Anak Pakai Jilbab Berdampak Buruk? Ini Sih Lagi-lagi Islamofobia

Anak Pakai Jilbab Berdampak Buruk? Ini Sih Lagi-lagi Islamofobia

Memang benar anak-anak pra baligh belum wajib menutup aurat, tetapi apakah salah ketika kita membiasakan kewajiban itu agar ananda terbiasa dan paham pada saat jatuh taklif hukum?


Oleh: Feryal Ummu Dafina

POJOKOPINI.COM — Konten video DW Indonesia yang mengulas tentang dampak anak dipaksa pakai hijab sejak kecil menuai kontroversi. Dalam video berdurasi 3 menit 31 detik tersebut, DW Indonesia dituding membuat framing untuk menyudutkan Islam dan pemberitaannya dianggap tidak berimbang.

Konten video yang dibagikan DW Indonesia melalui akun Twitter-nya, @dw_indonesia pada Jum’at (25/9). “Apakah anak-anak yang dipakaikan #jilbab itu memiliki pilihan atas apa yang ia kenakan?“, tulis DW Indonesia.

Gaung Islamafobia di tanah air sepertinya tidak pernah berhenti, mulai dari isu terorisme yang selalu dikaitkan dengan Islam, dengan mencirikan jenggot, gamis, celana cingkrang dan cadar sebagai pelaku terorisme, remaja masjid sekolah yang disinyalir bibit terorisme. Isu terorisme tidak laku, lalu beralih ke isu radikalisme good looking ala Menag. Parahnya lagi hal itu dilakukan oleh orang yang notabene Muslim. Miris, ya? Muslim, tapi nampaknya benci ajaran agamanya.

Kalau mereka hidup tidak mau diatur agama atau mengambil ajaran agama ala prasmanan, untuk apa mengambil Islam sebagai keyakinan? Kalau memang belum paham, ya belajar, tidak tahu ya nanya. Kalau salah paham, ya diluruskan dan berlapang dada. Bukan lantas memahami Islam sesuai hawa nafsu. Ingatlah hari pertanggungjawaban, dimana perbuatan kita hari ini akan dihisab. Apa tidak takut?

Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya tumbuh menjadi anak yang shalih dan shalihah. Anak adalah investasi dunia akhirat yang sangat diharapkan, ketika di dunia ia berbakti terutama saat kita sudah tua. Dan di akhirat menjadi syafaat peringan hisab.

Oleh karenanya, penting bagi kita mempersiapkan buah hati agar menjadi generasi peradaban gemilang. Penanaman ketaatan anak akan syariat agamanya tidak hanya saat dia lahir akan tetapi di mulai dari kesiapan orang tua mempersiapkan calon ayah/ibu bagi anak-anaknya kelak. Menjadi-jadi orang tua shalih/ shalihah haruslah dimunculkan terlebih dahulu. Ketika ayah bunda taat syariat, insya Allah ananda pun akan mencontoh.

Termasuk dalam hal busana. Tidak salah jika kita membiasakan ananda berpakaian menutup aurat, karena anak meniru gaya busana ibunya. Pastilah tidak akan terbayang oleh ibu yang tidak menutup aurat, dengan alasan tidak bisa bersosialisasi, lain daripada yang lain. Iyalah jika lingkungan pergaulan anaknya jauh dari nilai- nilai Islam.

Sebagai salah satu upaya menanamkan nilai-nilai Islam adalah menciptakan lingkungan yang kondusif dan berada dalam jamaah, sehingga suasana keimanan kental terasa.

Memang benar anak-anak pra baligh belum wajib menutup aurat, tetapi apakah salah ketika kita membiasakan kewajiban itu agar ananda terbiasa dan paham pada saat jatuh taklif hukum?

Apa jadinya, jika anak tidak pernah diajarkan menutup aurat, ketika memasuki masa baligh dipaksa menutup aurat dan tidak diberi pemahaman yang utuh tentang hukum menutup aurat?

Taat dan maksiat adalah pilihan. Ketika sedari awal kita sudah mempersiapkan segala sesuatunya, insya Allah akan mudah bagi anak untuk memilih ketaatan. Apakah ini yang ditakutkan? Bukankah dunia akan aman dan sejahtera jika dikendalikan oleh orang-orang yang taat kepada syari’at?[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *