Aceh, Rohingya dan Kekuatan Akidah Islamiyyah Mencampakkan Nasionalisme

Aceh, Rohingya dan Kekuatan Akidah Islamiyyah Mencampakkan Nasionalisme

Penderitaan kaum muslim di seluruh dunia takkan ada habisnya, jika kita masih saja membiarkan belenggu nasionalisme yang mengakar pada sistem sekuler-kapitalisme menjerat leher-leher umat Muhammad Saw.


Oleh: Ummu Zhafira (Pegiat Literasi)

POJOKOPINI.COM — Lagi. Aceh dan Rohingya kembali menjadi sorotan dunia. Di tengah gelombang pandemi yang tak pasti kapan mereda, Aceh dengan dorongan ukhuwah Islamiyyahnya menunjukkan belas kasihnya dengan menyelamatkan 99 orang pengungsi Rohingya yang terdampar di perairan Aceh Utara pada Rabu (24/06) lalu.

Awalnya, pemerintah setempat menolak untuk menurunkan pengungsi Rohingya tersebut ke daratan dengan alasan protokol kesehatan. Namun atas desakan dari warga, akhirnya mereka dievakuasi ke Desa Lancok, sekitar 15 kilometer dari Kota Lhokseumawe untuk kemudian dipindahkan ke bekas kantor imigrasi di Punteut, Kota Lhokseumawe. (BBCNews, 25/06/2020)

Tindakan mulia warga Aceh ini bukan kali pertama. Tercatat ada hampir sepuluh kali selama satu dekade terakhir, sejak tahun 2009, Aceh menyambut kedatangan “tamu istimewa”. Dimulai sejak Januari, 2009 hingga Juni 2020 lalu. Gelombang kedatangan etnis Rohingya terbesar di Tanah Rencong itu terjadi pada tahun 2015 silam. Sedikitnya tercatat 1.300 warga yang ditampung di kota Langsa, dan di Gedung Olah raga Lhoksukon, Aceh Utara.

Rohingya: Manusia yang tak Diinginkan

Atas dasar menjalankan protokol kesehatan, pemerintahan Malaysia telah menolak dua kapal, dan menahan ratusan orang Rohingya maupun migran ilegal dalam beberapa waktu terakhir. Mereka juga dilaporkan sempat meminta Bangladesh untuk mengambil 269 pengungsi, yang sempat ditahan pada 8 Juni. Tapi, permintaan itu ditolak. Kemudian, negeri “Jiran” disebut berencana untuk mengembalikan para pengungsi itu ke laut begitu kapal mereka sudah selesai diperbaiki (Kompas.com, 21/6/2020).

Penolakan semacam ini juga sudah pernah terjadi pada tahun 2018 lalu. Seperti dikutip dari DetikNews.com, (21 April 2018), sebelum mendarat di Kuala Raja, Bireuen, Aceh, 79 warga etnis Rohingya terombang-ambing di tengah laut. Mereka sempat masuk ke perairan Thailand dan Malaysia, tapi petugas kedua negara tersebut menolak mereka.

Di negerinya, Myanmar, orang-orang Rohingya ini tak diakui sebagai warga negara. Ketika mereka berlari ke negeri-negeri terdekat, mereka justru harus menelan kenyataan atas penolakan dengan berbagai macam dalih yang dibuat. Kalau pun mereka diterima, itu pun penerimaan setengah hati.

Akhirnya, banyak di antaranya yang terlunta-lunta di tengah lautan tanpa arah tujuan. Sebagian dari mereka menjemput maut di tengah laut. Diantaranya juga bahkan harus menjadi korban human trafficking (perdagangan manusia) di kawasan Asia Tenggara, baik di Thailand, Malaysia dan Indonesia.

Rohingya Dijajah

Kalau ada yang beranggapan bahwa Rohingya adalah pendatang baru. Maka bisa dipastikan itu merupakan anggapan yang salah. Arakan, wilayah di mana mayoritas Muslim Rohingya tinggal, sudah ada bahkan sebelum Negara Burma lahir atas pemberian kemerdekaan oleh Inggris tahun 1948. Para sejarawan menyebutkan bahwa Islam masuk ke negeri itu tahun 877 M pada masa Khalifah Harun Ar-Rasyid.

Pada tahun 1420, Arakan memproklamirkan diri sebagai kerajaan Islam merdeka di bawah Raja Suleiman Shah. Kekuasaan Islam itu bertahan selama 3,5 abad. Pada tahun 1784, Arakan kembali dikuasai oleh Raja Myanmar. Tahun 1824, Arakan menjadi koloni Inggris. Sejak itulah populasi Islam di kawasan Arakan perlahan-lahan berkurang. Dalam penjajahan Inggrislah adu-domba antara umat Islam Rohingya dan Budha Burma/Myanmar dilakukan. Pasca Inggris memerdekakan Burma, muslim Rohingya dikucilkan dalam kesatuan warga negara Burma.

Pada Januari 1948, Inggris memerdekakan secara formalistik Burma. Ketegangan Pemerintah dan muslim Rohingya berlanjut dengan gerakan politik dan bersenjata. Sekitar 13.000 orang Rohingya mencari perlindungan di kamp pengungsian India dan Pakistan. Hal inilah yang menyebabkan mereka ditolak hak warga negaranya untuk kembali ke Burma pada tahun 1982.

Sejak saat itulah muslim Rohingya menyandang status manusia tanpa negara. Mereka dikucilkan. Pasukan Pemerintah Burma mengusir ribuan Muslim Rohingya secara brutal disertai pembakaran pemukiman, pembunuhan dan pemerkosaan. Hingga 1987 tercatat lebih dari 200 ribu muslim Rohingya melarikan diri ke Bangladesh.

Upaya pengusiran ini terus dilakukan. Dunia hanya bungkam melihat penderitaan demi penderitaan yang menimpa muslim Rohingya. Bahkan peraih Nobel Perdamaian, San Suu Kyi diam seribu bahasa melihat tragedi kemanusiaan itu di depan matanya. Suu Kyi, pemimpin faksi politik yang berkuasa di Myanmar telah melegitimasi genosida dan berpihak pada penganiayaan terhadap minoritas Rohingya.

Menolong Setengah Hati

Beberapa negeri muslim terdekat yang menjadi tujuan suaka atas muslim Rohingya memang menerima mereka. Akan tetapi, penerimaan itu dirasa hanya setengah hati. Mereka memberikan bantuan kemanusiaan berupa makanan, minuman, pakaian dan kebutuhan hidup lainnya tanpa bisa memberikan perlindungan atas hak-hak mereka sebagai warga negara. Mereka tak bisa memenuhi hak mereka untuk bisa bekerja, mengenyam pendidikan bahkan untuk bisa mendapatkan tempat tinggal tetap demi melangsungkan kehidupan mereka selanjutnya.

Repatriasi yang memiliki resiko besar atas keselamatan muslim Rohingya itu justru menjadi fokus yang hingga kini mereka diskusikan. Padahal kita tahu, negeri-negeri muslim memiliki kemampuan untuk bisa menerima mereka, menolong mereka, dan memiliki wilayah yang cukup untuk tempat tinggal mereka.

Nasionalisme Sekat Maya Pembawa Petaka

Ketidakmampuan negeri-negeri muslim dalam mengatasi krisis yang terjadi atas penduduk muslim Rohingya dan juga penduduk muslim tertindas belahan bumi lainnya adalah bentuk kegagalan sistem kehidupan yang diadopsi Dunia Islam hari ini. Sistem yang berlandaskan sekularisme ini telah menumbuhkan sekat maya bernama nasionalisme, yang kemudian menjadikan negeri-negeri muslim ini terpecah belah tanpa kekuatan.

Paham nasionalisme dijadikan dasar atas terbentuknya konsep nation-state (negara-bangsa) yang rakyatnya mengidentifikasikan diri mereka sebagai sebuah “bangsa” (nation) berdasarkan kesamaan etnis, sejarah, bahasa, budaya, atau faktor pemersatu lainnya.

Nation-state awalnya tumbuh di Eropa pasca Perjanjian Damai Westphalia (Peace of Westphalia) tahun 1648. Kemudian bersama-sama dengan ide-ide utama yang dihasilkan pada Abad Pencerahan (abad ke-17 s/d ke-19), seperti demokrasi, liberalisme, dan sekularisme, konsep nation-state akhirnya “diekspor” melampaui tempat kelahirannya di Eropa, terutama melalui jalan penjajahan. Sedangkan pada waktu itu kondisi Khilafah Utsmaniyah dalam kondisi lemah.

Di sinilah, petaka itu bermula. Wilayah Khilafah Utsmaniyah akhirnya terpecah belah menjadi negara-negara bangsa yang “dihadiahi” kemerdekaan oleh para kafir penjajah. Lahirlah, negara Turki, Arab Saudi, Palestina, Mesir, Malaysia, Bangladesh, Brunei Darussalam, Indonesia dan yang lainnya. Dengan begitu, Barat tetap bisa menghisap kekayaan negeri-negeri kaum muslim dengan tanpa perlawanan. Petaka atas kaum muslim di dunia tak menemui ujungnya. Lihat saja betapa penderitaan bertubi-tubi menimpa saudara kita di Gaza, Palestina, muslim Pattani di Filipina, muslim Uighur di Cina, muslim di Suriah dan lain sebagainya.

Ukhuwah Islamiyyah Pengikat dan Pemersatu Umat

Penderitaan kaum muslim di seluruh dunia takkan ada habisnya, jika kita masih saja membiarkan belenggu nasionalisme yang mengakar pada sistem sekuler-kapitalisme menjerat leher-leher umat Muhammad Saw. Persatuan umat yang pernah berlangsung berabad-abad lamanya di masa lalu menjadi sebuah keharusan untuk kembali lagi dan menjadi titik tolak kebangkitan umat.

Sebuah persatuan yang diikat oleh pemikiran, perasaan, dan peraturan yang sama yang lahir dari kesamaan akidah yaitu akidah Islamiyyah. Itulah ikatan ukhuwah Islamiyyah yang mampu merobek-robek keangkuhan paham nasionalisme yang mematikan hari ini.

Perumpamaan kaum mukminin dalam hal kecintaan, rahmat dan perasaan di antara mereka adalah bagai satu jasad. Kalau salah satu bagian darinya merintih kesakitan, maka seluruh bagian jasad akan ikut merasakannya dengan tidak bisa tidur dan demam” [HR Muslim (2586)].

Persatuan ini tidak bisa diwujudkan tanpa adanya institusi negara yang menerapkan syariat Islam secara kaffah. Dialah Daulah Khilafah yang berdasarkan kenabian. Khilafah inilah yang kelak mampu menyatukan negeri-negeri Islam di seluruh dunia dalam satu kepemimpinan. Ukhuwah Islamiyyahnya akan menjadi tali pengikat yang kokoh di antara pemeluknya di seluruh penjuru bumi.

Kemenangan Islam adalah sebuah keniscayaan. Detik demi detik hari ini terus melaju ke arahnya. Karenanya sudah dijanjikan oleh lisan mulia Rasulullah Saw. Aceh dan Rohingya, menjadi sebuah gambaran nyata, bahwa nasionalisme adalah racun nyata yang mematikan. Tak ada lagi kata tawar untuk tak bergerak, menjadikan lisan dan tulisan untuk bertarung di medan pertempuran pemikiran.

Dengannya akan menumbuhkan kesadaran di tengah-tengah Umat, hingga terbentuklah opini akan pentingnya persatuan umat dalam bingkai Khilafah yang membawa berkah. Dengannya akan mampu menghapuskan kepedihan Rohingya, Gaza, Uighur, Pattani, Suriah dan yang lainnya. []

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *