Kerusakan Lingkungan Buah dari Penerapan Sistem Sekuler

Padahal Islam adalah agama komprehensif ketika aturannya diterapkan secara kaffah maka akan menjadi solusi seluruh permasalahan kehidupan, tak terkecuali problem pencemaran lingkungan.


Oleh: Sriyanti (Ibu Rumah Tangga)

POJOKOPINI.COM — Kemajuan teknologi semakin meningkat, beragam industri pun kian menjamur. Selain menghasilkan berbagai macam produk, industri juga menyisakan apa yang disebut limbah. Apabila limbah industri ini dibuang sembarangan, apalagi tanpa adanya proses pengolahan terlebih dahulu, maka akan berdampak buruk bagi lingkungan hingga menjadi masalah dalam masyarakat.

Sebagaimana yang terjadi di anak sungai Cikeruh, pada selasa (17/3/2020) Satgas Citarum Harum Sektor 21, melalui Subsektor 02 Cileunyi menemukan pabrik yang membuang limbahnya ke sungai tersebut. Hal ini kemudian dilaporkan kepada Dansektor 21, Inf. Yusuf Sudrajat. Saat itu pula beliau memerintahkan untuk menutup saluran penbuangan limbahnya. Berdasarkan Penelusuran Satgas limbah tersebut berasal dari PT Celebit Circuit Teknologi (CCT) yang berlokasi di Rancaekek Kabupaten Bandung. (Patrolicyber.com, 19/03/2020)

Pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh limbah industri memang sudah tidak asing lagi. Bukan hanya di wilayah Jawa Barat saja. Namun ini terjadi di seluruh nusantara, terutama yang berdekatan dengan wilayah industri.

Banyaknya perusahaan yang tidak bertanggung jawab terkait dengan pengolahan limbah dan sampai membuangnya ke sungai menjadi bukti lalainya penguasa dalam menangani problem tersebut, sehingga kejadian ini terus berulang. Hal ini dikarenakan tidak adanya ketegasan dalam pemberian sanksi kepada perusahaan pembuang limbah dan itu menunjukkan pengawasan serta penegakkan hukumnya lemah.

Memang bukan suatu hal yang aneh jika hukum yang diterapkan di negeri ini lemah. Mengapa demikian karena hukum tersebut dibuat oleh penguasa yang disesuaikan dengan pesanan para pemilik kepentingan, terutama kaum kapitalis demi kelancaran usahanya.

Begitulah watak hukum dalam sistem kapitalis, tumpul ke atas tajam ke bawah. Dalam artian lemah pada para pemilik modal tetapi sangat tegas pada masyarakat biasa. Buktinya kita pernah melihat pemberitaan di media, ketika seorang nenek mencuri kayu bakar demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Dia diberikan sanksi yang luar biasa tegas. Lain halnya dengan apa yang terjadi pada para koruptor yang merampok triliunan rupiah uang rakyat negeri ini.

Padahal pencemaran tersebut tidak hanya mempunyai dampak yang buruk bagi lingkungan saja tetapi juga akan mempengaruhi kesehatan masyarakat sekitarnya. Kualitas lingkungan akan menurun di antaranya, sungai yang tercemar airnya akan menjadi keruh karena tercampuri berbagai zat yang berbahaya, jika dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar untuk kebutuhan rumah tangga seperti mencuci, mandi dan lainnya.

Ini tentunya akan mengakibatkan masalah pada kesehatan. Demikian pula ketika pencemaran ini terjadi pada tanah, maka akan mempengaruhi tingkat kesuburannya yang menyebabkan menurunnya hasil panen. Jelas pencemaran ini adalah suatu hal yang merugikan bagi masyarakat.

Dalam persoalan ini Islam mempunyai pandangan yang khas yaitu terdapatnya hubungan kausalitas antara manusia dan alam, yang dilandasi keyakinan bahwa proses perusakan, termasuk terhadap lingkungan akan membahayakan dunia beserta isinya. Oleh karena Islam mengharamkan hal tersebut. Sebagaimana firman Allah Swt.

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Q.S. ar Rum:41)

Rasulullah Saw. pun bersabda:

Jauhilah tiga perilaku terlaknat; buang kotoran di sumber air, di pinggir jalan dan di bawah naungan pohon.” (HR Abu Daud dan Ibnu Majah)

Merujuk pada kedua dalil di atas, maka jelas pencemaran lingkungan merupakan salah satu perbuatan maksiat kepada Allah SWT. Namun demikian banyak manusia yang tidak menyadarinya. Hal ini dikarenakan mereka telah tercekoki oleh pemikiran sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Aturan agama hanya dipakai dalam ranah ibadah mahdah saja.

Padahal Islam adalah agama komprehensif ketika aturannya diterapkan secara kaffah maka akan menjadi solusi seluruh permasalahan kehidupan, tak terkecuali problem pencemaran lingkungan. Masalah ini akan terurai tuntas karena mekanisme penyelesainnya bersumber dari Sang Maha Pencipta dan Pengatur manusia. Tidak seperti saat ini, aturan yang diterapkan adalah aturan kufur yang sarat dengan kepentingan, hasil buah pikir manusia.

Semua syariat itu harus diterapkan oleh negara selaku periayah umat. Negara dalam bingkai Khilafah yang mengikuti metode kenabian. Oleh karena itu menegakkannya merupakan tugas bersama kaum Muslimim, sehingga akan menjadi rahmat bagi seluruh alam. Waallahu a’lam bi ash-shawab.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *