Menjaga Aceh dan Membumikan Syariah

Oleh: Rajni Fadillah, S. Pd (Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)

WWW.POJOKOPINI.COM — Aceh adalah daerah yang sungguh Istimewa baik dilihat dari sisi historis, cultur, letak geografis maupun geopolitik nya. Melihat Bagaimana sejarah Aceh, Siapapun yang mempelajari Sejahtera pasti mendapati bahwa Aceh memiliki Kehidupan gemilang dan menjadi titik penyebaran Islam di nusantara. Aceh memiliki hubungan yang sangat erat dengan Turki dikala itu. Hubungan ini bukan hanya sekedar hubungan dagang namun hubungi politik. Dimana Aceh menjadi bagian dari wilayah kekuasan Turki Utsmaniyyah yang dikenal dengan sebutan Turki Ottoman.

Hal ini dibuktikan dengan Ada nya surat yang dikirim oleh Sultan Ibrahim Aceh kepada Sultan abdulmajid I mengatakan bahwa” sesungguhnya kami seluruh rakyat negeri Aceh, bahkan seluruh penduduk Sumatera tergolong kedalam rakyat Daulah ‘Aliyah (Adidaya) Utsmaniyyah dari generasi ke generasi.” Hubungan resmi antara kesultanan Aceh dengan Khilafah Utsmaniyyah pertama kali terjalin dimasa selim II, sedang Sultan Aceh yang menyatakan ketundukan kepada kepada Selim II sebagai Khalifah adalah Sultan Alauddin Ri’ayat Syah al-Qahhar.
Mulai saat itulah hubungi Aceh dengan Turki Utsmaniy terhubung begitu erat sebab menyatukan diri dengan Khilafah sebagai pusat pemerintah Islam. Pada masa Sultan Abdul Hamid II Aceh kembali mengirimin surat kepada Turki Utsmaniyyah agar dibebaskan dari Penjajahan Belanda dan dihalang-halangi untuk melaksanakan ibadah haji. Mendengar hal itu Khalifah sultan Abdul Hamid II langsung memberikan peringatan tegak kepada pihak Belanda, Sehingga belanda tunduk dan membuka jalur haji yang sudah diblokade. Bahkan Aceh diberikan gelar serambi Mekah dan diizinkan mengibarkan bendera Turki, hal ini sebagai pujian khilafah Turki Utsmani atas ketundukan Aceh. Ini membuktikan bahwa jelas hubungan Aceh dan Turki Utsmaniyyah adalah hubungan politik antara negara dengan Rakyat nya.

Dilihat dari sisi cultur budaya maka sangat jelas budaya Aceh lahir dari penerapan Syariat Islam di Aceh yang menjadi salah satu wilayah pemerintah Islam yang berpusat di Turki. “Meugang” yaitu memotong lembu untuk dimasak dan disajikan dalam rangka menyambut Ramadha, Idul Fitri dan Idul Adha sebagai hari besar Islam. adat Istiadat ini lahir dari kebijakan sultan Aceh yang memberikan daging gratis bagi Rakyat nya Sehingga seluruh keluarga berkumpul bersama menikmati masakan mewah untuk menyambut bulan penuh berkah dan hari besar Islam. Hingga hari ini budaya “meugang” masih dilakukan oleh masyarakat Aceh.

Daerah Aceh juga disebut sebagai zamrut khatulistiwa dimana Aceh punya letak grafis yang begitu bagus dan strategis. Aceh memiliki gunung, bukit, hutan, daratan dan lautan yang mengandung kekayaan Alam yang melimpah, bahkan Gas Aceh yang terletak di Kota Lhokseumawe sangat melimpah ruah, Sehingga para ahli memperhitungkan setiap distribusi gas dalam satu hari maka Aceh mampu membuat jalan di seluruh daerah Aceh yang begitu luas dengan Bahan Emas, bahkan Lhokseumawe dijuluki sebagai negeri petro Dolar. Maa syaa Allah, sungguh luar biasa. Belum lagi kekayaan rempah, emas, ikan, bahkan beberapa tahun ini telah ditemukan sumber Minyak bumi di daerah Aceh Timur yang sangat besar jumlah nya. Aceh benar-benar memiliki SDA yang sangat unggul.

Jika dilihat dari sisi geopolitik, maka Aceh juga terletak pada pada jalur perdagang dunia, khusus nya kota sabang terdapat zona ekonomi bebas (Free Trade Zone) dimana memungkinkan terjadi pasar gelap dan transaksi terlarang. Wilayah transaksi berbatasan langsung dengan negara tetangga yaitu Malaysia, Thailand, dan India. Wilayah Kota Sabang dikelilingi oleh Selat Malaka di Utara, Samudera Hindia di Selatan, Selat Malaka di Timur dan Samudera Hindia di Barat.

Kini Nanggroe Aceh Darussalam bukan lagi menjadi integral dari wilayah Turki sejak kekhilafahan Utsmaniyyah runtuh. Namun Aceh tetap berusaha untuk mengembalikan kekhilafahan dengan mengirim delegasi untuk melakukan Muktamar Khilafah. Dalam negara bangsa hari ini Aceh memiliki hak Istimewa berupa hak otonomi daerah. Dimana Aceh menjadikan otonomi daerah tersebut untuk menerapkan syariat Islam melalui qanun dan perda-perda syariah. Syu’ur Islam masyarakat Aceh hingga hari ini masih sangat tinggi dibuktikan banyak nya dayah-dayah atau disebut dengan pesantren di daerah Aceh sebagai bentuk Rindu nya umat terhadap pemahaman Agama dan syariat.

Namun, meskipun Aceh memiliki hak otonomi daerah. Nyatanya Aceh kesulitan dalam menerapkan syariat Islam. Hal ini disebab kan karena pemerintah pusat tidak menjadikan syari’at Islam sebagai aturan negara. Qanun dan perda syariah di Aceh pun harus di Sesuai kan oleh kebijakan pusat bahkan banyak dari qanun dan perda syariah yang tidak bisa direalisasikan Karena bertolak belakang dengan sistem politik Demokrasi kapitalis yang diadopsi dan diterapkan oleh negara. Kemudian Aceh juga menjadi sasaran Sekulerisme dan liberalisme untuk memudahkan terjadinya kerjasama dalam rangka menjalankan ekonomi kapitalis dalam meraup keuntungan sebesar-besarnya.

Pelanggaran hukum syara’, kejahatan dan tindak kriminal pun kerap terjadi di Aceh, bahkan Aceh terkenal sebagai daerah transaksi sabu serta impor ganja terbesar. SDA yang melimpah ruah yang terkandung dibumi Aceh pun kini tak lagi mampu mensejahterakan rakyat sebagian dulu Aceh pernah berjaya. Sebuah ironi di negeri serambi Mekah. Melihat fakta yang berbanding terbalik ini maka ada beberapa poin yang bisa dikritisi:

Pertama, Aceh tak mampu menerapkan syariat Islam secara menyeluruh disebabkan Aceh bukan lagi menjadi bagian dari kekhilafahan yang menjadikan Islam sebagai Aturan bernegara. Kini Aceh menjadi bagian dari wilayah Nusantara atau negara Indonesia yang menerapkan Sistem Demokrasi sekuler kapitalis yang memisahkan antara Agama dan aturan bernegara. Artinya Agama hanya mengatur urusan ibadah individu , Agama tidak boleh ikut campur dalam aturan bernegara. Seluruh aturan kehidupan dikembalikan kepada Aturan buatan manusia. Maka mustahil menerapkan hukum Allah dalam Kehidupan bernegara dibawah sistem Demokrasi sekuler kapitalis.

Kedua, sistem demokrasi menerapkan sistem ekonomi kapitalis dalam perekonomian negara. Sedang asas dari kapitalis adalah keuntungan yang sebesar-besarnya. Maka segala cara akan ditempuh untuk mendapat kan keuntungan Walaupun melanggar syariat dan menyengsarakan rakyat. SDA Aceh yang melimpah ruah pun akhirnya dijadikan bahan eksploitasi dan dijarah oleh para kapital (pemilik modal) yang dijamin kebebasan nya oleh negara. Sehingga Aceh tidak bisa mengelola SDA yang dimiliki itu menjadi salah satu sebab Rakyat Aceh jauh dari kesejahteraan.

Ketiga, kebebasan yang dijamin oleh negara pusat terhadap seluruh daerah termasuk Aceh Inilah yang menyebabkan besarnya angka kejahatan, kriminal dan pelanggaran lain nya sebab kebebasan yang dijamin oleh negara adalah kebebasan yang batil dan bertentangan dengan syariat Islam. Maka Aceh pun akhirnya sulit dalam menuntaskan kejahatan dan tindak kriminal. Disatu sisi Aceh memiliki qanun dan perda syariah dimana ada sanki bagi yang melanggar. Namun disisi yang lain ada aturan negara yang bertolak belakang dengan aturan dalam qanun dan perda syariah. Upaya Aceh untuk menerapkan dan membumikan syariah pun akhirnya pupus Karena sistem politik negara yang berbanding terbalik dan jauh dari Syu’ur keislaman. Dalam Islam seluruh SDA akan dikelola Sesuai syariat Islam dan akan difungsikan untuk memenuhi hajat hidup rakyat. Sedang geopolitik dan letak geografis akan difungsikan sebagai sarana atau uslub menjaga keamanan negara dari serangan dan penyebaran Islam keseluruh penjuru dunia.

Selama sistem politik yang mengatur suatu negara tidak memakai syariat Allah, maka selama itu juga Negara tersebut mengalami kerusakan dan kemerosotan. Maka cara menjaga Aceh dan mampu membumikan syariah sebagaima dulu Aceh pernah berjaya Karena penerapan syariah nya adalah dengan menegakkan kembali pemerintah Islam yang menjadi kan syari’at Islam sebagai aturan negara dan menjamin keberlangsungan nya. Ini lah yang disebut dengan Khilafah ,yaitu kepemimpinan umum umat Islam yang dengan nya lah seluruh kaum muslimin mampu membumikan syariah tidak hanya di Aceh namun seluruh pelosok negeri. Sebagaimana kekhilafahan Islam 14 abad lalu mampu menguasai 2/3 dunia dengan Aturan islam Sehingga mampu melindungi dan mensejahterakan rakyatnya.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *