Corona Meradang, Pemerintah Masih Mempertimbangkan

Oleh : Rajni Fadillah, S. Pd (lingkar studi perempuan dan peradaban)

WWW.POJOKOPINI.COM — Polemik covid-19 atau corona virus di seluruh dunia belum berakhir pada penyelesaiaan tuntas. Penyebaran virus ini terus terjadi dan semakin meningkat. Indonesia juga salah satu Negara yang sudah terindifikasi terkena wabah corona ini. Hal ini dilatarbelakangi oleh beberapa factor salah satu nya tidak sigap nya Negara dalam menangani wabah ini. Lemah nya politik dalam negeri dalam menjaga keamanan dan ketahanan Negara. Hal ini dibuktikan bahwa kunjungan turis China je RI naik 1,46% di tengah serbuan corona (detikfinance.2/3/20).

Korban yang terinfeksi virus corona sudah mencapai 162.687 orang, 75.620 dinyatakan sudah sembuh dan 6.065 kasus kematian di sebanyak 141 negara didunia. Di Indonesia sendiri ada sekitar 134 orang terinfeksi, 8 sembuh, dan 5 orang meninggal. Melihat jumlah wabah ini semakin menyebar dan bertambah, warga panik dan terus mendesak pemerintah agar segera mengambil keputusan tegas untuk menghentikan penyebaran dan penyembuhan bagi yang sudah terinfeksi.

Salah satu anggota DPR RI menyatakan “Saya mengimbau, mendorong, dan mendukung pemerintah untuk wajib melakukan lockdown secara nasional segera mungkin, yang mana lockdown dapat dimulai di tiga pintu gerbang utama Indonesia,” kata Putu lewat pesannya kepada CNNIndonesia.com, Minggu (15/3).

Merespon keinginan masyarakat tersebut presiden Jokowi kembali menyatakan pemerintah hingga saat ini belum berpikir untuk menerapkan kebijakan lockdown atau membatasi akses keluar-masuk di wilayah tertentu, demi mencegah penyebaran virus corona (Covid-19). “Sampai saat ini tidak ada kita berpikiran ke arah kebijakan lockdown,” kata Jokowi saat konferensi pers di Istana Bogor, Senin (CNN Indonesia . 16/3/20).
Ia berpendapat saat ini yang paling penting dilakukan dalam mencegah penyebaran virus corona adalah mengurangi mobilitas masyarakat dari satu tempat ke tempat lain.

Presiden Jokowi mengimbau agar masyarakat tidak berkumpul atau mendatangi kerumunan. Menurutnya, kegiatan belajar di rumah, serta kebijakan bekerja maupun beribadah di rumah perlu terus digencarkan untuk mengurangi tingkat penyebaran Covid-19. “Jaga jarak dan mengurangi kerumunan orang yang membawa risiko lebih besar pada penyebaran Covid-19,” ujar Jokowi.

Menyikapi respon dari pemerintah yang demikian, kebijakan lockdown memang akan berdampak besar pada ekonomi Negara. Aktivitas akan terkunci, ekonomi bisa berhenti, hal ini akan mempengaruhi pada kebijakan publik yang selama ini sudah dicanangkan oleh pemerintah. Sebalik nya pemerintah hanya mengarahkan agar menghindari keramaian, instansi pendidikan di berhentikan sementara, serta sholat dirumah. Sikap pemerintah yang demikian itu menunjukkan tidak serius nya pemerintah dalam menyelesaikan wabah corona yang melanda negeri ini.

Seandainya pemerintah mengambil langkah untuk lockdown maka ini adalah langkah yang sangat tepat, bahkan hal ini yang pernah di contohkan oleh kepemimpinan Islam saat mengalami wabah tha’un dimasa nya. Kemudian terus lakukan ikhtiar dan tawakkal kepada Allah semaksimal mungkin agar terhindar dari wabah ini. Sebab, pintu terbesar penyebaran virus ini adalah terbuka nya jalur keluar masuk antar Negara. Maka tak cukup hanya menghentikan virus yang sudah berkembang didalam negeri namun tetap membuka pintu masuk bagi virus coronan dengan tanpa melakukan lockdown. Tapi kedua hal ini harus terus dilakukan bersamaan, di tambah ada nya himbawan dan edukasi Negara bagi masyarakat bagaimana cara menghindari virus ini, serta menyedikan melayanan medis yang mumpuni. Berhenti melihat untung rugi, sebab nyawa rakyat dan keamanan mereka lebih utama.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *