Palestina di bawah Paradigma Kapitalis

Palestina di bawah Paradigma Kapitalis

Migrasi itu terjadi karena telah dipersiapkan melalui perjanjian Syker-Picot 1916 yang membagi wilayah khilafah Turki Utsmani pasca perang dunia I antara Inggris dan Prancis. Salah satu poinnya adalah, wilayah Palestina menjadi wilayah internasional di bawah perlindungan Inggris, Prancis dan Rusia.

Oleh: Ine Wulansari
Pendidik Generasi dan Pegiat Dakwah

WWW.POJOKOPINI.COM — Kekerasan lintas perbatasan antara Israel dan militan Palestina di jalur Gaza terus berlanjut. Konflik yang terjadi antara Israel dan Palestina sudah berlangsung begitu lama dan tak pernah menemukan ujung pangkal hingga saat ini.

Serangan demi serangan yang dialamatkan pada Palestina menambah derita dan duka mendalam bagi warga setempat. Perang yang tidak ada habisnya dan cenderung tidak berimbang ini terus bergejolak dan memakan begitu banyak korban jiwa, di samping juga kerugian materi dan kerusakan alam.

Sebagaimana yang dilansir oleh CNNIndonesia, Militer Israel dilaporkan meluncurkan sejumlah roket ke jalur Gaza pada Rabu (27/11/2019) dini hari. “Jet-jet tempur menyerang sejumlah sasaran kelompok teroris Hamas di Selatan jalur Gaza”, pernyataan yang disampaikan militer Israel. Mereka menuturkan beberapa target serangan pada dini hari tersebut dituduh sebagai situs pembuatan senjata dan infrastruktur bawah tanah Hamas. Saling lontar roket ini terjadi di saat gencatan senjata di Gaza berlangsung setelah Israel dan milisi jihad Islam kembali berseteru. Sejak saat itu, setidaknya 450 roket ditembakkan dari Gaza menuju Israel. Hingga kini, 34 warga Palestina dilaporkan tewas akibat bentrokan yang dimulai pada 12 November lalu.

Akar masalah Palestina awalnya pada dekade 20-an dan 30-an ( sejarah awal perpindahan orang Yahudi Eropa ke Palestina) orang-orang Yahudi dari berbagai negara, terutama dari wilayah Eropa berbondong-bondong bermigrasi ke wilayah Palestina. Migrasi itu terjadi karena telah dipersiapkan melalui perjanjian Syker-Picot 1916 yang membagi wilayah khilafah Turki Utsmani pasca perang dunia I antara Inggris dan Prancis. Salah satu poinnya adalah, wilayah Palestina menjadi wilayah internasional di bawah perlindungan Inggris, Prancis dan Rusia. Selanjutnya, pada tahun 1917 muncul Deklarasi Balfour yang menjanjikan Palestina sebagai tanah air Yahudi. Sejak itulah orang-orang Yahudi bermigrasi secara besar-besaran ke wilayah Palestina. Pada tahun 1947, PBB melalui resolusinya membuat pembagian wilayah Palestina. Berdasarkan resolusi zalim itu, Israel mendapat 55% wilayah Palestina dan sisanya untuk Palestina. Atas dasar itulah, dengan dukungan Inggris pada tahun 1948 Israel berdiri.
Serangan yang terjadi hingga saat ini sejatinya bukan hanya sebatas untuk menguasai wilayah Palestina saja. Akan tetapi ada beberapa kepentingan yang dituju oleh Israel beserta sekutunya, diantaranya:

  1. Penguasaan ekonomi melalui penaklukan kota Jerussalem. Dimana ia dianggap sebagai kota yang sangat berpotensi untuk meningkatkan devisa negara dari sektor pariwisata. Dengan begitu, Israel mulai berusaha untuk menguasai kota ini agar dapat memperoleh keuntungan jika berhasil menduduki dan mengelola Jerussalem sebagai salah satu destinasi wisata terbaik di dunia. Bagi Israel keuntungan ini begitu menjanjikan dan dapat digunakan untuk mengembangkan aspek militer dan politiknya.
  2. Kepentingan politik. Peperangan antara Israel dan Palestina merupakan unsur perpolitikkan yang begitu kental. Kedudukan Israel diposisikan sebagai pemerintahan yang baik dan menjanjikan, apalagi di antara negara tetangga dan sekutunya. Alhasil Israel terus melanjutkan langkah dengan menguasai wilayah kecil namun potensial. Karena menguasai negara Palestina dapat dijadikan suatu pembuktian bahwa kaum Israel begitu berkuasa baik dari segi militer dan sebagainya.
  3. Pembentukan organisasi Hamas, meski tidak memperoleh perhatian dari pemerintahan dunia, bukan berarti Palestina hanya berdiam diri dan tidak melakukan apapun. Justru di tengah konflik yang kian memanas tersebut ada organisasi yang mengerahkan segala daya upaya demi menyatukan rakyat Palestina dan membela diri dari serangan Israel.

Setidaknya itulah beberapa analisa yang berkembang terkait penyebab perang Israel dan Palestina yang memicu terjadinya perang berkepanjangan. Bahkan dalam keyakinan Islam disebutkan bahwa perang tersebut tidak akan berakhir sampai akhir zaman.

Solusi yang ditawarkan ala sistem demokrasi mengarah pada two state solution, yang digadang-gadang akan mampu mempersatukan dua negara yang sedang berseteru. Solusi dua negara merdeka merupakan salah satu opsi sebagai solusi konflik antara Israel dan Palestina. Selama bertahun-tahun, hasil jajak pendapat menunjukkan adanya banyak tentangan. Sudah banyak upaya diplomatik yang dilakukan untuk mewujudkan solusi dua negara, namun nyatanya sampai detik ini tak pernah berbuah kedamaian.

Melihat banyaknya karut marut yang terjadi di dunia saat ini, termasuk peperangan antara Israel dan Palestina, tidak terlepas dari hegemoni penjajahan kapitalisme sekular, nasib umat Islam di dunia terjajah, tertindas dan miskin. Umat Islam terbelenggu dalam kubangan sistem kufur, mereka hidup di bawah nasionalisme sempit yang memecah belah persatuan umat Islam dunia. Padahal umat Islam di seluruh dunia adalah satu dan bersaudara. Lebih dari itu, kondisi umat Islam dunia teraniaya, terzalimi, terusir, terpuruk dan tertindas. Padahal kaum muslim adalah umat terbaik dan mulia. Sebagaimana firman Allah Swt:

“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. ” (TQS Ali-Imran: 110)

Dengan segala penderitaan dan penjajahan yang dihadapi umat Islam saat ini, tidak ada jalan lain yang mampu memberi kedamaian dan kebahagiaan selain kembali kepada Islam sebagai ideologi yang memancarkan sistem hukum dan pemerintahan yang berlandaskan pada syariat. Ideologi Islam yang akan diterapkan oleh khilafah inilah yang mampu menyatukan kaum muslim, dan memperoleh kemuliaannya kembali.

Tegaknya khilafah merupakan suatu keniscayaan dan kebutuhan untuk menyelesaikan berbagai macam problem yang dihadapi saat ini. Kaum muslim beserta agamanya akan terjaga, darah dan kekayaan serta kehormatannya akan terpelihara. Sebagaimana disebutkan Rasulullah saw. bahwa khilafah adalah junnah (perisai) bagi rakyatnya.

“Sesungguhnya imam itu adalah perisai, tempat berperang di belakangnya dan berlindung dengannya.” (HR. Bukhari)

Khilafah bukan hanya kebutuhan negeri-negeri muslim yang terjajah secara fisik, akan tetapi menjadi kebutuhan bagi seluruh umat Islam. Karena dengan menerapkan syariat Islam di seluruh penjuru dunia dalam naungan daulah khilafah, maka kesejahteraan, kehormatan dan kemerdekaan hakiki akan teraih kembali, Walahu a’lam bish shawab.[]


Tanggung jawab tulisan kiriman ini sepenuhnya ada pada penulis. Pojokopini.com merupakan media yang terbuka atas segala pendapat kritis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *