Bunda di Persimpangan Jalan: New Normal atau New Vision?

Layakkah new normal menjadi harapan bagi para Bunda bahkan manusia seluruhnya di dunia untuk meraih kesejahteraan?


Oleh: Rizki Sahana (Homeschool Offender, Aktivis Muslimah)

POJOKOPINI.COM — Bunda mana yang tak diliputi dilema luar biasa manakala dihadapkan pada situasi di luar ekspektasi? Di satu sisi, ingin mempersembahkan kebaikan tak terkira kepada keluarga dan ananda, namun di sisi lain harus menanggung cemas dan kegelisahan berkepanjangan atas bahaya yang senantiasa mengancam nyawa.

Memang benar, new normal seakan menjadi solusi paling masuk akal terhadap kelesuan finansial yang dihadapi oleh nyaris semua keluarga. Dengan new normal, maka para ayah bisa kembali ke luar rumah untuk bekerja. Karena new normal memberi jalan mulus bagi dibukanya berbagai sektor industri, pusat-pusat perbelanjaan, juga tempat wisata, sehingga menjadi tumpuan banyak keluarga untuk mereka bertahan hidup di tengah ekonomi yang terpuruk. Sekolah pun diwacanakan akan dibuka di beberapa wilayah yang dikategorikan sebagai zona hijau.

Padahal kasus covid19 belum menunjukkan tanda-tanda penurunan. Angkanya justru naik, bahkan mencapai 1.043 penambahan pasien positif baru dalam 24 jam terakhir saat diumumkan pemerintah pada Selasa (9/6/2020).

Banyak pihak mengkritisi wacana new normal tersebut. Ketua Satuan Tugas Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Depok, Alif Noeriyanto misalnya. Beliau berpendapat, dari kacamata epidemiologis keputusan tersebut berpotensi mengulang peristiwa merebaknya Covid-19 dalam waktu yang bersamaan (outbreak), seperti yang terjadi pada awal Maret 2020 silam. Sementara itu, Pakar Epidemiologi Universitas Indonesia (UI), Pandu Riono, mewanti-wanti pemerintah tak memaksakan penerapan new normal di tengah pandemi virus Corona.

Ungkapan senada juga disampaikan anggota DPR RI dari Fraksi PKS Chairul Anwar yang meminta pemerintah menetapkan status new normal berdasarkan indikator epidemiologi atau pola penyebaran penyakit/virus yang ada selama ini, bukan berdasarkan batasan waktu atau penetapan waktu tertentu.

Maka, layakkah new normal menjadi harapan bagi para Bunda bahkan manusia seluruhnya di dunia untuk meraih kesejahteraan?

Konsep new normal sebagai formula dan peta jalan bagi solusi persoalan pandemi yang menggejala di seluruh dunia hari ini sesungguhnya berasal dari PBB. Hal ini disampaikan dalam lamannya melalui artikel tertanggal 27 April 2020 bertajuk “A New Normal: UN lays out roadmap to lift economies and save jobs after Covid-19” (New Normal: Peta jalan yang diletakkan PBB bagi peningkatan ekonomi dan penyelamatan lapangan pekerjaan setelah Covid-19). Dinyatakan, “Kondisi ‘normal yang dulu’ tidak akan pernah kembali, sehingga pemerintah harus bertindak menciptakan ekonomi baru dan lapangan pekerjaan yang lebih banyak.” Bahkan, new normal telah ditetapkan PBB sebagai kerangka kerja dunia, dan dipromosikan untuk suatu kehidupan baru yang lebih baik.

Sementara itu, sejalan dengan fungsi PBB, World Health Organization (WHO), underbow PBB di bidang kesehatan, telah memberikan dukungan resmi melalui News Release 15 Mei 2020 bertajuk “Local epidemiology should guide focused action in ‘new normal’ Covid-19 world”.

Mencermati konsep new normal ini, maka kita bisa menyaksikan bahwa pertimbangan ekonomi menjadi hal yang paling penting, bahkan menjadi prioritas dibanding keselamatan dan nyawa. Bukan hanya masyarakat Indonesia, milyaran penduduk dunia juga bernasib sama, sebab new normal dipaksakan oleh otoritas global ke seluruh penjuru bumi.

Meski dengan narasi memosisikan kesehatan sebagai hal yang utama, dengan tetap menjalankan protokol ketat, tetapi new normal sejatinya bukan untuk tujuan kesehatan dan keselamatan jiwa melainkan untuk mewujudkan nilai materi dan industrialisasi. Hal ini disampaikan oleh Direktur Program Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Esther Sri Astuti. Beliau menilai, protokol new normal adalah bentuk keberpihakan pemerintah pada kelompok bisnis, tanpa mempertimbangkan sisi kesehatan masyarakat.

Pengabaian kebenaran sains juga tampak pada narasi new normal. Hal ini telah membuat kekhawatiran para ahli memuncak, khususnya para saintis dan ahli kesehatan.

Kapitalisme global memang berkepentingan membuat kesehatan masyarakat tak benar-benar terjaga. Bahkan ada yang curiga, di balik keputusan Lembaga Kesehatan Dunia WHO soal darurat kesehatan global akibat corona, ada kepentingan “Big Farma” dan “Big Money” yang menyetirnya.

Sementara itu, peradaban Islam yang cemerlang telah terbukti sepanjang sejarahnya, menjaga keselamatan serta menghargai nyawa manusia dengan sangat teliti. Dari al-Barra’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibanding terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Tirmidzi 1455)

Jika kehilangan satu nyawa saja lebih berharga daripada kehilangan dunia, bagaimana keadaan kita hari ini yang sudah kehilangan banyak nyawa akibat penerapan sistem Kapitalis yang tamak?

Peradaban Islam dengan karakternya yang mulia sebagai pewujud kesejahteraan seluruh alam, benar-benar telah teruji selama puluhan abad, hingga meliputi dua per tiga dunia. Ini semua telah diukir oleh tinta emas sejarah.

Dengan karakternya yang begitu sempurna, maka hari ini peradaban Islam adalah satu-satunya harapan dunia keluar dari pandemi Covid19 juga dari agenda hegemoni Kapitalisme melalui negara-negara pengusungnya juga lembaga internasional seperti WHO, PBB, WB, IMF, dan korporasi raksasa dunia lainnya yang menjadikan kesehatan dan nyawa manusia sebagai objek meraih keuntungan.

Maka, wahai para Bunda, menggantungkan harapan pada new normal sungguh absurd, sebab new normal sesungguhnya menjerumuskan kita pada penderitaan yang tiada bertepi, dan menjadi ilusi bagi keluarnya kita dari pandemi.

Penerapan Islam kaffah sungguh layak kita perjuangkan sebagai new vision bagi tatanan dunia baru yang memuliakan dan menyelamatkan. Sebab Islam bukan saja berasal dari Dzat Yang Maha Mengetahui tentang dunia ini, tapi juga memiliki solusi yang manusiawi dan komprehensif dalam penanggulangan wabah maupun menangani resesi ekonomi. Wallahu a’lam.[]

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *