Ada Apa dengan Ucapan Selamat dan Pesan Menyuarakan Islam Moderat?


Pijakan ini cukup bagi kaum muslimin untuk berpikir proporsional dan membaca konstelasi maupun arah politik AS memandang Islam.


Oleh: Sri Rahayu

POJOKOPINI.COM — Ada yang menggelitik untuk dikulik terkait perkataan senada dari pejabat negara. Menteri Agama berpesan “Selamat atas terpilihnya KH Miftachul Akhyar sebagai Ketua Umum MUI periode 2020-2025. Selamat juga untuk seluruh pengurus baru MUI,” ujar Fachrul melalui keterangan pers tertulisnya, Jumat (27/11/2020).

Tak hanya itu Fachrul Razi mengajak untuk bersama-sama meningkatkan pemahaman dan pengamalan umat terhadap Islam Wasathiyah. “Mari bersama bumikan Islam Wasathiyah dan perkuat moderasi beragama di bumi Nusantara,” ujarnya (okenews, 27/11/2020).

Pesan bernada sama terucap oleh Wakil Presiden Ma’ruf Amin. Beliau menyampaikan tiga pesan: untuk mendorong pengarusutamaan Islam jalan tengah, melakukan perbaikan dan mendukung ekonomi syariah (KENDALKU.com, 27/11/2020).

Pernyataan kedua pejabat untuk menyerukan Islam moderat, mengingatkan kita pada rekomendasi ‘Rand Corporation‘, sebuah lembaga tinktank AS. Dimana intinya ada dua hal :

1. Membangun Islam baru, Islam yang ramah pada Barat, Islam yang tidak mengancam, Islam yang tidak punya agenda politik sendiri, itulah yang disebut Islam moderat/Islam jalan tengah. Mereka telah menafsirkan sesuka hatinya terkait makna umatan washatan (pada QS Al-Baqarah : 143), sebagai  Islam Moderat. Yaitu, sejalan dengan Barat, mendukung demokrasi dan sekulerisme.

Bagaimana upaya Barat dalam hal ini AS, membangun Islam moderat di dunia Islam? Mereka membagi umat Islam menjadi 4 kelompok. Islam Fundamentalis, Islam Tradisionalis, Islam Moderat dan Islam Sekularis.

Pembagian ini dilakukan untuk selanjutnya mereka mainkan. Islam tradisional dihalangi jangan sampai berdekatan pada Islam Fundamentalis, dan dibuat bersama dengan dua kelompok lainnya memerangi Islam Fundamentalis. Islam Fundamentalis disebut radikal dan berbahaya (padahal maksudnya berbahaya bagi Barat, sebagai penjajah). Islam Fundamentalispun diinjak dan kelompok Islam lainnya diangkat. Demikianlah, kekuatan Islam dibendung dan ditumpas oleh kekuatan Islam itu sendiri.

Metode ini lebih efektif, lebih ‘brilian’ dan lebih canggih daripada harus mendatangkan pasukan untuk membungkam Islam Fundamentalis. Pengerahan pasukan adalah metode penjajahan kuno, tidak efektif, melelahkan dan menghabiskan energi dan dana sangat besar.

Kedatangan Menteri Luar Negeri AS kemarin ke negeri ini, selain untuk tujuan memastikan posisi Indonesia masih tetap aman dibawah telapak kaki AS, Pompeo juga sengaja mendatangi salah satu kelompok Islam, untuk memastikan politik belah bambu ini.

Memang WOT (‘War On Terorism‘) telah kehilangan momentum puncaknya setelah drama WTC dan diganti dengan WOR ( ‘War On Radicalism‘). Jika pada WOT AS lebih menggunakan  ‘Hard Approach‘. Maka pada
strategi WOR, AS menggunakan pendekatan ‘Smart‘. AS bermain pada ide / gagasan untuk membungkam Islam politik yang dinilai begitu membahayakan imperialisme AS. Islam politik yang menyuarakan khilafah sebagai ‘junnah‘/perisai umat dicap sebagai radikal.

Tak heran negeri-negeri Islam termasuk Indonesia gencar menyuarakan dan menjalankan program deradikalisasi. Tujuannya adalah untuk membendung
yang mereka sebut Islam Fundamentalis, yaitu Islam yang menyerukan pada Islam kaffah dan penerapannya dalam institusi Khilafah Islamiyah.

Tak heran pejabat negara menyerukan Islam Moderat, dengan tujuan menginjak Islam politik sebagaimana keinginan AS tuannya.

Khilafah yang sejatinya akan menyelamatkan negeri dari penjajahan AS kapitalis global, dituduh mengancam, membahayakan dan memecahbelah umat. Disinilah umat Islam harus menyadari dan memahami. Khilafah adalah ajaran Islam yang diwajibkan atas umat untuk menegakkannya. Dan seharusnya kita menyadari bahwa AS telah menggunakan tangan umat Islam untuk memukul agamanya sendiri dengan membuka jarak dan memusuhi saudaranya sendiri.

Umat Islam seharusnya bersatu dan memahami bahwa standing point Islam bagi AS itu adalah :
1. Sebagai ancaman,
2. AS menjadikan perhatian besar atas apa yang terjadi di dunia Islam, termasuk Indonesia.
3. AS menjalin relasi dengan negara-negara mayoritas Muslim.

Pijakan ini cukup bagi kaum muslimin untuk berpikir proporsional dan membaca konstelasi maupun arah politik AS memandang Islam.

Umat Islam sudah seharusnya menggunakan kaca mata Islam dalam memandang diri dan lingkungannya. Bukan sebaliknya menggunakan cara pandang AS sebagai penjajah memandang Islam. Apalagi Allah Subhanahu wata’ala telah memberikan kita predikat umat terbaik sebagaimana QS Al Imran : 110. Tentu predikat istimewa yang disematkan pada kita ini memiliki syarat, yaitu jika dan hanya jika umat Islam menjadi subyek. Bukan obyek penjajahan dan permainan AS, kafir harbi fi’lan la’natullah ‘alaihi. Wallahu a’lam bishawab.[]

Ilustrasi: Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *