96 Tahun Tanpa Khilafah, Musibah Terus Melanda

96 Tahun Tanpa Khilafah, Musibah Terus Melanda

Oleh : Cut Zhiya Kelana, S. Kom

WWW.POJOKOPINI.COM — 3 Maret 96 Tahun yang lalu tepatnya pada Tahun 1924 M, Khilafah sang perisai umat runtuh dengan berbagai konspirasi busuk barat yang sudah dirancang selama 1 abad untuk menghancurkan khilafah hingga ke akarnya. Konspirasi yang dilakukan Barat akibat kedengkian mereka terhadap kekhalifan yang membuat mereka harus melakukan segalanya untuk menghancurkan khilafah.

Keruntuhan Khilafah Islamiyah terakhir di Istambul hendaknya menjadi renungan bagi kita. Beberapa faktor penyebab utama kemunduran Negara Khilafah diantaranya Konspirasi Negara-negara kafir imperialis, pengkhianatan pejabat tinggi Negara, adanya ide-ide sesat (nasionalisme, patriotisme, demokrasi dan HAM) yang mempengaruhi pemikiran kaum muda di Turki dan wilayah Khilafah lainnya, terhentinya ijtihad, upaya memasukkan Undang-undang barat dalam konstitusi Negara Khilafah, serta penghancuran aqidah Islam melalui serangan misionaris Kristen.

Keruntuhan Khilafah Islamiyah bukanlah terjadi dengan sekejap mata. Sebagaimana kebaikan yang perlu proses untuk terjadinya, keburukan pun demikian, membutuhkan proses. Mustafa Kemal Ataturk menjagal Khilafah juga bukan proses sekejap, perlu proses yang panjang. Proses itu dimulai ketika pada awal abad ke-19 M kaum muslimin mulai meninggalkan al-Qur`an dan as-Sunnah untuk memecahkan masalah-masalah mereka, dan tertarik dengan ideologi Liberal yang menggiurkan nafsu manusia.

Semangat Liberalisme ini mendorong pecahnya Revolusi Perancis tahun 1789 yang mengusung jargon ”Liberte, Egalite, dan Fraternite”. Revolusi Perancis berhasil menjauhkan agama dalam hal ini gereja dari masyarakat, negara maupun politik. Di awal abad ke-19 M, Perancis muncul menjadi paling kuat dan maju, menjadi negara nomor satu di dunia di bawah pimpinan Napoleon Bonaparte.

Sementara itu, Khilafah Turki Utsmani mengalami kemandegan berpikir akibat terhentinya ijtihad dan mulai melirik ideologi Liberal yang sedang berkembang pesat di Eropa Barat. Kemajuan teknologi akibat revolusi Industri telah menyilaukan mata, sehingga tidak bisa membedakan mana teknologi yang bisa diambil dari bangsa manapun, dan mana peradaban yang harus disaring.

Tahun 1828 di masa Sultan Mahmud II, pemikiran dan sistem sekuler mulai merasuk ke tubuh khilafah. Tahun 1876 M Gerakan Turki Muda yang tergila-gila dengan ideologi liberal berhasil memaksa Sultan Abdul Hamid II menerima Konstitusi 1876, sebuah konstitusi sekuler. Sejak itu, tanda-tanda keruntuhan Khilafah mulai di depan mata.

Untuk memuluskan tujuan penghancuran Khilafah Islamiyah, para revolusionir bentukan Yahudi melakukakan tekanan kepada mufti Islam Muhammad Zhiyaudin untuk mengeluarkan fatwa pencopotan. Pada hari selasa 27 April 1909 M, sebanyak 240 anggota Majelis A`yan (tokoh-tokoh masyarakat yang ditunjuk) mengadakan pertemuan bersama dan menetapkan pencopotan Sultan Abdul Hamid II. Namun sebagian anggota menolak menerima draft tersebut, diantaranya sekretaris fatwa Nuri Affandi yang hadir dalam pertemuan tersebut.

Namun atas usulan dan desakan dari Organisasi Persatuan dan Pembangunan, akhirnya dibentuklah panitia untuk menyampaikan keputusan pencopotan pada khalifah kaum muslimin, panitia tersebut terdiri dari Immanuel Qarashu (seorang Yahudi asal Spanyol), Aaram (Anggota Majelis Perwakilan yang berasal dari Armenia), Asad Thuathani (Utusan Albania), Arif Hikmat (anggota Majelis A’yan, asal Irak Karajabani). Kemudian melalui mereka dilakukan (pemberitahuan) pemecatan Sultan Abdul Hamid II sebagai Khalifah, dan pada saat bersamaan Sultan Abdul Hamid berkata kepada mereka, ”Sesungguhnya ini tak lebih dari perbuatan orang-orang Yahudi yang mengancam Khilafah, lalu apa maksud kalian membawa orang ini (Emmanuel) datang kehadapanku?”. Setelah Sultan Abdul Hamid II diturunkan dari jabatannya, kemudian beliau dibuang ke Salonika (wilayah Kekhilafahan Turki yang berbatasan dengan Yunani).

Orang-orang Yahudi dan Freemasonry mengangkat hari pencopotan Sultan Abdul Hamid II sebagai hari raya mereka. Mereka meluapkan kegembiraan dengan mengadakan demonstrasi dijalan-jalan pusat kota Istambul, dan membuat perangko-perangko yang dijual di pasar-pasar Turki Utsmani. Setelah diturunkan dari jabatannya, Sultan Muhammad Rasyad menggantikan beliau sebagai Khalifah kaum muslimin.

Tidak berapa lama kemudian, muncullah hakikat sebenarnya yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam dari kalangan Yahudi dan Kristen dan lebih khusus lagi Inggris. Mereka melihat, bahwa penghancuran Khilafah bukanlah perkara yang mudah, kecuali dengan cara membuat pahlawan boneka dan menggambarkan opini umum tentang sosoknya yang besar dan keramat. Dan mereka mengusulkan nama Musthafa Kemal agar menjadi sumber harapan dan sumber penghormatan di kalangan perwira tentara dan rakyat Utsmani. Sejak itulah Mustafa Kemal menjadi antek Barat.

Selanjutnya setelah Mustafa Kemal menjadi antek Barat, Mustafa Kemal melakukan pengkhianatan terhadap kaum muslim. Tepat pada bulan 28 Rajab 1342 H yang bertepatan dengan tanggal 3 Maret 1924, agen Inggris keturunan Yahudi Dunamah bernama Mustafa Kemal Pasha atau yang sering dikenal dengan Mustafa Kemal Ataturk menyatakan pembubaran Negara Khilafah Islamiyah yang berpusat di Istambul, dan kemudian menggantinya dengan sistem republik dengan asasnya sekular-demokrasi serta memindahkan ibukota Turki dari Istambul ke Ankara.
Sejak khilafah sang perisai umat diruntuhkan, umat muslim seperti kehilangan arah dan tujuannya hidupnya. Yang seharusnya semua masalah bisa diselesaikan dengan begitu mudahnya namun kini mereka kebingungan mencari solusinya. Yang tertera jelas ada didalam syariat Islam yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah, namun kini syariat ini sendiri diabaikan bahkan direndahkan karna tidak sesuai dengan jaman modern katanya.

Bagaimana mungkin syariat Islam itu ketinggalan jaman, sedangkan semua permasalahan kita solusinya hanya kembali pada Islam. Bukankah semua teknologi yang dijumpai Barat juga berasal dari Islam, para ilmuan muslim yang senantiasa mengkaji Islam mendapatkan semua ilmu itu juga dari al-Qur’an. Setiap penyakit pun Al-qur’an menjadi As-syifa, lalu apa salahnya mengambil Islam sepaket dengan syariatnya?

Penyakit kapitalis yang telah mendarah daging membuat umat merasa enggan untuk melaksanakan syariat Islam, karena sudah nyaman dengan kehidupan sekarang. Dimana mereka tidak mau repot memikirkan masalah selagi ada cara instan untuk menyelesaikannya. Ketika kapitalis berhasil menancapkan kuku-kukunya di jantung kaum muslim, membabat habis pemikiran kaum muslim, sama seperti cara mereka menghancurkan khilafah. Mengganti kurikulumnya, mata uang, cara berpakaian, hingga kaum muslim pun semakin jauh dari sumber syariat Islam yang sebenarnya. Mereka hanya beribadah namun tidak mau berurusan dengan politik, membiarkan dirinya buta politik, terlena duniawi dan sebagainya.

Belum lagi kita berbicara tentang masalah perempuan yang tak kunjung ada habisnya, mereka adalah para ibu yang melahirkan generasi peradaban. Merekalah yang membentuk sebuah keluarga mulia dengan cita-cita tertinggi menjadi banteng pertahanan terakhir yang menanamkan Islam kepada generasi. Ini juga semakin dilemahkan digerus jaman bahwa wanita adalah bagian dari sebuah negara yang mudah dihancurkan kehormatannya dan kemuliaanya.

Diimingi dengan mahkota dunia dan berkedudukan wanita karir yang konon katanya lebih bergengsi dari pada seorang ibu rumah tangga yang hanya sibuk didapur dan mengurusi anak yang tak pernah ada habisnya. Lelah kata mereka padahal imbalannya adalah surga, sedangkan dunia konsekuensinya lebih berbahaya. Merelakan generasi kita hancur lebur hingga lupa siapa yang menciptakannya, lupa bahwa hidup juga pasti berakhir dengan kematian dan lupa bahwa ia juga manusia lemah yang tak berdaya jika dihadapkan dengan berbagai persolan hidup, hingga bunuh diri adalah hal yang mudah terlintas dibenaknya betapa lemahnya keimanan seorang muslim saat ini. Intinya tidak ada kebahagiaan yang abadi jika ridho Illahi tak kita dapati.

Maka sudah menjadi tanggung jawab kita sebagai umat muslim, khususnya muslimah untuk mengingat bahwa peristiwa dimana runtuhnya khilafah adalah sebuah urgensitas yang harus kita perjuangkan. Kita tidak mungkin mampu seperti para sahabiyah, namun apa salahnya mencontoh mereka yang dengannya pula lahir para pejuang wanita yang dikenal sebagai pahlawan. Apakah kemudian karena perbedaan jenis kelamin membuat mereka mundur? Tidak, mereka sama halnya dengan para pejuang lain berada digarda terdepan.

Harus kita sadari bahwa kebutuhan umat terhadap khilafah adalah hal yang paling utama, karena kita sudah tahu bagaimana rasanya hidup tanpa Khilafah. Derita kita yang nan panjang dan melelahkan akan terbayar indah dengan terwujudnya khilafah ala minhaj nubuwah. Dan sungguh perjuangan ini membutuhkan kekuatan ekstra dari umat, maka jangan kemudian kita berhenti di jalan menyampaikan kebenarannya, jangan pula kemudian kita ragu untuk melangkah, sungguh bis akan terus melaju dan kita tidak akan mampu lagi untuk mengejarnya. Mempersiapkan diri kita untuk menuju medan perjuangan yang berliku dan terjal ini, karena bahagia yang kita raih nantinya bukan milik kita tapi milik seluruh alam. Wallahu ‘alam.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *