New Normal: Kabar Gembira atau Petaka?

Angka ini berpotensi bertambah karena aktivitas masyarakat pasti semakin meningkat pasca ditetapkannya new normal. Orang-orang mulai pergi ke pasar, ke tempat-tempat umum, atau bekerja di kantor.


Oleh: Rizki Sahana dan Sri Herawati (Pegiat Dakwah)

POJOKOPINI.COM — Memasuki era new normal, bisnis dan investasi diprediksi akan kembali menggeliat. Sejumlah peluang bisnis dan investasi akan bermunculan dari sejumlah sektor ekonomi.

Demikian diungkapkan Chief Executive Officer (CEO) dan Presiden Direktur (Presdir) PT Borsya Cipta Communica (BCC) yang juga Ketua Asosiasi Perusahaan Nasional Telekomunikasi (Apnatel) Jawa Barat (Jabar), Boris Syaifullah, di Bandung, Minggu, 14 Juni 2020. Menurutnya, secara umum kondisi perekonomian Indonesia akan berangsur pulih.

Masih berdasar pada pendapat Boris Syaifullah, beberapa potensi bisnis yang akan muncul di antaranya adalah usaha industri farmasi kesehatan, kebutuhan dasar, pokok, dan makanan. Selain itu, sektor digitalisasi dan infrastruktur telekomunikasi, packaging frozen food, alat kesehatan, serta jual beli kuota internet. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan, usaha frenchise jasa ekpedisi akan semakin menjamur.

Sasaran utama dalam kebijakan new normal memang adalah memulihkan pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, dan menekan angka kemiskinan. Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo mengatakan pemerintah berencana untuk membuka kembali sembilan sektor perekonomian secara bertahap di daerah-daerah yang terbebas dari wabah Covid-19 (zona hijau), yaitu sektor pertambangan, perminyakan, industri, konstruksi, perkebunan, pertanian dan peternakan, perikanan, logistik, dan transportasi barang.

Presiden Joko Widodo menjelaskan bahwa tatanan kehidupan baru di tengah pandemi virus corona merupakan keniscayaan yang harus dijalani. Menurutnya, hidup berdampingan dengan Covid-19, dengan mempertimbangkan data dan fakta perkembangan pandemi, bukan berarti menyerah. Presiden mengajak masyarakat melawan wabah untuk beraktivitas dengan mengedepankan protokol kesehatan. Dengan begitu, warga dapat kembali berkegiatan secara produktif dan tetap aman.

Persoalannya, upaya membuka sembilan sektor ekonomi di tengah tren penularan virus Corona yang sampai sekarang terus menanjak tentu akan mendatangkan dua konsekuensi. Pertama, kalau mitigasi penularan berhasil dilakukan, pembukaan sembilan sektor ini akan menjadi daya ungkit perekonomian. Kedua, jika kondisinya sebaliknya, kebijakan ini tentu akan menjadi pukulan telak. Bukan hanya semakin memperluas angka infeksi virus, tetapi juga bakal memukul perekonomian. Alhasil, waktu pemulihan ekonomi sudah pasti semakin lama.

Peneliti Ekonomi Senior IKS Eric Alexander Sugandi menyatakan, jika tidak dibarengi pengendalian wabah Covid, dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi tidak akan optimal.

Kenyataannya, belum juga new normal diberlakukan secara resmi, jumlah orang yang terpapar virus Corona terus bertambah. Jika pekan-pekan sebelumnya, setiap hari paling banyak ratusan yang terpapar, pekan-pekan terakhir ini jumlah yang terpapar bisa tembus lebih dari 1.000 per hari.

Hingga Rabu (10/6/ 2020), pasien yang terkonfirmasi positif Covid-19 sebanyak 34.316, sembuh 12.129, dan pasien yang meninggal akibat virus tersebut mencapai 1.959 orang.

Angka ini berpotensi bertambah karena aktivitas masyarakat pasti semakin meningkat pasca ditetapkannya new normal. Orang-orang mulai pergi ke pasar, ke tempat-tempat umum, atau bekerja di kantor.

Direktur Program Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Esther Sri Astuti, menilai rencana pengurangan atau pelonggaran aturan pembatasan sosial yang dibungkus dalam bentuk protokol new normal adalah bentuk keberpihakan pemerintah pada kelompok bisnis, tanpa mempertimbangkan sisi kesehatan masyarakat.

Ia menambahkan jika rencana itu diterapkan hanya akan membuat perekonomian Indonesia semakin terpuruk karena menguras uang negara untuk meredam virus tersebut.

Menurutnya, berapa pun nanti anggaran yang dikeluarkan tidak akan mampu meredam virus covid karena penyebarannya luas sekali. Jadi satu-satunya cara adalah membatasi diri, menghimbau masyarakat untuk stay at home. Dia menekankan bahwa yang utama itu kesehatan baru ekonomi.

Nyawa tidak bisa dibeli dengan uang. Kita sudah sehat, uang itu bisa dicari. Tidak ada negara yang melonggarkan PSBB jadi landai, ini rencana yang salah,” tegasnya.

Jadi, new normal ini kabar gembira atau petaka? Mari kita kaji lebih jauh bagaimana sejatinya Islam memandang?? Ketika sudut pandang pengambilan kebijakan bertumpu pada ideologi yang rusak, maka sebuah kebijakan bisa menimbulkan petaka.

Pemberlakuan new normal di tengah pandemi yang masih terus berlangsung saat ini, jelas terlihat bahwa kebijakan ini diambil dari sudut pandang ideologi kapitalistik yang rusak. Motif ekonomi adalah satu-satunya alasan mendasar pengambilan kebijakan ini.

Bila terlalu lama PSBB, maka ekonomi akan tumbang, rupiah akan anjlok, bursa saham terpuruk, perbankan kolaps, dunia usaha akan bangkrut dst, begitulah narasi mereka. Sangat kental motif ekonominya.

Berdalih semua akan baik-baik saja dengan protokoler standar covid-19 dengan memberlakukan New Normal adalah bentuk kezholiman penguasa kepada rakyatnya. Rakyat diminta untuk keluar rumah mengais Riski agar bisa hidup dan membayar semua kewajiban pajak yg dibebankan penguasa, dan tak lagi berharap pada bantuan yg tak seberapa. Sementara badai covid-19 masih berlangsung dan tak ada kejelasan kapan berakhir.

Ada kesalahan cara pandang yang sangat mendasar akibat kerusakan ideologi kapitalistik yang dianut dan diagungkan negeri ini, memandang musibah wabah dengan sudut pandang kapitalistik, identik dengan mengabaikan nyawa rakyat negeri ini. Kepentingan ekonomi mengungguli keselamatan jiwa rakyatnya, betapa zalimnya.

Jadi, kembali pada ideologi Islam adalah solusi hakiki. Islam ketika terjadi wabah di suatu wilayah, maka sudut pandang penguasa (Khalifah) fokus pada penanggulangan wabah.

Bagaimana sudut pandang penguasanya? Nyawa rakyatnya lebih berharga dari seluruh dunia dan segala isinya, itulah yang mendasarinya. Maka kebijakan yang diambil pun tepat: lockdown wilayah terjangkitnya wabah, penuhi logistik secara paripurna, kerahkan tenaga medis secara maksimal, riset medis terkini tercanggih untuk tangani wabah dengan cepat, riset obat-obatan atau vaksin untuk tangkal wabah dengan segera.

Sumber biaya? Bukan tolak ukur untuk masalah ini, negara khilafah memiliki sumber dana yang lebih dari cukup untuk menanggulanginya karena sistem ekonomi Islam yg handal yang diterapkan daulah.

Sejatinya new normal adalah wujud kegagalan kapitalisme mengendalikan urusan umat manusia di bumi ini, wujud abainya penguasa pada rakyatnya, terbongkar sudah topeng kebobrokan kapitalisme akibat wabah ini.

Akankah kita terus bertahan dan mengagungkannya? Sementara lonceng kematiannya sudah di depan mata?

Jangan buang sisa usia dengan sia-sia, peluklah ideologi Islam dan genggamlah erat-erat, karena sesaat lagi ia akan tegak berdiri menaungi bumi dan membawa sejahtera hakiki. Allahu Akbar!![]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *