Ada Apa dengan Pemuda?

Dari kisah ini kita merasa prihatin dengan kondisi pemuda negeri ini yang viral atau “diviralkan” karena kesedihannya ditinggal atau ditolak perempuan, ada mahasiswa yang gantung diri dan lain-lain. Generasi kita sekarang menjadi korban kehidupan hedonisme yang hanya memikirkan kesenangan dunia, bermental lemah.


Oleh: Siti (Ibu Generasi)

POJOKOPINI.COM — “Sesungguhnya pada tangan pemudalah urusan umat dan di kaki-kaki merekalah terhadap kehidupan umat“. Begitulah perkataan para ulama kepada pemuda. Generasi muda menentukan kualitas bangsa. Hal ini tertulis dalam kisah sejarah.

Awalnya Raja Ferdinand mengutus mata-mata untuk mengetahui kondisi Granada (Wilayah teakhir Islam Andalusia) Mereka menemukan seorang bocah sedang menangis lalu sang mata-mata bertanya,
Apa yang membuat kamu menangis?” Sang bocah menjawab, “Saya menangis karena anak panah saya tidak tepat sasaran.” Si mata mata berkata,”Anda tidak mencobanya lagi? Nanti anak panah anda akan menancap pada sasarannya.” Sang bocah pun memberikan jawaban monumental, “Jika satu anak panah gagal mengenai musuh, apa mungkin musuh memberikan kesempatan kepada saya untuk memanahnya lagi?” Mendapatkan jawaban ini si mata-mata kembali ke Raja Ferdinand dan merekomendasikan untuk tidak melakukan penyerbuan saat ini, karena bangsa Arab sedang bersiap siaga, bahkan bocah-bocahnya sekalipun.

Setelah beberapa tahun kemudian, si mata-mata kembali lagi untuk mengetahui kondisi umat Islam di Granada. Si mata-mata menemukan seorang remaja yang sedang menangis, lalu bertanya apa gerangan yang membuat anak itu menangis? Sang anak menjawab,”Aku menangis karena ditinggalkan kekasihku.” Sang mata-mata lalu kembali ke Raja Ferdinand, seraya mengatakan, “Sekaranglah saatnya…

Dan pada akhirnya Granada yang merupakan wilayah terakhir kaum muslimin di Andalusia jatuh pada tanggal 21 Muharram 897 H (2 Januari 1492 M). Setelah itu, Sultan Muhammad diasingkan. Beberapa saat perjalanan, di puncak gunung, ia menoleh kepada bekas wilayahnya sambil menitikkan air mata.
Ibunya yang melihat keadaan itu tidak simpatik kepada putranya, bahkan ia memarahinya dengan mengatakan, “Jangan engkau menangis seperti perempuan, karena engkau tidak mampu mempertahankan Granada layaknya seorang laki-laki.”

Dari kisah ini kita merasa prihatin dengan kondisi pemuda negeri ini yang viral atau “diviralkan” karena kesedihannya ditinggal atau ditolak perempuan, ada mahasiswa yang gantung diri dan lain-lain. Generasi kita sekarang menjadi korban kehidupan hedonisme yang hanya memikirkan kesenangan dunia, bermental lemah.

Hal ini disebabkan lingkungan saat ini malah melemahkan generasi muda. Lagu-lagu yang kita dengar syairnya sendu, seputar percintaan, melemahkan para pemuda dan mengajak berandai-andai. Yang pacaranlah, sakit hatilah, putus cintalah, selingkuh, dan lain-lain. Remaja berkutat di kesia-siaan, bagaimana pemudanya bisa semangat bergerak membuat karya dan perubahan kalau yang didengar isinya melemahkan dan merusak?[]

DISCLAIMER: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim dan dipublikasikan sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.