Aksi Umat Tolak Komunis, Tolak Semua Sistem Kufur

Aksi Umat Tolak Komunis, Tolak Semua Sistem Kufur

Karena dengan tegaknya sistem Islamlah umat akan hidup dengan aturan yang sesuai dengan fitrahnya yakni aturan yang berasal dari Sang Pencipta manusia, Allah SWT.


Oleh: Amaliyah Krizna Waty (Aktivis Intelektual Muslimah Aceh)

POJOKOPINI.COM — Lagi, kabar dari senayan membuat gaduh. Bagaimana tidak? Setelah dikaji oleh berbagai pihak RUU HIP (Rancangan Undang-undang Haluan Ideologi Pancasila) dinilai berpotensi memunculkan kembali paham komunisme. Mulai dari tidak ditampilkannya TAP MPRS Nomor XXV/MPRS/1966 tentang pembubaran partai komunis dan pelarangan penyebaran ideologi komunis di Indonesia di dalamnya. Kemudian diperasnya Pancasila menjadi trisila bahkan ekasila yang disinyalir akan menafikan sila pertama yakni Ketuhanan yang Maha Esa. Sehingga jelas kental sekali dengan prinsip dasar komunisme yang meniadakan keberadaan sang Pencipta yang juga menganggap agama sebagai candu.

Penolakan pun muncul dari berbagai kalangan masyarakat. Penolakan itu ditunjukkan dengan maraknya aksi di berbagai daerah. Sebagai contoh yang telah dilaksanakan pada minggu, 5 juli 2020 lalu Persaudaraan Alumni atau PA 212 dan Aliansi Nasional Anti Komunis menggelar Apel Siaga Ganyang Komunis Jabodetabek (tempo.co, minggu 05/07/20). Dalam apel tersebut, para peserta diminta berikrar untuk siap jihad qital memerangi kaum komunis dan pihak yang ingin mengubah Pancasila menjadi Trisila atau Ekasila. “Bahwa kami siap siaga dan menyiapkan diri untuk jihad qital mempertahankan aqidah Islam dan melawan kaum komunis di bawah komando ulama“, begitu redaksi ikrar mereka.

Aksi umat tolak komunis hingga resolusi jihad qital adalah wujud semangat memperjuangkan al Haq (Islam) dengan jiwa raga hingga nyawa. Semangat ini merupakan semangat yang lahir dari aqidah Islam. Semangat yang telah dicontohkan oleh para ulama pahlawan kemerdekaan dan tentunya oleh Rasulullah dan para sahabat.

Penolakan RUU HIP karena dianggap berpotensi melegalisasi keberadaan komunisme di Indonesia merupakan tindakan tepat. Apalagi Indonesia sudah pernah mengalami sejarah kelam pembantaian para ulama dan masyarakat pada masa pemberontakan PKI (Partai Komunis Indonesia). Komunisme merupakan ideologi kufur yang harus dikubur dan diredam kemunculannya.

Namun umat tak boleh lupa, bahwa selain ideologi komunisme ada ideologi kapitalisme yang merupakan ancaman nyata yang kini menjadi sistem pemerintahan didalam negeri ini. Kapitalisme juga merupakan ideologi kufur yang menjadikan sekulerisme sebagai landasannya. Penerapan sistem ini juga tak jauh berbeda dengan komunisme, yakni sama-sama menafikan Al quran dan sunnah, mencampakkan hukum Allah dan menggantikannya dengan hukum buatan manusia. Dan bukankah RUU HIP juga merupakan salah satu hukum buatan manusia output penerapan sistem kapitalisme yang telah melanggar syariat?

Sangat jelas, sebagai seorang Muslim kita wajib tunduk dan patuh kepada semua perintah dan larangan Allah. Tidak memilah-milah dan mempertimbangkannya dengan landasan apapun. Kaum Muslimin wajib hidup sesuai dengan syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupannya.

Dengan demikian, semestinya aksi penolakan tak cukup menolak komunisme tetapi harus dilanjutkan dengan penolakan terhadap semua pemikiran dan sistem yang bertentangan Islam yakni kapitalisme liberal dan memperjuangkan tegaknya sistem Islam (khilafah). Karena dengan tegaknya sistem Islamlah umat akan hidup dengan aturan yang sesuai dengan fitrahnya yakni aturan yang berasal dari Sang Pencipta manusia, Allah SWT.

Umat harus sadar akan visi pergerakan yang benar. Yakni untuk memperjuangkan tegaknya sistem Islam. Jangan sampai terbelokkan pada sikap pragmatis memperjuangkan Pancasila dan melalaikan kewajiban memperjuangkan tegaknya sistem Syariah/khilafah.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *