Ancaman Kelaparan Meningkat Di Tengah Wabah

Ancaman Kelaparan Meningkat Di Tengah Wabah

Oleh : Hamsia (Komunitas peduli umat)

WWW.POJOKOPINI.COM — CNNIndonesia.com The Guardian, Direktur Program Pangan Dunia atau World Food Programme (WFP), David Beasley, menyebut 265 juta penduduk dunia terancam kelaparan sebagai dampak dari

pandemi virus corona. Jumlah ini masih bisa bertambah karena da sekitar 821 juta orang yang kurang makan. Sehingga total warga dunia yang bisa mengalami bencana kelaparan melebihi 11 miliar orang. (Rabu, 22/4/2020).
Pandemi virus corona mengguncang ekonomi global, jutaan orang kehilangan pekerjaan dan jutaan lainnya mengalami kelaparan. Kelaparan memang menjadi ancaman nyata di tengah pandemi ini. Di Indonesia, kalangan yang paling terdampak adalah masyarakat miskin dan para pekerja yang sudah kehilangan pendapatan dari pekerjaannya.

Fakta di lapangan menunjukkan potensi rakyat menengah bawah merasakan lapar dan kesulitan untuk bertahan hidup. Kebijakan PSBB makin membuat rakyat mati kutu, tak keluar rumah tak makan. Akhirnya kebijakan yang dipraktikkan bukan menyelesaikan persoalan, namun justru bak timpang tindih bak lingkaran yang tidak jelas.

Sejatinya apa yang diungkapkan oleh Beasley saat ini sudah terjadi khususnya di negara Indonesia sudah banyak rumah tangga yang mengalami kelaparan bahkan ada yang rela bunuh diri akibat tidak bisa membelikan susu buat anaknya, sementara di Cirebon, seorang tukang becak pingsan di atas becaknya sendiri. Awalnya diduga karena corona. Namun, setelah diselidiki teryata si bapak pingsan akibat kelaparan. Suara.com, Sabtu (25/5/2020)

Yang tidak kalah menghebohkan, kejadian seorang ibu tewas meninggalkan 4 orang anaknya di Serang, Banten. Bukan akibat infeksi virus corona, tetapi akibat serangan jantung karena 2 hari tak makan di tengah pandemi ini. SuaraBanten.id.

Berbagai berita ini merupakan kondisi nyata di tengah masyarakat. Wabah corona yang belum diketahui kapan berakhirnya, telah berdampak besar terhadap ekonomi. Bahaya kelaparan mengancam rakyat.

Sesungguhnya bencana kelaparan bukan kali ini saja terjadi, bahkan sebelum muncul wabah dunia sudah terancam kelaparan. Berdasarkan laporan lembaga Global Report on Food Crisis (GRFC), “Sepanjang 2019 ada 135 juta penduduk dunia yang mengalami krisis pangan akut atau keadaan darurat kemanusiaan, dan mereka tersebar di 55 negara.” kata badan PBB itu, seperti dikutip dari AFP, Selasa (21/4).

Alhasil buruknya penanganan wabah corona, kondisi kelaparan semakin parah. Sejatinya ini terjadi karena sistem kapitalisme gagal mewujudkan kesejahteraan pada masyarakat dunia. Kekayaan alam dinikmati segelintir korporasi saja. Sebagian besar penduduk bumi harus bekerja keras demi mengakses kehidupan pada level minimal. Sebagian lagi bisa hidup berkecukupan, tapi ketika terjadi wabah mereka jatuh ke jurang kemiskinan.

Sistem Islam memposisikan sumber daya alam yang ada di dunia sesuai aturan Allah SWT. Ada yang terkategori milik umum dan milik negara. Individu (swasta) dilarang menguasai sumber daya alam yang terkategori milik umum seperti tambang, hutan, laut, sungai, dll. SDA milik umum harus dikelola oleh negara untuk kemakmuran seluruh rakyat.

Rakyat disuasanakan untuk saling tolong-menolong, misalnya antara pekerja dan pengusaha. Keduanya saling bekerja sama, meringankan beban. Antar tetangga juga terwujud tolong menolong. Hal ini untuk mencegah persaingan tidak sehat antar anggota masyarakat. Dengan distribusi pendapatan yang adil, tidak ada jurang ketimpangan yang ekstrem antara yang kaya dan miskin. Semua rakyat sejahtera, bisa hidup layak dan makan makanan bergizi. Sehingga tidak muncul ancaman kelaparan.

Kondisi yang tengah dihadapi umat hari ini persis sebagaimana firman Allah SWT “Sungguh akan kami uji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan serta kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Karena itu gembirakanlah orang-orang yang sabar (TQS al-Baqarah [2]: 152).

Meski demikian, Allah SWT tidak akan membiarkan hamba-hamba-Nya didera ujian musibah tanpa tuntunan. Allah SWT mengajari hamba-hamba-Nya untuk senantiasa bersabar saat dihantam musibah. Orang-orang sabar akan mendapat petunjuk dan rahmat Allah SWT (QS al-Baqarah [2]: 157). Kesabaran adalah sebagian tanda ketakwaan hamba terhadap tuhanya (QS al-Baqarah [2]: 177).
Pentingnya pemimpin dalam menghadapi pandemi mengingatkan kita kisah seorang Khlifah Umar bin Khattab dan ibu pemasak batu. Khalifah Umar merasa bersalah lantaran telah membiarkan seorang ibu dan anaknya kelaparan. Ketika itu Daulah khilafah Islam tengah dilanda paceklik. Musim kemarau berjalan cukup panjang, dan membuat tanah-tanah di sana tandus.

Ketika khalifah Umar mengetahui seorang ibu memasak batu agar anaknya bisa diam karena mengalami kelaparan, khalifah Umar langsung pergi ke Madinah dan sesampainya di sana, ia mengambil sekarung gandum dan memikulnya sendiri, tanpa ada rasa lelah yang ia rasakan. sesampainya ia pun memasakya sendiri untuk ibu tersebut dan anak-anaknya.

Sejatinya masyarakat merindukan seorang pemimpin seperti khalifah Umar di tengah wabah menjadi pandemi global dengan kacamata ketakwaan. Pemimpin yang lansung mengulurkan tangan demi mencegah rakyat jatuh tersungkur kelaparan dan kehabisan napas.

Merindukan pemerintah yang mencintai hukum-hukum Allah. Mencintai rakyat dan dicintai rakyat. Rindu seorang pemimpin yang menyelesaikan urusan rakyat dengan tulus dan ikhlas. Rasulullah SAW bersabda, “Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya. Imam (waliyul amri) yang memerintah manusia adalah pemimpin dan ia akan ditanya tentang rakyatnya.” (Bukhari Muslim).

Ketika menghadapi wabah, khilafah memberlakukan lockdown hanya pada wilayah yang terkena wabah saja, bukan di seluruh negara. Hal ini menjadikan ekonomi di luar wilayah wabah tetap berjalan secara normal. Ekonomi di wilayah wabah jelas terhenti, sehingga butuh bantuan pemerintah, berupa pemenuhan kebutuhan pokok yakni sandang, pangan dan papan. Kebijakan khilafah di bidang ekonomi sejalan dengan bidang kesehatan. Hasilnya, wabah terselesaikan dalam waktu cepat dan tidak merembet ke wilayah lain.

Seandainya negeri ini meletakkan aturan di atas pondasi Islam dengan cara lockdown, tentu persoalan penanganan pandemi Covid tak memunculkan persoalan yang lebih kompleks. Inilah kapitalisme, sistem hidup yang diambil dari pondasi lemah, yaitu pemisahan agama dari kehidupan.

Kita hanya bisa bermunajat kepada sang maha perkasa, Allah SWT agar wabah pandemi Covid-19 cepat selesai. Meminta kepada Allah SWT sang pencipta Covid-19 menghentikan laju pengerakanya. Semoga pandemi segera berkhir. Hanya bersandar pada Allah SWT sang pecipta corona agar corona tidak menjangkiti manusia. Dan kita bisa hidup tanpa corona. Wallahu a’lam bish showab.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *