Aisyah Istri Rasullullah, Lebih dari sekadar Romantisme Sejarah

Aisyah Istri Rasullullah, Lebih dari sekadar Romantisme Sejarah

Militansinya sudah untuk Allah dan Rasul-Nya. Kesetiaan dan fokus hidupnya untuk Islam dan kaum Muslimin. Inilah peta hidup kita hari ini. Sudahkah?


Oleh: Ayu Pitaloka

POJOKOPINI.COM — “Aisyah, romantisnya cintamu dengan Nabi. Dengan Baginda kau pernah main lari-lari. Selalu bersama hingga ujung nyawa kau di samping Rasulullah,” itulah sebait lirik yang membuat baper dunia per-youtube-an hari ini. Tak pernah sebelumnya nasyid bernafas Islam menjadi trending nomor 1, namun belakangan “Aisyah Istri Rasulullah” mengalahkan segala konten “sampah” prank tak jelas bahkan konten perhantuan yang selama ini bergentayangan di YouTube.

Dari anak kecil sampai orang dewasa menyanyikannya, menariknya, tak hanya mereka yang Muslim menyukai lagu ini. Lagu yang mengisah tentang Aisyah ini seolah mempersatukan manusia, sarat hikmah bagaimana Baginda Nabi memuliakan istrinya. Hal ini tentu berbeda dengan propaganda busuk kaum feminis radikal yang mencitraburuk Nabi dan poligami. Bisa dibayangkan siapa yang paling panas merasa geram dengan vitalnya lagu ini.

Aisyah binti Abu Bakar adalah istri dari Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassallam. Dia putri dari Abu Bakar (khalifah pertama), beliau termasuk ke dalam ummul-mu’minin (Ibu orang-orang Mukmin). Aisyah terlahir empat atau lima tahun setelah diutusnya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassallam. Dia tak hanya cantik paras dan akhlak, pun dia adalah seorang Muslimah pembelajar, Ibunda Aisyah adalah intelektual.

Beliau dikenal sebagai pribadi yang haus akan ilmu pengetahuan. Ketekunan dalam belajar menghantarkan beliau sebagai perempuan yang banyak menguasai berbagai bidang ilmu. Di antaranya adalah ilmu al-Qur’an, hadist, fiqih, bahasa arab dan syair.

Aisyah juga dikenal sebagai perempuan yang banyak menghafalkan hadis Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassallam. Sehingga beliau mendapat gelar Al-Mlukatsirin (orang yang paling banyak meriwayatkan hadist). Sebanyak 2210 hadist yang diriwayatkan olehnya, bagaimana? Hebat!

Hisyam bin Urwah mengatakan: “Sungguh aku telah banyak belajar dari Aisyah. Belum pernah aku melihat seorang pun yang lebih pandai daripada Aisyah tentang ayat-ayat Al-Qur’an yang sudah diturunkan, hukum fardhu dan sunnah, syair, permasalahan yang ditanyakan kepadanya, hari-hari yang digunakan di tanah Arab, nasab, hukum, serta pengobatan.

Selain cerdas, geliat dakwahnya pun tak main-main. Dia bukan menyimpan ketaatan untuk dirinya sendiri. Aisyah dikenal sebagai pribadi yang tegas dalam mengambil sikap. Dia langsung menegur perempuan-perempuan muslimah yang melanggar hukum Allah.

Aisyah pun pernah menyaksikan adanya perubahan pada pakaian yang dikenakan wanita-wanita Islam setelah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassallam wafat. Dia menentang perubahan tersebut seraya berkata, “Seandainya Rasulullah melihat apa yang terjadi pada wanita (masa kini), niscaya beliau akan melarang mereka memasuki masjid sebagaimana wanita Israel dilarang memasuki tempat ibadah mereka.”

Setelah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassallam meninggal dunia, Aisyah menghabiskan hidupnya untuk perkembangan dan kemajuan Islam. Rumah beliau tak pernah sepi dari pengunjung yang bertanya berbagai permasalahan syar’iat. Bahkan Khalifah Umar bin khatab dan Usman bin Affan mengangkat beliau menjadi penasehat sebagai pengakuan atas kapabilitas dan intelektualitas beliau.

Bukan sekadar Kisah, Inilah Peta Hidup Muslimah

Aisyah menunjukan role model bagi Muslimah. Gigihnya beliau dalam menuntut ilmu dan keberpihakannya terhadap syariat Allah diwujudkan dalam aktivitas dakwah. Militansinya sudah untuk Allah dan Rasul-Nya. Kesetiaan dan fokus hidupnya untuk Islam dan kaum Muslimin. Inilah peta hidup kita hari ini. Sudahkah?[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *