India, Takdir Akhir Umat Menuju Musim Semi

Oleh : Aisyah Karim (Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)

WWW.POJOKOPINI.COM — Duta Besar India, Pradeep Kumar Rawat, ngambek tak menemui massa pendemo karena benderanya di bakar. Tindakan itu baginya sangat tidak etis dilakukan karena membuatnya sedih. Pradeep Kumar Rawat mengecam aksi pembakaran tersebut. “Nilai dari Indonesia itu apa sih? Apa sih nilai-nilai buat Indonesia, apakah apabila ada ancaman (yang) tidak sesuai dengan nilai-nilai Indonesia, akan bagaimana sih sikap otoritas keamanan Indonesia, pemerintah di Indonesia?” ujarnya (detik.com 6/3/2020).

Pradeep menampik adanya persekusi maupun diskriminasi terhadap muslim di India. Mendengar pernyataan ini saja sudah cukup memuakkan. Sebagai seorang saudara muslim jauh, darah kami muslim Indonesia mendidih. Pradeep telah berdusta. Jangankan meminta maaf, dia sebagaimana pemerintahannya, menutupi kebrutalannya dengan pernyataan-pernyataan diplomatis yang beracun.

Melansir dari iNews.id pada Kamis 5/3/2020, sisa kehancuran yang dialami muslim terlihat jelas di New Delhi India, saat Komisi Minoritas Delhi mengunjungi perkampungan di Distrik Timur Laut. Masifnya kehancuran menimpa ratusan rumah, toko serta industri kecil milik umat Islam termasuk masjid-masjid. Hasil temuan komisi ini mengungkap bahwa penyerangan dan aksi kekerasan terhadap minoritas muslim berlangsung secara terencana dan masif.

Lebih dari 40 orang dilaporkan meninggal dunia dalam kerusuhan yang melibatkan senjata api, senjata tajam dan benda tumpul serta cairan kimia. India telah menunjukkan permusuhan yang nyata terhadap Islam. Status negara ini bagi seorang muslim dimanapun ia berada adalah kafir harbi fi`lan. Maka hubungan yang ada antara seorang muslim dengan India adalah hubungan perang.

India menjadi titik akhir nestapa umat Islam di abad 21, jeritan memohon pertolongan dari India telah menggerakkan bola salju berputar lebih cepat menggulung lebih banyak dan semakin membesar. Persaudaraan muslim akan menggerakkan hati-hati yang terpisah untuk bersatu. Aksi protes telah meluas di seluruh dunia dari timur ke barat. Untuk Indonesia sendiri aksi protes telah berlangsung berhari-hari.

Para peneliti dari Universitas Sussex Inggris, menemukan fakta bahwa umat Islam saling terikat satu sama lain oleh komunitas bersama, yaitu umat Muslim. Hasil dari penelitian ini menjuluki fenomena ini sebagai perasaan saling berbagi. Hal itu terlihat ketika terdapat serangan di salah satu Masjid di Kota Christchurch New Zealand, dimana ada 51 Muslim yang meninggal dunia sedang menjalani ibadah.

Para peneliti mengatakan, kejadian itu tidak hanya membawa kesedihan kepada sesama Muslim di seluruh dunia, tetapi masyarakat dari seluruh dunia yang juga non-Muslim. Penelitian itu mengatakan, ada perasaan yang saling terhubung dengan Muslim yang belum pernah ditemui, terdapat rasa persatuan yang mendalam dan rasa sakit yang sama.

Seruan India Menjemput Musim Semi

Kebrutalan India akan mempercepat bergantinya era Kapitalisme Sekuler yang sekarat. Setelah sejumlah pembantaian dan ketidakadilan dialami umat Islam di berbagai belahan dunia. Kemesraan Trump dan Modi dalam memerangi Islam didukung diamnya media Barat oleh sebab banyaknya kepentingan antara India bagi AS dan sekutunya. Sikap hipokrit Barat inilah yang kemudian membuat Modi semakin jumawa dan membantah pernyataan OKI yang ia nilai terlalu ikut campur urusan dalam negeri negaranya.

Luka India akan menjadi bom waktu yang menggerakkan lobi-lobi perumusan premis masa depan umat Islam. Masa depan itu sudah didepan mata, Khilafah. Serangan terhadap Islam yang semakin masif sejatinya adalah wujud kepanikan idiologi pesaingnya, Kapitalisme dan Sosialisme. Karen Amstrong menyatakan bahwa Islam dimusuhi banyak pihak, terus-menerus menjadi objek kritik dan stereotip karena Islam merupakan sebuah kekuatan yang besar. Statemen ini diungkapkan oleh Armstrong dalam sebuah sesi wawancara dengan media Spanyol, El Mundo, pada tanggal 21 Februari lalu.

Sementara umat Islam sendiri mendapati fakta sekat-sekat nasionalisme telah menjadi penghalang mereka untuk menolong saudaranya diberbagai belahan dunia. Pertanyaan pongah penjajah, menunjuk hidung kaum muslim dengan retorika, “Umat Islam diserang, kalian bisa apa ?” kata-kata ini membekas di tubuh umat, menarik mereka semakin dekat kepada prediksi National Intelligent Council tentang berdirinya Khilafah di 2020. Prediksi ini semakin nyata ketika berbagai gejolak politik global terakhir ini akan menjadi rangkaian fase kejatuhan kapitalisme.

Berbagai pakar telah merilis prediksi keruntuhan peradaban pembunuh. Jean Ziegler, seorang ilmuwan sosial politik Eropa menulis dalam bukunya The Black Book of Capitalism, menggambarkan kapitalisme ekonomi global sebagai komunitas pembunuh yang akan dilawan dan diruntuhkan oleh masyarakat dunia. Oswald Spengler, ilmuwan Jerman, telah menerbitkan buku berjudul The Decline of the West. Oswald memprediksi dekatnya kematian peradaban Barat setelah larut dalam berbagai peperangan global.

Patrick J. Buchanan, anggota tim penasehat utama pemerintahan Amerika, mengungkap dalam bukunya The Death of The West: How Dying Populations and Immigrant Invasions Imperil Our Culture and Civilization. Menurutnya peradaban Barat saat ini sedang sekarat dan akan segera runtuh. Hal ini ditandai dengan terjadinya berbagai kemerosotan ekonomi, sosial dan politik di Eropa dan Amerika.

India adalah puncak kepekatan malam sebagaimana Palestina, Syria, maupun Xinjiang. Ketika kegelapan semakin merajainya, maka ini adalah peringatan bahwa fajar akan segera terbit. Musim semi akan segera tiba dan umat Islam akan kembali kepada entitasnya. Umat ini akan kembali memiliki junnah. Kedamian dan keadilan tak lagi menjadi romantika masa lalu.

Khilafah akan mengembalikan kemuliaan Al-Quds, membebaskan negeri-negeri dan memberikan ketentraman dan jaminan kesejahteraan. Peradaban ini akan kembali terbentang dari samudera ke samudera. Menaungi berbagai bangsa dan ras yang berbeda satu dengan yang lain dalam satu naungan yaitu Khilafah Rasyidah.[]

Satu tanggapan untuk “India, Takdir Akhir Umat Menuju Musim Semi

  • Maret 9, 2020 pada 9:56 pm
    Permalink

    Hanya dengan tegaknya Daulah Khilafah Islamiyyah lah yang mampu menyelesaikan dan menyelamatkan negeri-negeri muslim yang terjajah.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *