Aroma Kuat Liberalisme dalam Perfilman Indonesia

Aroma Kuat Liberalisme dalam Perfilman Indonesia

Selama film hanya dipandang sebagai industri hiburan yang potensial untuk menghasilkan materi dan memberi devisa bagi negara, maka selama itu pula film-film yang dihasilkan akan selalu sarat dengan pesan-pesan kebebasan yang bisa sangat merugikan bagi generasi muda sebagai pangsa pasar terbesar industri film Indonesia.


Oleh: Sri Herawati (*)

Pojokopini.com — Perfilman Indonesia sempat menjadi raja di negeri sendiri pada tahun 1980an, ketika film Indonesia merajai bioskop-bioskop tanah air, kala itu film dengan tema remaja dan percintaan sangat laku dipasaran, sebut saja film Catatan Si Boy yang dibintangi oleh Ongky Alexander dan Meriam Belina sempat booming kala itu.

Di era 90an film Indonesia didominasi film-film dewasa yang lebih menjual kemolekan tubuh wanita dengan adegan-adegan “panas”, seksi dan sensual. Sebut saja film Gairah Yang Nakal (GYN), Gadis Metropolis, Ranjang yang Ternoda dan masing banyak lagi deretan film-film “panas” saat itu. (BangkaPos.com, April 2018)

Memasuki abad 20, industri film Indonesia kembali bergairah dengan beragamnya jenis film yang diproduksi, seperti film Petualangan Sherina, Jelangkung dan Ada Dengan Cinta yang sangat populer kala itu.

Kini perfilman Indonesia semakin populer dan semakin berkembang. Selama kurun waktu tiga tahun terakhir, jumlah penonton film Indonesia terus meningkat. Data jumlah penonton film Indonesia tahun 2015 mencapai 16,2 juta. Angka ini meningkat lebih dari seratus persen di tahun 2016, penonton film Indonesia mencapai 34,5 juta penonton. Di tahun 2017 penonton film nasional meningkat lagi menjadi 40,5 juta.(BeritaSatu.com, 27/1/2018)

Seperti yang dikutip dari @bicaraboxoffice, penonton film Indonesia tahun rilis 2019 ini sekitar 14.100.502 dan 15.105.815 pada tahun kalender 2019. Merupakan jumlah yang cukup fantastis untuk mendulang rupiah. Film Dilan misalnya, sampai hari ke 9 penayangan kala itu telah menyedot 4.185.000 penonton dan meraupbrupiah sebanyak 62, 77 milyar. (CNBC Indonesia, 19/3/2019)

Namun bila kita cermati dari era 80an hingga saat ini. Film-film yang disajikan sangat didominasi dengan tema percintaan dan pergaulan kawula muda yang bebas tanpa batas. Seolah menempatkan cinta di atas segalanya, film Ada Apa dengan Cinta 1 dan 2, Dilan dan film-film sejenis sangat laris manis di pasaran.

Sejatinya para produser film tidak sekadar menjual film, tetapi juga menitipkan pesan kebebasan dari film-film yang diproduksinya. Sejak jaman “Galih dan Ratna” hingga era Dilan, senantiasa menitipkan pesan liberalisme, sebuah konsep hidup yang mengandalkan kebebasan dan membuang jauh aturan agama dalam pergaulan muda mudi, karena cinta di atas segalanya.

Lalu masih adakah hal positif yang bisa kita ambil dari sebuah film?? Tak banyak yang bisa kita harapkan. Dua Garis Biru misalnya, film yang digadang-gadang bisa memberi edukasi tentang kesehatan reproduksi, justru sarat dengan pesan-pesan percintaan dan pergaulan bebas ala anak muda masa kini.

Selama film hanya dipandang sebagai industri hiburan yang potensial untuk menghasilkan materi dan memberi devisa bagi negara, maka selama itu pula film-film yang dihasilkan akan selalu saat dengan pesan-pesan kebebasan yang bisa sangat merugikan bagi generasi muda sebagai pangsa pasar terbesar industri film Indonesia.

Apakah film bisa menjadi sarana edukasi yang efektif? Tentu saja bisa, bila edukasi yang diberikan sesuai dengan ajaran agama yang lurus. Dimana semua pesan yang disampaikan akan bermuara pada peningkatan keimanan dan ketakwaan.

Tidakkah kita merindu film-film edukatif dan berbobot sekelas film umar bin Khathab dan Muhammad Al Fatih?[]

Bekasi, 21 Juli 2019

*Penulis adalah pegiat dakwah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *