Ayah dan Ibu Kaum Muslimin

Mereka sudah sedemikian terbelenggu olah pemikiran-pemikiran asing dari Barat. Padahal fikrah-fikrah asing yang dijejalkan dalam otak kaum muslimin adalah senjata utama yang dipergunakan Barat untuk menikam Daulah Khilafah hingga mati terbunuh.


Oleh: Ana Frasipa

POJOKOPINI.COM — Dikisahkan, setelah diangkat menjadi Khalifah, Umar Bin Abdul Aziz mengirim sepucuk surat kepada seorang ulama zuhud pada masa genertasi tabi’in bernama Hasan al-Bashri. Dalam surat itu sang Khalifah meminta kepada Sang alim ulama untuk menjelaskan sifat dan ciri-ciri pemimpin yang adil. Lantas Hasan al-Bashri membalas surat tersebut. Salah satu ciri pemimpin yang disampaikan dalam isi suratnya adalah “Ketahuilah Wahai Amirul Mukminin, pemimpin yang adil layaknya seorang ayah yang bijak terhadap anak-anaknya, yang menafkahi mereka semasa kecil dan membantu mereka kala beranjak dewasa, yang membanting tulang demi kebahagiaan mereka dan meninggalkan peninggalan yang berharga untuk mereka setelah tiada.”

Begitu indah nasihat alim ulama zuhud ini. Seorang pemimpin umat dianalogikan sebagai seorang ayah, dan seorang ayah idealnya merupakan sosok yang begitu bertanggung jawab, tulus mencintai anak-anaknya. Maka seorang pemimpin hendaknya menyadari betul bahwa sebuah kepemimpinan adalah amanah yang mesti dijaga dan ditunaikan. Ia bisa menjadi sebuah kehinaan jika dilakukan dengan serampangan, pun bisa menjadi kemuliaan jika ditunaikan dengan sebaik-baiknya sesuai perintah Allah.

Saat ini kaum muslimin telah kehilangan sosok ayah yaitu seorang Khalifah (Imam). Kehilangan ini tak lepas dari berhasilnya barat meruntuhkan Daulah Islam terakhir yaitu masa kekhilafahan Turki Utsmaniyah. Lenyapnya khilafah berarti lenyapnya perisai umat. Sebagaimana sabda Rasulullah ”Sesungguhnya Imam (Khalifah) ibarat perisai; orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung dengannya,” (HR. Muslim, Abu Dawud, An-Nasa’I dan Ahmad). Maka keberadaan Khalifah dan Khilafah adalah mutlak adanya.

Ketiadaaan Khalifah dan Daulah Khilafah merupakan umm al jara’im yakni biang segala malapetaka, kejahatan, dosa dan kerusakan yang menimpa umat Islam. Ialah musibah terbesar yang dirasakan umat. Dengan musibah ini bahkan gambaran utuh bagaimana pemerintahan Islam berjalan dalam sebuah daulah tak lagi ada dalam benak kaum muslimin. Mereka sudah sedemikian terbelenggu olah pemikiran-pemikiran asing dari Barat. Padahal fikrah-fikrah asing yang dijejalkan dalam otak kaum muslimin adalah senjata utama yang dipergunakan Barat untuk menikam Daulah Khilafah hingga mati terbunuh.

Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitabnya Daulah Islam menyampaikan bahwa Daulah Khilafah ibarat seorang Ibu yang dibunuh dengan tragis, namun ironisnya fikrah asing sebagai senjata pembunuh ini malah disodorkan Barat kepada generasi muda muslim. Dan dalam keadaan masih meneteskan darah Ibu mereka. Barat berkata dengan penuh kesombongan ”Sungguh aku telah membunuh Ibu kalian yang lemah itu, yang memang layak dibunuh karena perawatannya yang buruk terhadap kalian. Aku janjikan kepada kalian perawatan yang akan membuat kalian bisa merasakan kehidupan bahagia dan kenikmatan yang nyata”

Mestinya umat sadar bahwa pemikiran asing yang membunuh Daulah sebagai Ibu mereka adalah senjata yang sama yang juga bisa menghabisi mereka di saat mereka berpegang kepada Islam dalam kehidupannya. Pemikiran atau tsaqofah asing telah menyilaukan pandangan sebagaian besar umat Islam saat ini. Mereka mengambilnya dengan penuh kerelaan, padahal tsaqafah asing itulah penyebab keterjajahan dan keterpurukan umat selama ini. Umat merasa inferior dengan ajaran agamanya sendiri. Monsterisasi dan degradasi terhadap ajaran syariah khilafah yang dilancarkan barat sedikit banyaknya memengaruhi kaum muslimin dan menjadi kendala terbesar akan kebangkitan pemikiran umat untuk kembali kepada Islam yang kaffah.

Realitas yang tak bisa dipungkiri, umat Islam saat ini justru menjadi pihak yang terpinggirkan, selalu menjadi tertuduh, dianggap kaum yang kumuh dan jelas mengalami ketertindasan dimanapun eksistensinya. Janji-janji manis demokerasi, nasionalisme, feminisme, liberalisme dan isme-isme barat lainnya hanyalah harapan palsu yang semakin membawa umat kepada titik nadir penderitaan dan malapetaka yang tiada habisnya. Begitulah, keadaan umat di jaman ini, ketiadaan Khalifah dan Daulah Khilafah yang memayunginya tak ubahnya seperti seorang anak yang kehilangan Ayah dan Ibu mereka.

Maka sejatinya urgensi kekuasaan yang terwujud dalam bentuk khilafah untuk menerapkan Islam secara kaffah adalah niscaya. Sebagaimana dikatakan Imam Al-Ghazali dalam Al-Iqtishad fiil I’tiqad : ”Karena itu, dikatakanlah bahwa agama dan kekuasaan adalah dua saudara kembar. Dikatakan pula bahwa agama adalah pondasi (asas) dan kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu yang tidak berpondasi niscaya akan roboh dan segala sesuatu yang tidak berpenjaga niscaya akan hilang lenyap.”

Keluarga yang utuh, adanya ayah dan ibu dan anak-anak yang gembira pastilah menciptakan sebuah harmoni yang indah. Begitupun dengan Islam, Ia akan terlihat indah jika diterapkan secara kaffah. Dan itu tak lain dan tak bukan saat umat dipimpin seorang khalifah dalam naungan daulah khilafah ‘ala minhajin nubuwwah. Wallahu a’lam.[]

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *