Banjir Bikin Mikir: Salah Manusia atau Sistemnya?

Banjir Bikin Mikir: Salah Manusia atau Sistemnya?

Musibah banjir bandang itu, baik di Aceh atau daerah lainya, bukanlah semata-mata merupakan bencana alam tapi ada peran manusia yang ikut andil di dalamnya.


Oleh: Yeni Ummu Athifa (Lingkar Study Perempuan dan Peradaban)

POJOKOPINI.COM — Di tengah kekawatiran akan Covid-19 yang belum jelas kapan akan berakhir. Beberapa waktu yang lalu, banjir mengenangi ibukota dan beberapa wilayah lainya Provinsi Aceh. Dan akibat intensitas curah hujan yang tinggi , Aceh kembali di landa banjir bandang pada Rabu (13/5) petang yang datang tanpa diduga telah menerjang Tiga desa di kabupaten Aceh Tengah, yaitu Desa Paya Tumpi dan Paya Tumpi Induk Kecamatan Kebayakan, serta Desa Daling di Kecamatan Bebesan. (news.okezone.com, 13/05/2020)

Walaupun kabar terakhir tidak ditemukan korban jiwa dan hanya 5 orang yang menderita luka namun akibatnya telah merusak 57 unit rumah dengan rincian rusak berat 31 unit dan rusak sedang 26 unit. Di mana saat itu mereka telah mengungsi ke sejumlah titik, yaitu ke SDN 3 Kebayakan sebanyak 10 KK/33 jiwa dari Kampung Paya Tumpi Induk dan Paya Tumpi Baru. Juga tercatat yang mengungsi ke rumah keluarga sebanyak 15 KK/56 jiwa dari Paya Tumpi Induk dan Paya Tumpi Baru. (Acehtribunnews, 14/05/2020)

Dan bukan sekali ini saja banjir bandang melanda dataran tinggi Aceh. Di penghujung tahun 2018, Aceh Tenggara juga mengalami banjir bandang. Saat itu banjir bandang menerjang 4 kecamatan dan 5 desa yang dihuni 130 KK dan 444 jiwa di Kabupaten Aceh Tenggara,

Berdasarkan data yang diterima, di Kecamatan Lauser bencana terjadi pada 25 November 2018 sekitar pukul 16.00 WIB. Sedang di Kecamatan Badar, Darul Hasanah dan Ketambe terjadi pada 30 November 2018 sekitar pukul 19.50 WIB. (Kompas.com, 03 Desember 2018)

Sama dengan yang terjadi tahun ini, tingginya curah hujan juga disebut penyebab terjadinya Banjir bandang kala itu. Benarkah semata-mata karena hujan? bukannya dari dulu pun curah hujan juga kerap tinggi di wilayah Aceh?

Tentunya pernyataan banjir berkaitan dengan curah hujan yang tinggi tidaklah salah juga. Namun curah hujan bukanlah satu-satunya yang penyebab banjir bandang. Mengapa? Karena penyerapan air permukaan oleh tanah adalah hal yang saling terkait. Makin kecil daya serapannya makin besar kemungkinan banjir terjadi.

Berkumpulnya titik air di bagian hulu sehingga membentuk bendungan air. Ketika curah hujan tinggi, air yang berkumpul di permukaan akan jenuh dan akhirnya bendungan tersebut akan jebol, terjadilah banjir bandang.

Berkurangnya penyerapan air ini bisa saja terhalang oleh beberapa hal antara lain, pertama, banyaknya sampah di sungai yang akhirnya mengedap di dasar sungai. Sampah ini Selain berasal dari daun dan ranting pohon-pohon, sampah juga berasal dari pembuangan sampah sembarangan ke sungai kerap dilakukan warga sekitarnya.

Kedua, lahan sekitar sungai yang sudah berubah fungsi sebagai tempat wisata bahkan tak jarang banyak didirikan bangunan. Dan ini menjadi dilema karena berbagai pembangunan di sekitar sungai dilakukan untuk mendukung program kepariwisataan. Apalagi tanpa ada pengawasan, akibatnya serapan air di sekitar sungai tersebut akan berkurang.

Ketiga, terjadinya penggundulan hutan/penebangan liar pepohonan tanpa di tanam kembali memperparah risiko terjadinya banjir bandang. Fakta maraknya illegal logging sudah menjadi rahasia umum, bagaikan lingkaran setan yang sulit diberantas. Padahal justru illegal logging ini ditengarai penyebab utama terjadinya longsor dan banjir bandang selain curah hujan yang tinggi.

Anehnya, sering illegal logging ini baru terdeteksi ketika pohon-pohon yang telah ditebang itu berada di daerah hilir sungai. Padahal jelas ketika pohon tersebut di potong pasti menggunakan alat pemotong yang suaranya sulit untuk ditutupi. Di mana masyarakat, pengawas lingkungan dan para penegak hukumnya, Bagaimana mungkin bisa terjadi tanpa ada laporan ke pemerintah?

Dari sini dapat ditarik benang merah bahwa musibah banjir bandang itu, baik di Aceh atau daerah lainya, bukanlah semata-mata merupakan bencana alam tapi ada peran manusia yang ikut andil di dalamnya. Terkadang, justru akibat perbuatan manusia yang mengundang bencana datang.

Mengapa? Karena dalam sistem Kapitalisme-Sekularisme, pengelolaan lingkungan hingga pengelolaan negara menggunakan aturan manusia. Pengelolaan lingkungan yang salah kaprah hanya mementingkan segi keuntungan dan mengabaikan pelestarian lingkungan adalah penyebab utamanya. Maka tak heran pemberian izin bagi pengusaha sering kurang memperhatikan faktor kerusakan alam apalagi memihak kepada rakyat kecil. Pengambil kebijakan cenderung lebih memihak kepada pengusaha atau pemilik modal. Hal tersebut karena keuntungan ekonomi dan investasi selalu menjadi tujuan utama.

Ditambah Kurangnya pengawasan dan lemah dari sisi hukum membuat pelanggar hukum tak pernah jera. Tak jarang aparat pemerintah sendiri kongkalikong dengan pengusaha tersebut. Begitu juga dengan penegak hukum, uang bisa membeli hukum dan akan menentukan di pihak mana ia berada. Sungguh tidak akan terjadi kerusakan alam seperti saat ini jika manusia menjalakan dan mengatur alam ini sesuai dengan aturan Illahi.

Maha benar Allah ‘Azza wa Jalla telah berfirman:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ {٤١}

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Al-Rûm [30]: 41)

Karena berbeda dengan Islam, setiap pengelolaan negara hanya berdasarkan aturan yang telah di tetapkan dari Allah SWT. Yang menjadi tujuan utamanya adalah kesejahteraan bagi rakyat. Tidak akan ada kebijakan yang memberikan keuntungan pribadi atau golongan. Karena tugas Negara adalah mengurusi segala kebutuhan dan menjamin keamanan bagi rakyatnya. Dengan di ikuti pengontrolan oleh rakyat/masyarakat dan diperkuat oleh tegaknya hukum tanpa pilih bulu. Sedikit kemungkinan terjadi penyimpangan/penyewengan.

Maka yakinlah dengan melaksanakannya Sistem Islam dan mencampakkan sistem Demokrasi-Kapitalisme ini pasti akan memberikan kemaslahatan dan menghindarkan dari kemudharatan. Inshaallah, dengan sistem Islam keadilan dan kesejahteraan serta jaminan keamanan akan dirasakan oleh seluruh rakyat. Wallahu ‘Alam Bi Shawwab.[]

Gambar/Ilustrasi: Sky News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *