Potret Kelalaian Negara dalam Periayahan Umat

Oleh: Hamsia (Komunitas Peduli Umat)

WWW.POJOKOPINI.COM — Miskin, Satu kata yang menyakitkan yang terdengar biasa saja di telinga kita. Satu kata yang menyimpan tangisan, penderitaan, ketidak nyamanan dan penuh harapan. Seperti baru-baru ini, seorang kakek viral karena tinggal dalam goa selama 10 tahun, Kabarin.com

Kakek bernama La Udu (55) itu terpaksa tinggal di goa karena tidak memiliki rumah.Di goa berukuran sempit itu, La Udu menghabiskan sisa hidupnya. Dia tidur di sela-sela batu besar yang sempit yang hanya cukup untuk ukuran tubuh kakek tersebut.Untuk bisa bertahan hidup, kakek sebatang kara ini makan tumbuhan liar di sekitar tempat tinggalnya, seperti tanaman umbi-umbian. Sedangkan untuk minum sang kakek mengambil air di sela-sela batu tidak jauh dari goa tempat tinggalnya.Nyaris tiada ruang untuk bergerak, tapi siapa sangka rongga bukit batu yang menyerupai gua ini menjadi tempat tinggal kakek La Udu selama 10 tahun.

kasus yang menimpa La Udu ini bukan hanya kali ini saja. Banyak cerita tentang para lansia yang tidak punya rumah, tinggal sebatang kara. Belakangan ada nenek di Semarang yang tinggal di rumah yang beralaskan tanah kurang lebih 27 tahun. Nenek tersebut penyandang difabel, sehingga dalam kurun waktu 27 tahun itu, ia tak sekalipun mandi dan memotong rambutnya. Saat dievakuasi, petugas menemukan hewan seperti kecoa, tikus, bangkai hewan yang tersangkut di rambut sang nenek.

Kejadian yang sama juga terjadi di Banyuwagi. Lansia yang usianya sudah 74 tahun tinggal di dalam kandang ayam belakang rumah warga selama 10 tahun karena sudah tidak punya sanak saudara.Dengan kasus kakek La Udu benarkah angka kemiskinan di Sultra telah menurun? Hanya waktu yang bisa menjawab semua itu, karena apa yang menimpa kakek La Udu adalah sepenggal dari derita kemiskinan yang dialami oleh orang-orang yang sangat menderita akan beratnya kehidupan saat ini, dimana segala sesuatunya harus bersifat materi. Patut dihargai apresiasi Wali Kota Baubau, As Tamrin. Setelah viral di media sosial, orang nomor satu di Baubau itu langsung mengunjungi kakek La Udu, dan berjanji akan memberikan tempat tinggal yang layak untuk sang kakek tersebut.

Sesungguhnya apa yang menimpa para lansia disebabkan oleh pemerintah saat ini. Mereka sibuk dengan kekuasaan mereka sehingga pemerintah gagal dalam meriayah rakyatnya. Seharusnya mereka lebih mewaspadai kemiskinan yang dialami oleh rakyatnya, karena dibalik kehidupan mewah mereka masih banyak rakyat yang menderita. Kemiskinan yang harus dipecahkan adalah kemiskinan yang menimpa individu, sehingga yang harus dilakukan adalah menjamin pemenuhan kebutuhan pokoknya serta mendorong mereka untuk memenuhi kebutuhan skunder dan tersiernya, dan jalan untuk mencapainya adalah dengan menciptakan distribusi ekonomi yang adil di tengah-tengah masyarakat. Pada umumnya kemiskinan yang menimpa masyarakat disebabkan oleh kekeliruan sistem. Dalam hal ini peranan negara. Selama orde baru kebijakan ekonomi pemerintah bertumpu pada pertumbuhan ekonomi, bukan pada distribusi ekonomi. Sehingga, meskipun berhasil menciptakan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, pemerintah tetap gagal mengurangi kesenjangan ekonomi, apalagi menciptakan distribusi ekonomi yang adil.

Pada masa sekarang, kebijakan ekonomi pemerintah semakin jauh keberpihakannya pada rakyat. Berbagai subsidi yang sangat dibutuhkan rakyat satu persatu mulai dikurangi, bahkan dicabut. Padahal, harta tersebut adalah harta rakyat. Rakyat berhak mendapatkannya gratis, dan menikmatinya sesuai syariat. Namun, apalah daya inilah potret sistem kapitalisme yang menyandarkan seluruhnya pada aspek manfaat semata. Penguasa tak lagi menjadi pelayan dan pelindung rakyatnya, yang ada hanyalah pembunuh rakyat dengan berbagai kebijakan yang kontra rakyat.

Padahal dalam sistem Islam, pemerintah adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat. Nabi SAW bersabda “Seorang Imam adalah pemelihara dan pengatur urusan (rakyat), dan ia akan diminta pertanggungjawaban terhadap rakyatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).Sungguh ironi setiap seorang pemimpin terpilih sebagai Bupati, walikota, Presiden, ketua DPR dan MPR, mereka beserta para pendukungnya bersuka cita dan mengucapkan selamat.

Padahal, terpilihnya seseorang sebagai pemimpin adalah satu pertaruhan antara neraka dan surga. Mereka akan memikul amanah yang sangat berat, apakah rakyatnya pada derajat yang lebih tinggi ataukah berbuat zalim terhadap rakyat.Berdasarkan hadits Nabi SAW di atas, seharusnya fungsi pemimpin adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat. Ini berarti dalam bidang ekonomi, pemerintah harus mengupayakan kesejahteraan bagi setiap rakyatnya melalui pengaturan distribusi kekayaan yang adil dengan berlandaskan pada hukum syara.

Pertama, pemerintah harus melakukan kebijakan untuk menjamin setiap anggota masyarakat dapat memenuhi kebutuhan pokoknya seperti pakaian, makanan, perumahan, pendidikan, kesehatan dan jaminan keamanan.

Kedua, pemimpin harus meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan mendorong perekonomian mereka. Pemerintah melalui kebijakan ekonomi harus memberikan akses yang seluas-luasnya kepada masyarakat dalam hal pemodalan, sumber daya dan pemasaran.

Ketiga, pemerintah harus tegas dan tanpa kompromi dalam menegakkan hukum, sehingga kewenangan pejabat negara tidak disalahgunakan. Ketegasan ini harus dilandasi oleh keteladanan sang pemimpin, agar para pejabat dan staf di bawahnya serta anggota masyarakat mengikuti jejak dia. Sebagaimana yang dicontohkan Nabi SAW dalam sabdanya: “Sekiranya Fathimah putri Rasulullah mencuri, pasti kupotong tangannya.” Demikianlah ajaran Islam dalam mengatasi kemiskinan ditinjau dari aspek kepedulian sosial, pemanfaatan kepemilikan dan peranan negara. Waalahu A’lam bi ash-Shawaab.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *