Agar Pandemi tak Jadi Duri dalam Pernikahan

Agar Pandemi tak Jadi Duri dalam Pernikahan

Tekanan yang tinggi selama pandemi memang benar-benar menguji kesabaran dan kewarasan. Berat? Pasti. Namun perceraian adalah perkara halal yang Allah benci dan syariat Islam telah memberi kita tuntunan agar setiap permasalahan bisa diatasi.


Oleh: Ashaima Va

POJOKOPINI.COM — Corona, datang tanpa diundang di negeri ini. Penularannya begitu masif tanpa bisa dikendalikan. Tercatat sudah 184.000 orang positif, dengan 7.750 di antaranya meninggal. Pembatasan sosial dianggap menjadi solusi paling jitu untuk mengurangi penularannya. Tagar #DiRumahAja menjadi populer di mana-mana, karena begitulah sebagian masyarakat memilih untuk tidak ke mana-mana.

Karena Corona pula perekonomian berjalan dengan lambat bahkan terhenti. PHK masal terjadi dimana-mana, pengusaha banyak yang gulung tikar. Pedagang sepi pembeli, untuk usaha pun menjadi sulit.

Tidak hanya itu, beban pun seakan bertambah saat anak-anak harus menjalani BDR di rumah. Orang tua menjadi guru dadakan. Tugas menumpuk jadi PR tambahan. Tidak ketinggalan pengeluaran untuk kuota pun kini menjadi kebutuhan.

Saat suami jobless dengan pengeluaran yang bertambah maka tidak dipungkiri tekanan dalam berumah tangga menjadi bertambah. Stres meningkat dan optimisme telah berubah menjadi keputusasaan. Saat inilah keharmonisan rumah tangga akan diuji. Sebagai istri, apakah kita akan memilih untuk menyerah atau bertahan dan tetap setia.

Sayangnya perceraian kini menjadi fenomena. Antriannya mengular, menyesakkan hati. Karena kondisi perekonomian cerai menjadi pilihan pahit. Amerika dan China adalah negara yang tingkat perceraiannya meningkat selama pandemi ini. Mirisnya begitu pula yang terjadi di dalam negeri. Sebut saja Jakarta, Serang, Sumedang, Bogor dan Bandung adalah kota dengan lonjakan gugatan cerai di pengadilan agama yang naik secara signifikan.

Tekanan yang tinggi selama pandemi memang benar-benar menguji kesabaran dan kewarasan. Berat? Pasti. Namun perceraian adalah perkara halal yang Allah benci dan syariat Islam telah memberi kita tuntunan agar setiap permasalahan bisa diatasi. Sakinah, Mawadah, dan Rahmah tidak hanya saat kondisi senang saja tapi juga saat pandemi.

Agar Pandemi tak Jadi Duri

Ada beberapa hal yang harus ditempuh agar pandemi tidak menjadi duri dalam rumah tangga, yaitu:

  1. Menjadikan takwa sebagai pondasi

Allah SWT berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)-nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.

Saat suami dan istri bertakwa maka masing-masing akan berusaha memenuhi kewajibannya. Suami akan mencari nafkah sebagai bagian dari kewajibannya. Begitu pula istri akan sepenuh hati menjadi manajer rumah tangga.

Ketika itulah masing-masing akan memperoleh haknya tanpa diminta. Rumah tangga pun tak pincang karena keduanya berjalan dengan selaras.

  • Kehidupan persahabatan

Tak cukup dengan pemenuhan kewajiban nafkah. Seorang suami juga wajib memberikan pergaulan yang baik pada keluarganya. Memperlakukan keluarganya dengan lemah lembut. Begitu pula sebaliknya dengan istri, harus respect pada suami dan lemah lembut pada keluarganya.

Sehingga kehidupan suami istri adalah kehidupan persahabatan yang masing-masing saling menentramkan dan saling taawun. Bahu membahu menyelesaikan tugas-tugas rumah tangga, juga bersabar dengan nafkah yang diberikan. Badai corona akan tak berarti jika suami istri saling menggandeng tangan.

  • Kepemimpinan di tangan suami

Wabah Corona jelas memunculkan masalah-masalah baru yang pelik. Saat itulah kepemimpinan suami harus mengambil alih. Dia harus mampu meredam gejolak stres di keluarga. Memahamkan pada istri dan keluarganya dan menasihati untuk selalu bersabar.

  • Dalam tugas rumah tangga istri wajib melayani.

Dalam rumah tangga sudah menjadi kewajiban istri untuk melayani suami. Maka saat suami minta ini itu, istri wajib memenuhi. Sebagaimana dulu Rasulullah meminta pada Aisyah untuk diambilkan minum, makanan, atau pisau.

Saat pelayanan istri terhadap suami berjalan maka Rida suami akan diperoleh. Tentu saja ini akan meluluhkan hati suami. Saat hati suami luluh, sebagai istri kita akan diperlakukan dengan baik sehingga luluh pula hati istri.

  • Corona adalah ujian yang harus dihadapi  bersama

Suami yang bertakwa walaupun jobless tapi akan berupaya sekuat tenaga untuk memenuhi kebutuhan nafkah keluarga. Sebagai istri kita pun harus rida dengan nafkah yang sedikit. Bersabar pula dengan kondisi anak-anak yang harus BDR.

Jika dipenuhi, kelima hal di atas akan mampu membuat rumah tangga survive dalam menghadapi kondisi yang serba tak ideal karena Corona. Selain itu Corona juga akan dipahami sebagai ujian yang harus dihadapi bersama. Bukan menjadi duri penyebab perceraian. Wallahu a’lam.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *