Aroma Liberalisme di Balik Serangan Pembiasaan Hijab pada Anak

Aroma Liberalisme di Balik Serangan Pembiasaan Hijab pada Anak

DW Indonesia mengunggah sebuah video tentang orang tua perempuan yang sedang mengajari anak perempuannya menggunakan jilbab, juga harapan dan keinginan orang tua mereka terhadap “identitas” sebagai seorang Muslim.


Oleh: Yozii Asy Syarifah

POJOKOPINI.COM — Hijab yang beberapa tahun belakang sudah menjadi fashion yang tren di Indonesia. Bukan hanya masyarakat biasa bahkan banyak artis yang sudah memakai hijab, mulai dari kalangan remaja orang tua dan bahkan anak-anak. Namun sayangnya dibalik itu semua ada beberapa orang yang kembali mengusik tentang pemakaian hijab terhadap anak seperti akun sosial media bercentang biru, @dw_indonesia milik Deutsche Welle (Gelombang Jerman). DW Indonesia mengunggah sebuah video tentang orang tua perempuan yang sedang mengajari anak perempuannya menggunakan jilbab, juga harapan dan keinginan orang tua mereka terhadap “identitas” sebagai seorang Muslim.

Dalam postingannya, DW Indonesia mencoba mempertanyakan apakah pemakaian jilbab tersebut, atas pilihan anak itu sendiri atau bukan “Apakah anak-anak yang dipakaikan #jilbab itu memiliki pilihan atas apa yang ingin ia kenakan?

Dan untuk memperkuat argumen mereka, video tersebut juga berisi pendapat beberapa orang psikolog yang seolah-olah berpihak kepada video tersebut, tanpa meminta bagaimana pendapat para ustadz atau kyai tentang hal tersebut.

Kita ibarat tanah jika ditanami bunga, maka rumputpun akan tumbuh. Maka jika kita tidak menanami bunga maka yang akan tumbuh adalah rumput semua. Maka sangat wajar jika sebagai orang tua mengajari anaknya kebaikan sejak kecil, seperti mengajari untuk berhijab.

Anehnya ada kritik terhadap ibu yang mengajari anaknya untuk berhijab tapi pada saat yang sama mereka membiarkan para ibu untuk mengajarinya dance menyanyi dan yang lainnya. Padahal hal tersebut sama-sama sedang mengajari anak menurut kedua orang tuanya.

Maka jika remaja hari ini banyak yang telah terjerumus dalam paham liberalisme. Menjalani hidup dengan gaya serba bebas, seperti free sex, narkoba, pembunuhan dan juga banyak remaja perempuan yang mengaborsi janinnya sangat wajar karena memang sedari awal tidak diajari untuk taat kepada aturan-aturan sang pencipta. Sangat jauh berbeda dengan anak-anak yang memang sedari awal diajari dengan baik, seperti Siti Fatimah Azzahra yang dibimbing langsung oleh Rasulullah SAW. Maka lihat bagaiman Fatimah lahir dan tumbuh besar dibawah pengasuhan Seorang Ayah yang luar biasa sehingga mampu menjaga diri dan kehormatannya dengan sangat baik.

Terkait kewajiban menutup aurat atau berhijab, Allah SWT., berfirman dalam Al-Quran Surah Al-Ahzab ayat 59 yang artinya:
Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin. Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S Al-Ahzab: 59)

Juga dalam Qur’an Surah An-Nur ayat 31 yang artinya:

Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman agar mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.

Saatnya kita tinggalkan gaya hidup liberal dan kembali kepada aturan yang dapat menjaga akidah umat, dengan menerapkan syariat Islam dalam kehidupan. Dengan itu tidak akan ada lagi kata-kata sumbang untuk meninggalkan aturan Islam. Wallahu a’lam.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *