Indonesia Menghitung Kematian

Oleh : Jartika (aktivis dakwah kampus)

WWW.POJOKOPINI.COM — Sejak dari hari senin bertepatan pada tanggal 19 maret 2020, Indonesia di landa dengan wabah atau virus yang mematikan yaitu virus corona. Walaupun covid-19 telah ada sejak akhir desember 2019 pertama kalinya di Wuhan China. Setelah beberapa negara sebelumnya telah melewati masa-masa genting, kini Indonesia berada dalam keterpurukan dan kekhawatiran yang mendalam akibat cepatnya virus korona ini menyebar. Sebenarnya sebelum Indonesia mengalami kematian dan korban covid-19 yang begitu banyak, terlebih dulu pemerintah telah mengetahui bahwa Indonesia telah dinyatakan sebagai salah satu negara yang sudah di masuk wabah mematikan ini.

Namun alih-alih untuk antisipasi pada rakyat, pemerintah malah menyembunyikan informasi tentang covid-19. Di samping itu mereka abai terhadap coronavirus sebagaimana sikap dan komentar para pejabat negara seperti Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, menyatakan bahwa covid-19 tak lebih berbahaya dari flu biasa. Dan wakil presiden RI Ma’ruf Amin juga berkomentar bahwa covid-19 tidak akan mungkin berani masuk Indonesia berkat istiqasah dan doa ulama.
Sikap abai inilah yang membuat semuanya diam dan tidak mengambil kebijakan apa-apa. Malah WNA bebas keluar masuk Indonesia yang ditakutkan membawa coronavirus. Namun nyatanya, hari ini tidak bisa berkutik terhadap fakta yang nyata di depan mata.

Dari semenjak hari senin itu, puluhan orang setiap harinya berjatuhan. Sampai hari ini seperti yang dilansir dari Jakarta, CNN Indonesia — Jumlah pasien positif terinfeksi virus corona (Covid-19) kembali bertambah pada Sabtu (21/3). Kini telah ada 450 orang yang dinyatakan posirif terjangkit virus tersebut, 38 meninggal dunia dan 20 sembuh.

Jumlah ini telah membuat kekhawatiran mendalam bagi kebanyakan masyarakat apalagi bagi mereka yang telah melihat secara langsung kematian akibat covid.Bahkan setiap harinya ada puluhan orang yang meninggal dunia, belum lagi yang hanya terinfeksi covid.

Kini hanya sebatas menghitung kematian yang melanda warga Indonesia dan kekesalan terhadap pemimpin yang abai. Sekiranya terlebih dahulu melakukan antisipasi penyebaran corona virus mungkin kematian tak secepat ini.
Ketidak perdulian ini tidak hanya datang dari pemerintah Indonesia,tapi pusat informasi kesehatan tidak bisa di andalkan. Yaitu WHO (Word Health Organization) berpusat di Amerika Serikat yang memiliki otoritas terhadap persoalan kesehatan dunia, mereka lambat meriset tentang karakteristik coronavirus padahal kecanggihan teknologi sangat mumpuni. Nyatalah bahwa prioritas AS sebagai negara peluncur paham kapitalisme tidak pada prioritas rakyat tapi hanya sebatas pencari keuntungan materi.

Kesalahan-kesalahan senantiasa hadir dalam negeri ini karena kesalahan yang sudah mengakar dan terstruktur akibat sistem yang berkuasa hari ini.

Tidak tau mau melangkah kekanan atau kekiri, semua jadi serba salah. Hingga lockdown atau tidakpun menjadi kebingungan pemerintah. Pasalnya di tengah Indonesia di landa musibah besar tentang coronavirus,Indinesia juga harus mengalami kepedihan karna Nilai tukar rupiah melemah ke Rp15.962 per dolar AS atau sebesar 0,31 persen pada perdagangan pasar spot, Jumat (20/3) pagi (CNN_Indonesia).Tapi sayangnya kematian yang meraja lela tidak memperdulikan pemerintah sedang bingung atau tidak. Intinya harus ada kebijakan dan gerak cepat dalam menghentikan coronavirus.

Melunjaknya nilai tukar dolar mengakibatkan Indonesia harus menaikkan harga barang ditengah masyarakat yang kesulitan untuk mendapatkan mata pencarian karena harus di karantina, semakin membuat masyarakat menderita sederitanya.

Lagi-lagi kesalahan kenapa harus mengikat diri pada Amerika Serikat. Disampinh itu, Pendapatan negara yang tidak maksimal karena hanya mengharap pajak dari rakyat, sedangkan seluruh sumber daya alam harus di miliki oleh aseng.

Semakin lengkap sudahlah penderitaan rakyat. Padahal harusnya pemerintah bisa memberikan jaminan pada rakyat di tengah mereka dalam masa karantina. Yaitu berupa pengobatan berkualitas yang gratis, kelengkapan kebutuhan pokok, dan makanan yang bergizi kepada semua rakyat Indonesia. Semua ini sangat mudah bagi pemerintah, namun tidak akan mudah jika rakyat bukan prioritas adanya pemimpin negara.

Sebagaimana para pemimpin dalam sistem Islam, senantiasa menggerakkan segala tenaga untuk kesejahteraan rakyat. Biaya hidup, kesehatan, keamanan, dan pendidikan di jamin baik dalam musibah ataupun tidak dalam musibah. Ketika rakyat sudah terpenuhi kebutuhan primer dan sekunder, edukasi ketakwaan dan sanksi yang tegas tanpa pandang bulu bagi pelaku kejahatan. Aturan semua di jalankan sesuai dengan perintah sang khaliq bukan dari kejeniusan otak manusia yang terbatas sehingga tidak ada kebijakan yang keliru. Aturan inipun berdampak pada tertatanya masyarakat yang penuh dengan ketentraman.

Walaupun musibah senantiasa datang karena merupakan Qadha dari Allah, seperti coronavirus. Namun antisipasi sebelumnya telah lengkap untuk menghadapi segala musibah. Karena Islam menyakini usaha merupakan ikhtiyar terbesar dan harus melakukan ikhtiyar yang maksimal. Disamping senantiasa berdoa dan bersabar. Sehingga apapun yang akan terjadi hanya mengharap pertolongan Allah semata Wallahu’alam.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *