Apa yang Kita Pelajari dari Macron, Neuk?

Apa yang Kita Pelajari dari Macron, Neuk?

Macron adalah tantangan politik riil untuk generasi hari ini. Allah mempertemukan Macron dengan kalian, Neuk. Ini tantangan politik untuk kalian, sehingga bagaimana cara generasi menyikapi peristiwa ini adalah pengalaman politik yang tak boleh dilewatkan kecuali dengan penyikapan yang benar.


Oleh: Cut Putri Cory (Ibu Pembela Nabi)

POJOKOPINI.COM — Saya bertanya itu kepada Farhan (10thn), “Apa yang kita pelajari dari Macron, Neuk?” Dia lalu menjawab, “Kita gak bisa bangkit membela Rasulullah di bulan Maulid,” tukasnya spontan. Itu yang saya maksudkan sebagai ketidakberdayaan, kami sepemikiran. Kita ditertawakan, dihinakan, dipecah belah, dianggap terbelakang karena ketidakberdayaan itu. Padahal apa yang dilakukan Macron jelas tak bisa didiamkan.

Padahal sebagai Ibu, bukti cinta kita kepada Rasulullah adalah juga dengan mendidik generasi Rabbani yang siap untuk hidup sebagaimana Rasulullah hidup, dan mati sebagaimana Rasulullah meninggalkan dunia ini. Maksudnya adalah menghidupi hidup dengan perjuangan menebar risalah dakwah, mewujudkan kekuatan Islam dan menjadikan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam dengan kekuatan itu. Pun saat mati, mereka juga harus mati dalam aktivitas langit itu, mati dalam ketaatan, dalam dakwah.

Rasulullah adalah muara hidup kita. Rasulullah adalah rujukan. Ke mana kita pergi, kita akan senantiasa melihatnya. Apapun kejadian hidup yang kita lalui, kita akan menjadikannya sebagai Panglima untuk menentukan jalan pilihan. Bukan hanya sejak kita hidup, mati pun kita ingin bersua dengannya. Pertemuan langsung dengan Rasulullah adalah momentum yang sangat dirindukan, meski ada rasa malu, namun sesak dada karena rindu selayaknya mengalahkan malu.

Kita mengenalkan sosok mulia itu kepada bocah, sejak di masih di dalam rahim sampai besar dia bisa berpikir. Namun apa daya jika saat ini mata bening yang mungil itu melihat inkonsistensi. Ada ketidaksesuaian antara teori dan praktik. Kata ibu, “Nak, Rasul teladan kita, dia muara cinta kita. Mencintai Rasulullah itu bukti akidah,” tapi saat Rasul dilecehkan oleh seonggok daging sombong bernyawa, kita tak berdaya.

Pojokopini.com mengutip AFP dan CNN Indonesia (29/10/2020), pada 2005 surat kabar harian konservatif Denmark Jyllands-Posten menerbitkan 12 gambar dengan tajuk “Wajah Muhammad.” Setelah itu, ada surat kabar Kristen Norwegia, Magazinet dan majalah satire Charlie Hebdo yang berbasis di Paris. Keduanya melakukan hal yang serupa atas nama kebebasan berekspresi.

Kartun Nabi yang diterbitkan Jyllands-Posten dicetak ulang oleh Charlie Hebdo pada 2006. Februari 2008, setelah masa tenang, publikasi ulang oleh 17 surat kabar Denmark tentang kartun paling kontroversial membangkitkan kemarahan di banyak negara Muslim. Seorang seniman Swedia Lars Vilks pada 2007 menggambarkan Nabi Muhammad sebagai seekor anjing. Kemudian pada 2015 Charlie Hebdo kembali menampilkan gambar Nabi di sampulnya. Lagi dan lagi, pada September 2020, ketika persidangan terhadap tersangka penyerangan kantor Charlie Hebdo dimulai, surat kabar tersebut menerbitkan kembali karikatur tersebut, yang memicu kemarahan beberapa negara Muslim.

Sekitar bulan Mei 2015, di Amerika Serikat polisi menembak mati dua pria bersenjata yang melepaskan tembakan di Texas dekat sebuah pusat yang menyelenggarakan kompetisi kartun Muhammad. Dan hari ini, Charlie Hebdo kembali berulah bahkan menjadi semakin pongah karena didukung oleh besarnya kekuatan negara. Presiden Prancis, Emmanuel Macron berdiri menjadi tameng bagi Charlie Hebdo atas nama kebebasan berekspresi.

Kita semua hari ini bisa menyaksikan bagaimana kapitalisme sekuler memproduksi banyak penistaan terhadap Nabi kita. Macron dengan jumawa membusung dada dan mengatakan dia tak takut kepada siapapun atas apa yang dilakukannya. Inilah saat Macron mengejek seluruh umat Islam yang tak berdaya untuk melindungi Nabinya. Macron lagi mengajari kita bahwasanya penghinaan terhadap Rasulullah yang dilindungi oleh negara merupakan pengaruh besarnya kekuatan politik. Mustahil kita melawannya, tak bisa kita hentikan dia. Itu juga selayaknya membuat kita paham bahwa untuk menjaga kemuliaan Rasulullah kita butuh kekuatan politik global itu.

Sekularisme yang memfasilitasi liberalisme yang menjadi sebab suburnya penistaan terhadap Nabi. Kapitalisme sekuler menjadi tembok besar yang menghalangi kita untuk mewujudkan akidah kita dalam menjaga Nabi. Inilah kenapa layak kapitalisme sekuler disebut memproduksi penistaan, memang sistem ini adalah tersangka utamanya. Ini islamofobia sistemik.

Sebaliknya, jika sistem Islam yang kita pakai untuk mengatur hidup kita, segala tuntutan akidah untuk menjaga Nabi bisa dengan mudah terlaksana, termasuk di dalamnya memberi pelajaran tegas kepada siapapun yang lisan dan aksinya mengejek Islam. Sistem Islam dalam Khilafah takkan membiarkan hal itu terjadi, apalagi sampai terulang dan menyemesta seperti saat ini.

Alhasil kita pun memahami bahwa merebaknya musibah besar penghinaan terhadap Nabiyullah Muhammad Saw hanya kitalah yang dapat menghentikannya, pilihannya adalah pada kita semua. Kita masih ingin melihat hal yang sama terjadi berulangkali dengan betah berlama-lama dalam sistem kapitalisme demokrasi? Atau kita bersikap tegas terhadap segala kondisi yang ada untuk semata-mata menerapkan sistem Islam sebagai kewajiban dan memang merupakan kebutuhan yang mendesak.

Tantangan Ibu

Keluarlah dari pesimisme ketidakberdayaan itu. Rasionalitas ideologi Islam membimbing kita untuk bisa menghilangkan ketidakberdayaan ini, mewujudkan persatuan dan kekuatan. Generasi kita akan melihat sikap ibunya saat idolanya dinista. Jangan hanya diam, Bu! Bersikaplah, katakanlah kepada generasi, jujurlah bahwa kita saat ini memang sangat membutuhkan Khilafah untuk mewujudkan pembelaan hakiki kepada Nabiyullah Muhammad Saw.

Macron adalah tantangan politik riil untuk generasi hari ini. Allah mempertemukan Macron dengan kalian, Neuk. Ini tantangan politik untuk kalian, sehingga bagaimana cara generasi menyikapi peristiwa ini adalah pengalaman politik yang tak boleh dilewatkan kecuali dengan penyikapan yang benar.

Inilah kesempatan untuk membuat generasi mampu menalar fakta politik dan menyikapinya juga secara politis ideologis. Generasi harus dipahamkan dengan bahasa yang mudah dipahaminya dan dengan contoh-contoh yang dekat dengannya akan urgensi aktivitas dakwah mewujudkan persatuan umat Islam dunia. Persatuannya haruslah persatuan global, penerapan Islam haruslah penerapan yang kafffah, sehingga generasi mampu bersikap selayaknya calon-calon negarawan aset umat ini.

Itulah cinta, sehingga dalam setiap agenda mendidik, seorang Ibu Muslimah akan senantiasa mengondisikan terbentuknya cinta mendalam dalam diri generasi kepada Rasulullah Saw. Namun cinta yang dimaksud bukanlah sekadar untuk merasakan romantisme bahwa kita ini disayang dan diingat oleh Rasulullah, tapi harus ada kesadaran politik bahwa dalam menelaah setiap inci kisah hidup Nabi adalah dalam rangka untuk menapaki jejaknya. Lebih dari itu, menapaki jejaknya dengan perasaan bahagia dan penuh syukur atas nikmat itu. Sampai kemudian tak bisa dipisahkan antara pemahaman cinta kepada Nabi dengan realisasi persatuan umat dalam Khilafah yang dicontoh Nabi.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *