Ar-Rubayyi binti Mu’awwidz, Sang Mujahidah dan Perawi Hadits Wudhu

Shahabiyah yang satu ini tidak hanya mencukupkan diri dengan berjihad di medan perang bersama Rasulullah dan para sahabat. Dia juga sangat mencintai ilmu.


Oleh: Ns. Sarah Ainun, M.Si

POJOKOPINI.COM — Lembaran-lembaran sejarah mengisahkan, bagaimana para shahabiyah (sahabat wanita) mendapatkan kemuliaan dan kehormatan yang tinggi di sisi Nabiullah Muhammad Saw. Mereka para shahabiyah adalah wanita-wanita yang turut andil berkontribusi dalam membela, mendukung, membantu, dan berjuang di samping Rasullullah Saw untuk menyebarkan dakwah Islam di Mekkah dan Madinah tanpa dibatasi oleh peran apapun. Yang saat ini cahaya Islam itu sudah kita dapati diseluruh penjuru dunia.

Ar-Rubayyi’ binti Muawwidz mengukir perjalanan hidupnya dalam catatan sejarah dengan menorehkan ragam prestasi sebagai seorang perawat, pejuang dan perawi hadist wudhu lengkap. Dia adalah seorang perempuan Anshar dari Bani Najjar yang berasal dari Madinah. Ia wanita pertama yang ikut berbaiat kepada nabi Muhammad Saw saat usianya masih sangat belia dibawah sebuah pohon, mereka dikenal sebagai Bai’atur Ridwan.

Kisah tentang baiat ini diabadikan dalam ayat Alquran, “Sesungguhnya Allah telah meridhai orang-orang Mukmin ketika mereka berbaiat kepadamu (Muhammad) di bawah sebuah pohon. Allah pun mengetahui keimanan dan ketulusan yang ada dalam hati mereka, lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat serta banyak harta rampasan yang dapat mereka ambil. Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS al-Fath [48]: 18-19)

Ar-Rubayyi’ mewarisi darah pemberani yang memerangi kebathilan dan kemusyrikan dari ayahnya Mu’awwidz bin Afra Al-Ansyariyah yang merupakan orang pertama yang menyaksikan baiat Aqabah, ikut dalam perang badar dan bergabung dengan pamanya dalam upaya pembunuhan Abu Jahal. Karena itulah ayah dan paman Rubayyi’ mendapatkan doa dari Rasullullah Saw “Semoga Allah memberi rahmat kepada kedua anak Afra yang keduanya bergabung untuk membunuh Firaun umat ini (Abu Jahal)“.

Diceritakan dalam berbagai literatur sejarah, perjalanan jihadnya bersama Rasulullah dan para sahabat dimulai ketika ayahnya ikut serta dalam perang Badar, sejak sàat itulah Ar-Rubayyi mulai mengikuti berbagai peperangan. Ia berkontribusi dalam jihad dengan memberikan pengobatan dan menyiapkan perlengkapan logistik Rasulullah dan para mujahid.

Diriwayatkan dari Ibnu Katsir, Ia berkata “Dia berangkat bersama Rasulullah untuk mengikuti berbagai peperangan guna mengobati para mujahidin yang terluka dan memberi minuman bagi mereka yang kehausan.” Al-Bukhari mentakhrij dari Ar-Rubayyi’ bahwa dia berkata, “Kami ikut peperangan bersama Rasulullah untuk membantu, memberikan minum, dan mengobati mujahidin yang terluka, serta membawa pulang mujahidin yang tewas ke Madinah.

Dalam riwayat lain juga disebutkan dalam kondisi terdesak Ar-Rubayyi’ bersama para sahabat juga memacu kudanya untuk ikut langsung terjun dalam medan peperangan. Keberanian Ar-Rubayyi’ juga ditunjukannya ketika dia menantang ibu Abu Jahal. Diriwayatkan bahwa Ar-Rubayyi’ mengambil minyak wangi dari Asma binti Makhrabah, ibu Abu Jahal. Lalu Asma menanyakan nasab Ar-Rubayyi’. Lantas dia pun menyebutkan silsilah nasabnya. Kemudian Asma berkata, “Engkau adalah anak perempuan dari seorang pembunuh tuanya (Abu Jahal).”

Dengan penuh keberanian, Ar-Rubayyi’ menjawab, “Aku adalah anak perempuan dari seorang pembunuh ‘budak’nya.” Mendengar jawaban tersebut, sontak Asma naik pitam, namun tidak berani meladeni keberanian Ar-Rubayyi’. Asma hanya bisa menimpali, “Demi Allah, aku tidak akan menjual sesuatu kepadamu untuk selama-lamanya.” Ar-Rubayyi’ yang merasa senang membuat Asma murka berkata, “Haram bagiku untuk membeli sedikit saja dari minyak wangimu.” Inilah bentuk keberanian yang tumbuh di atas pondasi La Ilaha Ilallah yang menjadikan para shahabiyah tetap loyalitas dalam berjuang dan membela agama Allah dalam waktu, tempat serta situasi bagaimanapun.

Tidak heran jika Ar-Rubayyi’ menjadi seorang shahabiyah yang sangat dekat dan mendapatkan kedudukan mulia dan kehormatan di sisi Nabi Saw. Musa bin Harun Al-Hammal mengatakan,”Ar-Rubayyi’ binti Muawwidz telah mendampingi Nabi Saw, dan dia memiliki kehormatan yang tinggi.” Kemudian Adz-Dzahabi menyebutkan bahwa Rasulullah mendatangi Ar-Rubayyi’ di hari pernikahanya, lalu duduk diatas kasurnya, ini menunjukan kesempurnaan kebahagianya.

Diriwayatkan pula suatu ketika Ar-Rubayyi’ mendatangi Rasulullah dengan membawa sepiring kurma dan sepinggan anggur. Seketika beliau menggantinya dengan emas atau perhiasan, seraya berkata kepada Ar-Rubayyi’ ,”Berhiaslah dengan ini!” Tidak hanya itu, kedekatan Ar-Rubayyi juga ditunjukan ketika Rasulullah berwudhu dirumahnya dan berkata kepadanya, “Tuangkan air wudhu untukku!” Inilah yang menjadikan Ar-Rubayyi’ menjadi satu-satunya shahabiyah yang meriwayatkan secara detil tentang wudhu Rasulullah. Ibnu Majjah men-takhrij darinya bahwa Rasulullah berwudhu dengan membasuh sebanyak tiga kali-tiga kali.

Shahabiyah yang satu ini tidak hanya mencukupkan diri dengan berjihad di medan perang bersama Rasulullah dan para sahabat. Dia juga sangat mencintai ilmu. Ini ditunjukan dengan seringnya ia mendatangi Aisyah untuk menambah wawasan dan ilmu yang kemudian meriwayatkan dan menghafalkan 21 hadits Rasulullah.

Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dan bersepakat sebuah hadits darinya. Tabiin terkemuka seperti Khalid bin Dzakwan, Sulaiman bin Yasar Abu Ubaidah bin Ammar bin Yasir dan lainnya juga meriwayatkan hadits darinya. Bahkan beberapa sahabat dan tabiin datang kepadanya untuk mendapatkam hadits darinya.

Beberapa literatur sejarah menyebutkan Ar-Rubayyi’ binti Mu’awwidz wafat pada tahun 37 Hijiriah. Shahabiyah ini menapaki perjalanan kehidupannya dengan mewarisi sebuah catatan sejarah hidup yang memiliki makna-makna penting sebagai pelajaran dan menjadi teladan bagi muslimah masa kini dan muslimah generasi mendatang. Mengajarkan kepada kita bahwa seorang muslimahpun tidak dibatasi untuk berjihad membela agama Allah Swt dengan terus senantiasa melanjutkan dakwah Nabi Saw menyeru kepada “amar makruf nahi munkar” untuk mendapatkan kehidupan yang lebih tinggi yaitu syurganya Allah Swt.[]

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *