212: A Moment to Remind

Sadar atau tidak, kita sedang dalam upaya untuk diarahkan kepada satu “persetujuan bersama”. Kehendak kita dikonstruksi untuk cenderung kepada apa yang disebut “kepentingan bersama” oleh para elit politik sekuler, kaum intelektual yang berpihak pada kepentingan kapitalis, dan media yang tunduk pada para “pemilik kepentingan” yang sebenarnya.


Oleh: Cut Putri Cory (Jurnalis Muslimah, Alumni Aksi 212)

POJOKOPINI.COM — Sejak akhir November, medsos memanggil ingatan tentang semua persiapan menjelang agenda tahunan yang ditunggu-tunggu. Berkumpul di Monas, menyaksikan Liwa’ Rayah berkibar menghitamputihkan Jakarta. Malamnya seperti petang, pagi dan siang terasa melambat bersama kebersamaan dalam ukhuwah yang terasa begitu kuat.

Tepat setahun yang lalu, pada malam 1 Desember kami menuju Jakarta, berputar-putar di area Monas mencari tempat parkir aman yang juga ramah bocah. Malam itu ukhuwah mewujud nyata, tak ada jurang pemisah yang sering disebut perbedaan. Kita dari berbagai organisasi, banyak kelompok, tapi kita diikat satu akidah, sama mengibarkan panji Nabi, sebagaimana setahun lalu kita berkumpul dengan ruh bela Nabi dan panji yang mulia.

Tak sempat lapar meski tak menyetok makanan, ada berlimpah sejak malam, sarapan, sampai makan siang. Kalau hanya untuk kenyang perut, dalam ukhuwah memang sudah tak jadi soal, secara otomatis begitu banyak yang tergerak saling membagi kenyang.

Kita semua menjadi saksi, semakin larut, semakin tak terhitung manusia yang berdatanganan. Mereka mengibar panji Nabi dalam malam-malam menuju agenda besar 212, sepanjang acara jangan ditanya, bahkan sampai pulangpun bendera hitam putih bertuliskan kalimat tauhid itu masih setia dalam genggaman.

Semua wajah antusias seolah menyambut kemenangan, ya, hari ini kita menang dari politik pecah belah yang dilancarkan untuk menjauhkan kita dari persatuan. Hari ini kita menang dari sengketa perbedaan yang selama ini sempat membuat kita berjarak. Hari ini, umat Islam dari berbagai wilayah di seluruh dunia menyaksikan manusia yang tumpah ruah menanti pertolongan Allah agar diberi kekuatan menyambung tangan untuk menghentikan derita Palestina, mencabut kepedihan kaum Ibu Suriah, menyelamatkan para Muslimah Rohingya, memberi makan anak-anak Yaman, dan menolong dunia dengan satu-satunya institusi global pemersatu umat yaitu Khilafah.

Meski begitu, dari tahun ke tahun sejak agenda 212 dihelat, kita selalu bertanya-tanya apakah kiranya isu yang akan kita bawa pada 212 tahun depan? Kita pernah berteriak lantang tentang Bela Qur’an, Bela Ulama, Bela Islam, Bela Nabi, Bela Panji Nabi, namun penistaan terhadap Nabi tetap tak terbendung. Coba kita telaah, bagaimana situasi keamanan para Ulama? Adakah keadilan merata? Mampukah kita mengubah semua luka dengan percaya kepada sistem kapitalisme sekuler? Atau luka lama belum kering, kita terus dilukai sampai ke tulang-tulang dan kita masih kembali berharap pada sistem ini?

Kita, sebagaimana yang dijelaskan Noam Chomsky bahwa secara sadar atau tidak, sedang dalam upaya untuk diarahkan kepada satu “persetujuan bersama”. Kehendak kita dikonstruksi untuk cenderung kepada apa yang disebut “kepentingan bersama” oleh para elit politik sekuler, kaum intelektual yang berpihak pada kepentingan kapitalis, dan media yang tunduk pada para “pemilik kepentingan” yang sebenarnya.

Kita dikondisikan untuk menilai bahwa sistem kapitalisme sekuler sudah final, di sisi lain kita bahkan kehilangan daya untuk memikirkan tentang sistem alternatif yang ilahiah dan merupakan solusi sakti mengubah kerusakan saat ini kepada kesejahteraan hakiki.

Pertanyannya, sampai kapan kita rela untuk dikontrol perspektifnya terhadap segala sesuatu? Sampai kapan kita membiarkan negativisme terhadap Islam terus berulang? Satu lagi, kapan kita sadar bahwa kapitalisme sekuler sama sekali tak layak dijadikan tempat bersandar?

Agenda 212 mengingatkan kita tentang persatuan yang niscaya, kita bisa bersatu. Di satu sisi, itulah logikanya. Secara empiris persatuan umat dapat diwujudkan. Di sisi lain, persatuan umat Islam dunia adalah bisyarah, ini kabar gembira yang merupakan janji Allah dan Rasul-Nya. Dan yakinlah bahwa Allah sudah selesai dengan itu semua. Allah sudah gariskan itu untuk menjadi masa depan kita. Allah memang memihak kepada kita, kepada persatuan umat Islam dunia.

Saat itu terwujud, Islam sudah sangat siap untuk diterapkan sebagai satu-satunya sistem yang sempurna dan menyeluruh. Islam memiliki sistem ekonomi, sosial, politik dan keamanan dalam dan luar negeri, administratif pemerintahan, bahkan peradilan. Islam adalah sistem, dia ada untuk diterapkan. Bukan dia secuil makna salat, zakat, puasa dan haji. Islam adalah sistem holistik dan mengakar mencakup seluruh aspek hidup manusia dan semesta.

Islam mengajari kita bagaimana memanusiakan manusia dengan syariat Allah. Islam membersihkan korupsi dan kemiskinan yang hari ini dikondisikan seolah tak ada titik ujungnya. Kita harus bangun dari tidur panjang ini, kapitalisme demokrasi tak pernah benar-benar memberikan proposal untuk penyelesaian seluruh problematika keumatan. Yang ada justru solusi tambal sulam dan iklim kejumudan berpikir yang sengaja diproduksi untuk mematikan nalar.

Inilah kita, terang sudah kita tengok kehancuran sistemik yang dimunculkan kapitalisme sekuler, termasuk tak lagi rabun mata kita menyaksikan persatuan umat adalah niscaya dalam 212 yang fakta dan kabar gembira (bisyarah) yang ada. Hal itu sebagaimana kita pun enggan untuk patah hati lagi dengan menunda-nunda perubahan sistemik menuju Islam kaffah, karena kita Muslim, dan Allah selalu berpihak kepada kita.

Saat ini kita tinggal menentukan arah pergerakan, seluruh elemen umat harus bangkit dan bersatu. Tak lagi tertipu hipokrisi demokrasi dengan semua mantranya yang mengalihkan kita dari paradigma Islam ideologis. Agenda 212, sebuah momentum untuk kita mengingat tentang kemuliaan dalam persatuan, tentang optimisme dan ambisi besar yang semata-mata untuk Islam. Semoga momentum 212 tahun ini merupakan yang terakhir tanpa Khilafah, aamiin. Setuju?[]

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *