Indonesia Lockdown Indonesia Shutdown?

Oleh : Nopherlian Erika Syarif

WWW.POJOKOPINI.COM — Warung kopi sudah mulai sepi, jalan-jalan lenggang. Barang yang paling dicari, yang paling banyak dibeli, barang-barang pokok, multivitamin, sanitizer, barang yang berkaitan dengan ‘jaminan’ keberlangsungan hidup. Denyut ekonomi mulai melambat terutama pada sektor dagang dan produksi barang-barang sekunder dan tersier. Keterbatasan interaksi dengan anjuran #dirumaaja membuat sektor jasa juga lumpuh.

Serapan pasar yang rendah memaksa perusahaan mengurangi produksi. Kurangnya produksi berimplikasi pada tidak terserapnya bahan baku secara maksimal, pada sektor hulu para pemasok bahan baku juga mengalami imbas dari berkurangnya produksi. Bukan cuma itu para pengusaha (perusahaan) juga berhati-hati dalam pengeluaran keuangan. Ditengah situasi pasar yang tidak pasti, langkah paling safe adalah meng-keep keuangan mereka untuk cadangan operasional. Kalau situasi sekarang masih terus berlanjut sangat logis pengusaha/perusahaan melakukan efisiensi menekan cost operasional, memotong gaji karyawan bahkan merumahkan sebagian karyawan.

Covid 19 secara exponensial menyebar cukup cepat, namun ada yang lebih cepat berkali lipat penyebarannya yakni rasa takut, karena simpang siurnya informasi dan ketidakpastian. Rasa takut itu secara naluriah mengeluarkan respon berupa kepanikan.

Industri Keuangan Diambang Kehancuran?

Melambatnya ekonomi sudah pasti menjadi ‘cobaan’ hebat bagi industri keuangan. Nasabah yang dulunya sehat bisa berubah jadi bad debt, bahkan bisa gagal bayar karena bangkrut. NPL (Non Performing Loan) pasti meningkat, jika meningkat maka otomatis pendapatan bank menurun, dana dari dari kreditur tidak bisa ditarik, sementara ada cost of fund yang harus dibayar Bank pada pihak ketiga baik itu masyarakat atau lembaga debitur lainnya. Lebih mengkhawatirkan lagi, Fund rising juga bakalan menurun uang yang ada dipasar sulit ditarik kembali ke Bank, sekalipun dengan mengimingi menaikkan suku bunga. Karena pada situasi begini orang gak butuh bunga, orang butuh uang ‘pegangan’ selamat. Jaga-jaga.

Jika situasi ini terus memburuk sementara tidak ada tanda-tanda kesigapan dari pemerintah dalam menangani situasi ini maka bukan tidak mungkin menimbulkan kepanikan yang luar biasa dimasyarakat. Pertama, panic buying orang-orang akan membeli segala hal yang dibutuhkannya untuk ‘menjamin’ agar mereka tetap hidup. Panic buying ini akan memicu panic bank (rush money), orang-orang akan menarik uang secara besar-besaran di bank untuk mengkonversi uang tersebut menjadi barang-barang kebutuhan.

Pertanyaannya seberapa besar kekuatan kapital bank menanggung beban likuditas yang ada (Capital Adequacy Ratio/CAR). Kalau ada Bank yang collaps/likuidasi seberapa besar BI mempunyai cadangan liquiitas untuk mengamankan situasi ini biar tidak berdampak sistemik.

Bagaimana kalau indonesia lockdown,apa APBN kita cukup kuat untuk menangani ini semua?

Pondasi Kapitalisme berbasis ribawi itu memang rapuh, karena dia tidak bertopang pada sektor real. Apakah kapitalisme diambang kehancuran?.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *