Banjir Berita Persekusi Ulama, Kenapa?

Memang, mengalihkan perhatian umat tak cukup dengan sinetron-sinetron percintaan dan tontonan lawakan di televisi, perlu ada satu isu receh yang diperbesar, masalah kecil yang diperspektif sebagai ancaman besar, dan ‘bahaya rekayasa’ yang sanggup betul-betul membuat umat berpaling dari keterpurukan yang dialaminya. Kemiskinan, dekadensi moral, sembako mahal, biaya pendidikan yang menukik tajam, pun pandemi yang semakin marah seolah tak lebih penting dari isu baliho. Pernahkah kita berpikir, untuk apa berita-berita di media itu disuguhkan?


Oleh: Ummu Farhan (Ibu & Pengamat Media)

POJOKOPINI.COM — Inilah masanya berita persekusi terhadap ulama menjadi konsumsi harian saat kita menelaah media. Dengan framing pemberitaan yang mayoritas mencitra bahwa apa yang dilakukan kelompok-kelompok pendukung dan pecinta ulama merupakan sebuah tindakan yang harus bersama-sama dibenci, alhasil muncul persepsi massal tentang pemaknaan negatif terhadap apa yang dibawa oleh ulama langit ini.

Untuk memunculkan ketakutan, itulah yang dituju dari serangkaian ‘tekanan politik’ terhadap ulama dan gerakan Islam. Ulama yang tsiqah dengan perjuangan Islam dan konsisten menyampaikan Al-Haq pasti takkan bisa melebur dengan kezaliman yang marak, para lalim akan menghentikan dan menghadang, itulah sunnatullah. Ketakutan yang muncul tentu saja berimplikasi pada dakwahnya yang dijauhi umat. Apa yang disampaikannya akan dipersepsi sebagai bahaya, padahal itulah kebenaran dan memang kaum pendengki takkan rela umat ini sadar, berpikir kritis, dan bangkit berjuang melenyapkan kezaliman dengan tuntunan Nabiyullah Muhammad Saw.

Memang, mengalihkan perhatian umat tak cukup dengan sinetron-sinetron percintaan dan tontonan lawakan di televisi, perlu ada satu isu receh yang diperbesar, masalah kecil yang diperspektif sebagai ancaman besar, dan ‘bahaya rekayasa’ yang sanggup betul-betul membuat umat berpaling dari keterpurukan yang dialaminya. Kemiskinan, dekadensi moral, sembako mahal, biaya pendidikan yang menukik tajam, pun pandemi yang semakin marah seolah tak lebih penting dari isu baliho. Pernahkah kita berpikir, untuk apa berita-berita di media itu disuguhkan?

Namun di sisi lain arus deras opini yang mengkriminalisasi ulama langit agaknya tak segaris dengan militansi umat yang masih panas. Ada begitu besar gelombang pembelaan yang muncul di tengah-tengah umat untuk menjadi tameng bagi ulama, namun adakah itu lahir dari kesadaran politik Islam ideologis yang matang? Atau sekadar perasaan dan semangat saja? Ini yang harus kita evaluasi bersama.

Jika kita bergerak tersebab perasaan dan semangat, maka ini kelak akan bisa patah dan melemah. Perasaan takkan cukup kuat menopang perjuangan yang berat, harus ada kesadaran politik yang lahir dari pemikiran ideologis. Inilah yang nanti mampu membuat umat ini bertahan dari kepungan isu yang siap merekonstruksi rasa dan rasio umat melalui media.

Meski begitu, penting untuk mengetahui sebab persekusi yang dialami para ulama dan kelompok pengemban dakwah baik di dunia nyata maupun di media. Apa maksudnya persekusi melalui media? Ya, karena media memiliki kemampuan itu, media mampu mencitra dan membentuk persepsi publik. Itulah yang kemudian memengaruhi konatif umat, sehingga umat ini bergerak membenci atau mencinta.

Kenapa Dipersekusi?

Menarik untuk melihat kenapa ada ulama yang dipersekusi sementara ada juga yang mengaku ulama, diikuti oleh banyak orang, didengar pendapatnya, tapi aman dari persekusi. Kita perlu mendeteksi perbedaan keduanya secara objektif dan bersih dari kepentingan perut.

Kalau mau jujur melihat fakta, salah satu yang menjadi pembeda adalah apa yang disampaikannya. Selama yang menjadi konten dalam dakwahnya seputaran nafsiyah, selama itu pula siapun yang menyampaikannya akan dalam posisi aman-aman saja. Konten-konten penyejuk jiwa, memberi ketenangan di tengah kacau balau kesempitan hidup dalam kezaliman dengan menyampaikan qana’ah, motivasi ibadah, dan lain-lain yang dianggap sebagai konten damai.

Namun di sisi lain, saat para pengemban dakwah mulai menyasar kezaliman yang mewabah tersebab maraknya pelanggaran terhadap hukum Allah, sampai kepada pemahaman bahwa ada kerusakan sistemik yang juga harus diselesaikan secara sistemik oleh Islam, maka bersiaplah dilabel intoleran dan radikal. Inilah reaksi alami oleh kedengkian dan kezaliman terhadap Al-Haq.

Saat penguasa secara semena-mena menaikkan harga BBM, misalnya, para da’i yang menyeru untuk meningkatkan ibadah sunnah tentu lebih disukai karena dianggap ‘segaris’ dengan agenda penguasa zalim. Tapi berbeda sikapnya kepada pengemban dakwah yang menyadarkan umat tentang kapitalisasi migas yang dilazimi penguasa tersebab penerapan hukum yang bertentangan dengan syariat Allah, ini pasti diberangus.

Satu lagi, ulama yang punya kedudukan di hati umat, enggan mengikuti agenda penguasa komprador, mereka hadir di tengah-tengah umat sebagai hamba Allah yang jujur terhadap Allah dan umat ini. Mereka berdiri di hadapan jutaan umat yang mencintai mereka, saat satu kata ‘lawan’ keluar dari lisan mereka, maka jutaan umat itu akan bergerak serentak untuk melawan kezaliman. Ini merupakan ‘bahaya’ lain yang menyebabkan persekusi pun kian marak.

Itulah kenapa beberapa pendengki getol sekali secara sistemik melakukan polarisasi untuk memecah belah umat ini agar tak lagi punya kecenderungan terhadap dakwah Islam politik. Ketakutan demi ketakutan yang dimunculkan oleh media memiliki tujuan strategis memenangkan lawan Islam politik, lawan dari kesejahteraan umat, segala sesuatu yang menjadi fakta terbalik dari keadilan yang merata yaitu kezaliman, sekularisme, liberalisme, dan eksistensi kapitalisme yang dilanggengkan oleh penguasa zalim.

Tak Mengulangi Keterpurukan

Jangan berharap media akan menjadi corong umat ini untuk menyuarakan penerapan Islam, karena media pada faktanya merupakan corong bagi sistem terapan. Kapitalisme demokrasi yang berkuasa menjadikan agenda media segaris dengan agenda kapitalisme, ini menjadi konsekuensi logis arus deras opini stigmatisasi, kiminalisasi, dan persekusi terhadap ulama dan gerakan dakwah ideologis. Yang harus dilakukan umat adalah melek literasi media, terus menempa diri dengan pemahaman Islam politik yang benar, bergerak bersama-sama seluruh elemen umat untuk melakukan aktivitas dakwah sebagaimana Nabi Muhammad Saw, tak sedikitpun goyang dan gentar dengan berbagai ancaman.

Media memang mampu merobohkan benteng pemikiran umat, tapi itu semua takkan bisa dilakukan jika kita memiliki kesadaran Islam politik yang khas. Apa yang menimpa ulama kita hari ini adalah wujud dari pertentangan haq dan batil, terang di depan mata bagaimana kita dipolarisasi untuk menjadi saling serang antar sesame umat Islam. Ini merupakan strategi jitu yang mampu mengalihkan kita semua dari problem yang sebenarnya sedang dicoba sampaikan oleh para ulama langit itu untuk bersama-sama kita mengubahnya.

Terakhir, gerakan mem-backup ulama haruslah menjadi gerakan yang sadar politis, bukanlah sekadar karena perasaan semangat heroisme semata. Harus ada pemikiran yang sanggup menjawab pertanyaan, bagaimana menghentikan persekusi terhadap ulama kami? Pertanyaan itu pun harus dijawab secara sempurna oleh ideologi Islam yang tertanam kuat dalam benak, sehingga kita mampu menjangkau solusi kaffah bahwasanya memang hanya sistem Islam dalam Khilafah yang mampu menjaga kemuiaan ulama dan menyelesaikan problem kusut keumatan.[]

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *