Aceh-Rohingya, Ketika Ukhuwah Berbicara

Aceh-Rohingya, Ketika Ukhuwah Berbicara

Sekali lagi, aqidah Islam telah menunjukkan kemampuannya dalam menyatukan manusia tanpa memandang batas imajiner bangsa, ras, warna kulit juga bahasa.


Oleh: Muthmainnah, ST.,MT

POJOKOPINI.COM — Pengungsi Rohingya kembali terdampar di pesisir Aceh Utara, Indonesia pada Juni lalu. Mereka berjumlah 99 jiwa, terdiri dari 17 laki-laki, 49 perempuan, 32 anak-anak dan 1 bayi. Berdasarkan informasi yang terhimpun menyebutkan tujuan awal adalah Malaysia. Namun di tengah jalan kapal rusak dan akhirnya terlunta-lunta di lautan hampir 4 bulan sebelum akhirnya ditemukan oleh nelayan lokal. Sekalipun pada awalnya oleh pihak berwajib hendak dihalau kembali ke laut, namun masyarakat setempat memaksa dan nekat menolong.

Aksi heroik masyarakat Aceh mendapat respons positif baik nasional ataupun dunia internasional. Dari video yang beredar tampak kesigapan dan kesungguhan masyarakat untuk menampung dan menanggung kebutuhan imigran Rohingya. Masyarakat iba melihat puluhan anak-anak dan wanita terkulai lemas di dalam kapal yang mereka tumpangi. Terkini, pengungsi Rohingya tersebut sudah ditangani oleh UNHCR dan IOM bekerja sama dengan LSM lainnya. Meski demikian, masyarakat masih ramai mendatangi kamp pengungsi guna memberi bantuan semampu mereka.

Di balik peristiwa tersebut, fakta menarik untuk dikritisi adalah bahwa kejadian ini bukanlah pertama kali. Tercatat imigran Rohingya yang terdampar di Aceh pertama kali terjadi tahun 2009 di perairan Sabang, Aceh Timur dan Nagan dengan total imigran kurang lebih 443 jiwa. Disusul tahun 2011 di Krueng Raya sebanyak 129 jiwa. Kemudian terjadi kembali tahun 2012, namun jumlahnya berkurang yaitu 54 jiwa. Lalu di tahun 2013 sebanyak 190 jiwa dan meninggal 9 jiwa saat di laut. Terbesar terjadi tahun 2015 yang menampung sampai dengan 1300 jiwa. Kemudian tahun 2018 di perairan Bireun sebanyak 79 jiwa, di Aceh timur 10 jiwa, 5 orang di antaranya meninggal saat masih dilaut.

Jika ditotal kejadian ini sudah berulang hampir 10 kali dam rentang waktu 10 tahun. Sedang total jumlah pengungsi mencapai 2.290 jiwa selama kasus-kasus tersebut terjadi. Fakta ini menunjukkan bahwa sebenarnya penderitaan muslim Rohingya belumlah berakhir. Sama sekali. Meskipun berita tentang Rohingya tidak lagi wara-wiri di media seperti tahun 2015 silam saat konflik memuncak.

Hampir satu dekade berlalu tanpa solusi tuntas cukup membuktikan bahwa lembaga-lembaga dunia, lembaga kawasan, bahkan negeri-negeri muslim lumpuh dalam menyelesaikan prahara Rohingya. Nilai-nilai kemanusian, HAM dan kebebasan yang selalu disuarakan termasuk para aktornya, seolah lenyap manakala berhadapan dengan kasus genosida ini.

Menariknya, justru harapan itu datang dari masyarakat sipil Aceh yang tidak memiliki daya politik dan kekuasaan untuk melakukan banyak hal. Namun ternyata mereka memiliki satu modal besar yaitu persaudaraan atas nama aqidah Islam. Ukhuwah Islam telah mendorong masyarakat Aceh menyelamatkan muslim Rohingya. Tidak peduli berapa puluh kali pun. Mereka tidak pernah bosan. Tidak pernah berlepas tangan. Meski isu-isu seperti kecemburuan sosial antara penduduk asli dan imigran, ketidakmampuan finansial daerah dalam membantu pengungsi bahkan isu etnis Rohingya yang kasar terus diudarakan, namun hal tersebut tidak mengurangi sedikit pun ukhuwah Islam ini. Sekali lagi, aqidah Islam telah menunjukkan kemampuannya dalam menyatukan manusia tanpa memandang batas imajiner bangsa, ras, warna kulit juga bahasa.

Namun di balik itu, masih ada pertanyaan tersisa. Bagaimana kelanjutan nasib pengungsi Rohingya setelah diselamatkan? Apakah ini episode terakhir bagi mereka? Dapatkah pula dipastikan peristiwa ini menjadi yang terakhir?

Bagi muslim Rohingya, solusi tuntas atas penderitaan mereka bukanlah diselamatkan setelah tertindas di tanah lahir dan bertaruh nyawa di lautan. Sementara setelah itu, mereka hidup terasing dan terpisah dari keluarga. Jauh dari keleluasaan untuk memenuhi potensi hidup mereka baik kebutuhan jasmani ataupun naluri. Juga tidak memiliki ruang untuk hak-hak sipil mereka tanpa status kewarganegaraan yang pasti. Ringkasnya, kehidupan mereka jauh dari fitrah manusia yang merdeka.

Maka solutif itu adalah manakala mereka aman hidup di tanah lahirnya, mendapatkan kepastiaan kewarganeraan dan memperoleh hak-hak mereka sebagai seorang manusia. Serta mendapatkan jaminan keamanan dalam memenuhi seluruh kebutuhan mereka baik dalam beragama ataupun memenuhi potensi hidup mereka dari sisi kebutuhan jasmani juga naluri.

Pada titik inilah, ukhuwah Islam berada pada batas daya. Pasalnya kaum muslimin, sekalipun terikat secara akidah namun persatuan mereka bersekat dan terpisah oleh kepentingan-kepentingan nasional di bawah dikte kapitalis global. Kaum muslimin tidak bersatu di bawah payung kekuasaan umum yang bersifat global, yaitu khilafah. Kekuatan mereka -tanpa khilafah-, adalah kekuatan satu per satu lidi yang terpisah dari ikatan, yang tidak mampu menolong Muslim Rohingya menyelesaikan apa yang disebut sebagai akar masalah.

Karena itu, harus menjadi kesadaran bersama, terutama rakyat Aceh, bahwa menolong Muslim Rohingya harus mengalami eskalasi. Dari menolong muslim Rohingya pasca melarikan diri dari penindasan, menjadi aksi menghapus penindasan itu sendiri.

Rakyat Aceh harus berada di garda terdepan perjuangan penyatuan kaum muslimin di bawah bingkai khilafah. Hal ini mestinya tidak sulit bila menyisir histori kegemilangan Aceh di masa lalu, semuanya berakar pada kekuatan Islam sebagai sebuah ideologi politik pemerintahan. Karena itu perkara khilafah adalah kewajiban di satu sisi dan mengulang sejarah gemilang di sisi yang lain. Khilafah harus menjadi mainstream perjuangan rakyat Aceh.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *