Abraham Accords, Pengkhianatan terhadap Baitul Maqdis

Baitul Maqdis ibarat magnet pengikat rasa dan rasio umat Islam dunia, dia adalah Kizil Elma (The Red Apple). Ini cita-cita tertinggi umat Islam dunia. Namun membebaskannya dari cengkeraman Israel tak cukup dengan rasa dan rasio, harus ada perjuangan politik berskala global yang sanggup mewujudkan institusi politik global umat Islam, dipimpin seorang Khalifah yang menerapkan syariat Allah dan mengangkat jari telunjuknya untuk menghidupkan nafas jihad dari seantero dunia menuju pembebasan Baitul Maqdis.


Oleh: Cut Putri Cory (Ibu Pegiat Literasi)

POJOKOPINI.COM — Hari dan tanggal yang sama, Jumat 2 Oktober sekira 833 tahun yang lalu adalah saat-saat genting dimana Shalahuddin Al Ayyubi memenangkan Baitul Maqdis untuk umat Islam. Dia tak hanya memenangkan pertempuran melawan pasukan salib, lebih dari itu, dia mengembalikan tanah kharajiyah Palestina kepada pemiliknya yaitu umat Islam.

Namun kenyataan berbeda hari ini dialami Baitul Maqdis. Mesjid suci umat Islam di tanah mulia itu ‘digagahi’ Yahudi Israel dipersaksikan pemimpin negeri-negeri Muslim dunia. Israel, UEA, dan Bahrain menandatangani kesepakatan normalisasi hubungan yang ditengahi oleh Washington pada 15 September lalu. Perjanjian yang bertajuk Abraham Accords ini ditandatangani oleh PM Israel Benjamin Netanyahu dan Menteri Luar Negeri UEA serta Bahrain di Gedung Putih (CNN Indonesia, 6/10/2020).

Meski belakangan Oman dan Sudan ditengarai enggan menyebut normalisasi namun relasi, agaknya kedua negara ini justru memperjelas tempat duduk mereka di atas aneksasi Israel di Palestina. Ini tentang keberpihakan. Solusi dua negara yang digagas pemimpin dunia seolah mengatakan, “Sudahlah, anak-anakmu yang mati dibombardir Israel, kaum ibumu yang diperkosa, dan rumah-rumah yang diratakan itu lupakan saja. Ayo kita nonton wayang bersama Israel, hidup berdampingan.”

Apa yang dipertontonkan para pemimpin negeri Muslim adalah dagelan basi pengkhianatan berulang. Selayaknya mereka malu dengan tanah kuburan Shalahuddin Al Ayyubi yang diratapi sejak ratusan tahun lalu, apalagi kurun aneksasi Israel di Palestina.

Normalisasi Israel, UEA dan Bahrain yang digawangi Washington dalam Abraham Accords adalah pengkhianatan berkedok solusi dua negara. Perjanjian itu memenangkan Israel atas nama kemanusiaan. Normalisasi, relasi, segala yang mengarah kepada pengakuan terhadap eksistensi negara Yahudi itu merupakan ketidakadilan. Hal itu karena pencaplokan Israel atas Palestina adalah kezaliman besar yang berlangsung sejak lama, terstruktur dan masif di-backup oleh pemimpin negeri-negeri kacungnya.

Satu Cara Bebaskan Palestina

Baitul Maqdis ibarat magnet pengikat rasa dan rasio umat Islam dunia, dia adalah Kizil Elma (The Red Apple). Ini cita-cita tertinggi umat Islam dunia. Namun membebaskannya dari cengkeraman Israel tak cukup dengan rasa dan rasio, harus ada perjuangan politik berskala global yang sanggup mewujudkan institusi politik global umat Islam, dipimpin seorang Khalifah yang menerapkan syariat Allah dan mengangkat jari telunjuknya untuk menghidupkan nafas jihad dari seantero dunia menuju pembebasan Baitul Maqdis.

Perjuangan politik inilah wujud rasionalitas yang lahir dari kesadaran politik terbina. Umat Islam harus menyadari urgensi keberadaan institusi politik Islam berskala global, atau disebut juga Khilafah. Selamanya, berharap kepada PBB untuk membebaskan Palestina dari aneksasi Israel ibarat menanti kucing bertanduk, ini utopi. Umat Islam hanya akan berwujud singa pemberani dalam naungan kepemimpinan seorang Khalifah, sebagaimana pernah dan terjanjikan sebagai masa depan umat Islam.

Menjadi tugas seluruh umat Islam untuk mewujudkannya dan menghadirkan kembali Shalahuddin Al Ayyubi kedua dalam naungan Khilafah. Baitul Maqdis telah sejak lama memanggil. Sampai saat ini, kita belum lagi mengembalikan tanah kharajiyah itu kepada pemiliknya.[] Ilustrasi: Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *