Adakah Relasi Antara Orientasi Seksual dengan Kekerasan Seksual ?

Adakah Relasi Antara Orientasi Seksual dengan Kekerasan Seksual ?

Aisyah Karim (Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)

WWW.POJOKOPINI.COM — Reynhard Sinaga umpama lubang menganga di puncak tertinggi peradaban Barat. Ia telah divonis seumur hidup di Inggris, usai memperkosa sekitar 190 pria. Belum termasuk kasus-kasus usaha percobaan perkosaan lainnya. Jenis perkosaan yang ia lakukan adalah date rape yaitu pemerkosaan yang di dahului dengan perkenalan baik-baik. Menurut pengadilan Menchester Reynhard melakukan itu sejak 2015, secara terus-menerus sampai ia ditangkap di tahun 2017.

Ia sendiri tidak menyembunyikan identitas gay-nya. Lingkungan tempatnya tinggalnya pun dikenal sebagai kampung gay’ (disway.id). Reynhard juga memiliki grub whatapps sesama gay. Disitulah polisi mengetahui bagaimana kehidupannya sehari-hari, termasuk bagaimana Rynhard menikmati malam-malamnya. Disitulah dia juga membagi pengalaman apa saja yang terjadi tadi malam’.

Reynhard memulai sepak terjangnya sebagai pelaku `date rape’ pada tengah malam, ketika Manchester mulai sepi. Dari apartemennya di gedung Montana House, yang bersebelahan dengan night club terbesardi kota itu: The Factory. Banyak orang yang mabuk atau setengah mabuk, Reynhard memilih yang sesuai seleranya, remaja usia 19-20 tahun. Disitulah ia menawarkan jasa singgah dan bermalam di apartemennya.

Ia menambahkan GHB, gamma-hydroxybutyrate, obat kategori C yang dilarang diperjual belikan secara umum ke dalam minuman mangsanya. Kemudian mulai mengeksekusinya. Bukan hanya itu, bentuk kegilaan lain yang dilakukannya adalah merekam semua kebejatannya. Membuat hakim sampai berjam-jam menyaksikannya, sebagai pertimbangan apakah nantinya sidangnya tetap tertutup atau terbuka. Setelah 2,5 tahun dirahasiakan, kasusnya baru dibuka untuk umum pada 6 Januari 2020. Dalam sekejap nama Indonesia memenuhi dunia, seorang intelektual Indonesia, mahasiswa doktoral melakukan kejahatan pemerkosaan terhebat sepanjang sejarah Inggris.

Hal ini karena kejahatan yang dilakukan oleh Reynhard sudah sangat berlebihan dan berbahaya terutama bagi para remaja. Diantara korban Reynhard ada yang sampai hendak bunuh diri. Pria ini merasa tak ada gunanya lagi hidup. Masa depannya sudah hancur. Namun niat mengakhiri hidup tersebut diurungkan karena mengingat ibunya yang hidup sendirian. Di Inggris sendiri, mendengar nama Reynhard saja mungkin akan menjadi siksaan bagi sebagian orang. Ada kengerian setiap kali membaca namanya yang kini memenuhi laman-laman pemberitaan media sosial di seluruh dunia.

Menjadi sangat aneh apabila penggiat isu kekerasan seksual tunggal, Pawestri, menilai reaksi masyarakat yang justru menyorot orientasi seksual Reynhard menunjukkan sikap diskriminasi dan tidak adil. Sejalan dengan itu, Ketua Arus Pelangi, Organisasi yang fokus dalam advokasi LGBT, Ryan Kobarri menilai komentar tersebut justru tak lain adalah bentuk diskriminasi yang berdampak pada generalisasi kelompok homoseksual lain.
“Kejahatan Reynhard tidak ada hubungannya dengan orientasi seksualnya. Menganggap homoseksual sebagai pelaku kekerasan adalah tuduhan yang tidak berdasar,” kata Ryan (tirto.id).

Jika saja mereka berani jujur, pangkal dari segala kejahatan Reynhard adalah orientasi seksualnya. Homoseksual dan berbagai varian orientasi seksual nyeleneh lainnya adalah penyimpangan. Mereka menggugat, apa hubungannya kekerasan seksual dengan orientasi seksual, toh mereka yang heteroseksual juga bisa melakukan kekerasan seksual. Nah, lagi mereka gagal atau pura-pura buta dengan realitas, ataukah mereka hendak menyatakan bahwa pemerkosaan yang menjijikkan itu bukan kejahatan, hanya kekerasan seksual. Hadeuh.

Berapa banyak pelaku penyimpangan seksual yang kemudian terlibat dalam kejahatan seksual? banyak sekali. Di Indonesia pernah ada sosok gay, Ryan Jombang dengan 11 orang korban. Kasus ini bermula dari ditemukannya 7 potongan tubuh manusia dalam 2 buah tas di belakang kebun binatang Ragunan, Jakarta Selatan. Masih ingat Mujianto ? gay Nganjuk dengan 15 orang korban. Akun Edy Gune di Kompasiana merangkum 25 kasus pembunuhan dinegeri ini yang dilatar belakangi nafsu sejenis pada 22 Februari 2016. Apakah ini tidak cukup untuk membungkam para pendukung kaum menyimpang ? Jelas, orientasi seksual menyimpang berkorelasi positif dengan kejahatan seksual.

Begitulah budaya sekuler, bukan hanya duo Pendukung LGBT lokal ini yang gagal paham, namun masyarakat Barat sendiri menganggap tabu membahas soal orientasi seksual. Kebebasan adalah sesuatu yang sakral dalam peradaban Barat. Termasuk dalam memandang orientasi seksual. Siapapun tidak berhak mengotak-atik orientasi seksual orang lain, ini area privat dan sangat azasi. Alhasil kasus-kasus semacam ini terus hadir. Barat memberi ruang bagi tumbuh suburnya penyimpangan seksual namun kemudian gamang ketika kejahatan hadir mengambil korban ditengah-tengah masyarakat. Dalam kasus Reynhard, nyaris tak ada pemberitaan di media-media Barat yang mengaitkan kejahatan ini dengan penyimpangan orientasi seksual.

Kepolisian hanya menjelaskan bahwa Reynhard terobsesi diri sendiri, angkuh, delusional. Pada setiap wawancara, dia menyatakan tidak ada komentar, tak menunjukkan penyesalan, tak ada simpati maupun empati. Penyidik senior, Inspektur Zed Ali, dibuat terpana oleh Reynhard karena ia adalah sosok yang sangat terawat, berbicara dengan lembut dan berpakaian rapi. Tak terkesan ciri strereotipe pemerkosa berantai. Profil khas seorang sosiopat.

Bagi Barat kapitalis maupun Timur sosialis karunia Allah berupa naluri seksual hanya semata-mata untuk memenuhi kebahagiaan jasadiyah. Tak peduli akan diarahkan kepada apa saja atau siapa saja, sepanjang mampu memuaskan nalurinya, dianggap sah-sah saja. Kapan ini dianggap menimbulkan masalah ? ketika melanggar hak azasi orang lain, atau merugikan orang lain. Sepanjang tidak mengganggu, dibiarkan meski nantinya berakibat rusaknya tatanan sosial dan menyebabkan kebinasaa.

LGBT bukan isu biasa, ianya adalah bagian dari proyek besar zionisme internasional untuk mewujudkan mega proyek yang mereka sebut Tatanan Dunia Baru. LGBT akan berakhir dengan penyakit menular seksual, kebinasaan, lost generation. LGBT sejatinya adalah genosida. Sisanya manusia lainnya, yang tidak mereka inginkan, utamanya kaum muslim akan diperangi secara fisik dengan tujuan genosida pula. Lihatlah yang terjadi di Palestina, Syria, India, Xinjiang, Myanmar dan Mali.

Inilah urgensinya menegakkan Khilafah. Khilafah akan membayar tunai kesombongan kaum menyimpang yang telah eksis di negeri-negeri kaum muslimin. Menyalakan cahaya hidayah bagi mereka yang bertobat dan menegakkan hudud bagi para pembangkang. Hingga kasus-kasus seperti ini tak terdengar lagi.[]

Tanggung jawab tulisan kiriman ini sepenuhnya ada pada penulis. Pojokopini.com merupakan media yang terbuka atas segala pendapat kritis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *