya. Tatkala seorang Muslim telah memiliki sifat takwa, pasti ia akan takut terhadap azab Allah SWT, akan mendambakan surga-Nya, sekaligus sangat ingin meraih keridhaan-Nya. Ketakwaannya itu akan memalingkannya dari perbuatan yang mungkar dan menghalanginya dari kemaksiatan kepada Allah SWT. Hal itu karena ia akan selalu merasa diawasi oleh Allah SWT (QS. Al-Hujurat [49]: 18).

Islam adalah jawaban dari pertanyaan bagaimana memutus mata rantai penyakit infeksi menular seksual, adanya ketakwaan individu di-back-up penerapan aturan Islam akan menghidupkan kembali iklim takwa, sekaligus penerapan sistem sanksi yang tegas terhadap pelaku seks bebas. Islam punya seperangkat aturan itu, karena Islam adalah sistem hidup, sehingga solusi Islam adalah solusi sistemik yang mutlak menjadi solusi ampuh untuk menghapus angka IMS.

Islam secara tegas menganggap bahwa perilaku seks bebas adalah pelanggaran syariat Allah, sehingga kehancuran yang kita lihat hari ini adalah buah dari dicampakkannya Islam sebagai pengatur urusan manusia. Islam menjadikan syariat ghadhul bashar (menundukkan pandangan) bagi laki-laki dan perempuan sebagai satu langkah awal menghindari terpapar virus ‘merah jambu’, pun larangan khalwat dan ikhtilath, plus penerapan seperangkat aturan tegas tentang pemisahan kehidupan khusus dan kehidupan umum yang komprehensif hanya kita temukan di dalam Islam. Artinya, Islam secara pasti sudah punya cara ampuh untuk menjaga manusia dari perilaku seks bebas, ini aspek pencegahan.

Selain itu, Islam punya seperangkat sistem sanksi tegas, kepada mereka yang bandel tetap melakukan kemaksiatan, inilah yang disebut sebagai aspek perbaikan. Pertanyaannya, jika solusi persoalan itu hanya akan kita temukan dalam Islam, kenapa kita tak mengambilnya?

Remaja tak Boleh Kehilangan Daya!

Remaja harus jeli melihat apa sebab maraknya wabah penyakit menular di tengah-tengah masyarakat. Jika hanya satu atau dua orang yang terpapar seks bebas, maka bisa jadi itu kesalahan individu semata. Namun bagaimana jika yang terpapar seks bebas jumlahnya ratusan bahkan ribuan, pun wabahnya meluas ke berbagai wilayah di negeri ini, artinya ada yang salah dalam tata kelola manusianya. Ada yang salah dengan sistemnya. Pemikiran kita harus mampu menjangkau itu sebagai bukti ketaatan kita kepada Allah dalam realisasi perintah untuk peduli terhadap sesama kaum Muslimin.

Pun generasi hari ini harus memiliki daya nalar kritis yang mampu menjangkau pemikiran mendasar terkait akar sebab begitu sulitnya virus liberalisme itu dicegah oleh individu, bahkan negara. Remaja tak boleh berhenti di situ, mereka harus melanjutkan menjawab pertanyaan-pertanyaan substansial terkait solusi praktis dan komprehensif untuk me-nol-kan angka infeksi menular seksual (IMS) ini. Singkatnya, remaja harus punya daya untuk berpikir dan bertanya. Ada apa? Bagaimana solusinya?

Remaja jangan mau dikendalikan oleh pemikiran serba bebas yang sejatinya merupakan bentuk penistaan terhadap tingginya derajat remaja dalam Islam. Kebebasan yang ditawarkan sistem sekuler adalah kebebasan yang menipu, yang terjadi justru remaja terpenjara dalam kemaksiatan dan keterpurukan dalam gelapnya dosa.

Bangkit, jangan kehilangan daya! Kembalilah kepada kemuliaan julukan itu, Khairu Ummah, umat terbaik. Jika kita hanya mulia bersama Islam, maka jangan kita menghinakan diri kita dengan memilih sistem selainnya.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *