Bahkan Trump Posisif Covid19, masih Ingin Pesta Demokrasi?

Bahkan Trump Posisif Covid19, masih Ingin Pesta Demokrasi?

Bahkan Amerika sebagai negara adidaya dunia sekaligus role model negara demokrasi yang ngotot menjalankan pesta rakyat di tengah pandemi, kini orang nomor satu di negara Paman Syam itu telah dinyatakan positif terinfeksi Corona beserta dengan istrinya. Dan penularan ini terjadi dalam rangka persiapan pilpres di AS (kompas.com, 03/10/2020).


Oleh: Jumratul Sakdiah

POJOKOPINI.COM — Pelaksanaan Pilkada di tengah pandemi Corona menuai pro dan kontra dari berbagai kalangan. Sebagian menilai kebijakan ini akan membawa resiko besar bagi penularan virus Corona yang sampai saat ini belum mampu dimatikan laju kenaikan pasien yang terinfeksi. Terdata pada tanggal 2 Oktober 2020, dengan total kasus sebanyak 295.499 jiwa, 63,187 jiwa masih di rawat dan sebanyak 10,972 jiwa dinyatakan meninggal dunia (kompas.com, 02/10/2020).

Di sisi lain, penguasa optimistis tahapan kampanye Pilkada 2020 akan berjalan dengan baik dan aman dari penyebaran Covid-19. Bahkan Mendagri yakin kampanye dapat membantu penanganan pandemi Covid-19, baik dalam hal kesehatan maupun dampak sosial ekonomi.

Saya selaku Mendagri merasa sangat optimis kampanye Pilkada ini akan berlangsung dengan baik, lancar, aman, dan kemudian aman dari gangguan konvensional maupun aman dari media penyebaran Covid, bahkan bisa membantu penanganan Covid,” kata Tito seusai rapat evaluasi kampanye Pilkada di kantornya, disiarkan melalui Instagram Kemendagri (kompas.com, 02/10/2020).

Optimisme penguasa dinilai sangat gegabah, apalagi dilihat dari kebiasaan masyarakat yang abai dan ditambah dengan pelonggaran pada pelanggaran protokol kesehatan saat pilkada dilakukan. Maka hal tersebut akan menumbuhkan sikap acuh tak acuh dalam diri masyarakat terhadap virus yang mematikan ini.

Banyak temuan pelanggaran protokol kesehatan selama tahapan Pilkada ini.
Menanggapi hal itu, Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Mahfud MD mengakui memang ada temuan pelanggaran tersebut. Namun, Mahfud menilai pelanggaran-pelanggaran yang ada tidak fatal (viva.co.id, 01/10/2020).

Ungkapan-ungkapan dari petinggi bangsa ini agaknya telah memaksakan pelaksanaan pilkada di tengah besarnya resiko kematian akibat infeksi virus Corona. Ada apa? Bukankah nyawa rakyat adalah prioritas yang harus dijaga? Sementara Pilkada sebagai ajang pergantian pemimpin bisa ditunda pelaksanaannya.

Masyarakat khawatir akan ada lonjakan besarnya kenaikan angka kasus Corona paska Pilkada serentak dilakukan. Bahkan Amerika sebagai negara adidaya dunia sekaligus role model negara demokrasi yang ngotot menjalankan pesta rakyat di tengah pandemi, kini orang nomor satu di negara Paman Syam itu telah dinyatakan positif terinfeksi Corona beserta dengan istrinya. Dan penularan ini terjadi dalam rangka persiapan pilpres di AS (kompas.com, 03/10/2020).

Resiko penularan saat atau menjelang Pilkada sangat rentan terjadi. Karena akan banyak kegiatan yang mengundang kerumunan, seperti kampanye serta proses pemilihan nantinya. Walaupun menggunakan protokol kesehatan, namun dipastikan dengan kondisi masyarakat Indonesia yang sampai saat ini banyak yang melanggarnya. Bahkan kebanyakan dari mereka telah memutus kepercayaan akan keberadaan virus Corona yang senantiasa mengintai mereka.

Imbasnya, yang kewalahan adalah para tenaga kesehatan yang hampir 8 bulan mereka berjuang melawan Corona. Besarnya resiko kematian serta terus dihantui oleh rasa cemas akan penularan virus tak kasat mata itu. Setiap hari ada penambahan ribuan pasien yang terpapar Covid-19, dengan fasilitas kesehatan yang dipertanyakan dan terus berkurangnya tenaga medis serta seabrek masalah lainnya. Belum lagi berbicara tentang banyaknya masyarakat yang terdampak sampai akhirnya kenaikan angka kemiskinan serta pengangguran yang selalu terjadi setiap harinya.

Oleh Karena itu, seharusnya tak sempat melirik Pilkada, tetapi kenyataannya pelaksanaannya di tengah pandemi dinilai lebih prioritas. Bahkan anggarannya sudah dipersiapkan jauh-jauh hari sebelumnya.

Sehingga dari semua ini perlu dicari benang merahnya. Ketakutan akan hilangnya bangku kekuasaan dan menyegerakan terwujudnya keinginan besar untuk berkuasa.

Bagaimanapun juga, sistem demokrasi akan senantiasa dikukuhkan keberadaannya di dunia, sehingga pelaksanaan pilkada sebagai pesta demokrasi akan tetap terlaksana walau di tengah kondisi mencekam. Inilah masanya eksistensi berkuasa diletakkan jauh di atas keselamatan publik. Wallahu a’lam.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *