Bank Emok Berkedok Koperasi, Butuh Solusi Hakiki

Bank Emok Berkedok Koperasi, Butuh Solusi Hakiki

Emok sendiri berasal dari bahasa Sunda yang artinya duduk lesehan. Praktik Bank Emok ini memang memberikan pinjaman umumnya kepada ibu-ibu rumah tangga dengan bunga yang mencekik.


Oleh: Nidha Harlia (Bidan Swasta)

POJOKOPINI.COM — Pinjaman mikro ternyata masih digunakan sebagai kedok untuk praktik rentenir. Salah satu yang sedang heboh adalah maraknya praktik Bank Emok di wilayah Jawa Barat. Praktik Bank Emok masih banyak berseliweran dan dijadikan solusi praktis bagi masyarakat yang terbebani oleh kurangnya pendapatan sehari-hari, terlebih adanya kebijakan pemerintah untuk beraktivitas di rumah saja selama pandemi Covid-19 yang tentu saja semakin memperburuk ekonomi masyarakat.

Emok sendiri berasal dari bahasa Sunda yang artinya duduk lesehan. Praktik Bank Emok ini memang memberikan pinjaman umumnya kepada ibu-ibu rumah tangga dengan bunga yang mencekik. Bank Emok belakangan ini marak di wilayah sekitar Jawa Barat dan dianggap sebagai cara baru rentenir beroperasi. Ini sangat meresahkan masyarakat. Bagaimana tidak, seakan tak peduli dengan kondisi mewabahnya Covid-19 dan kondisi terpuruknya ekonomi juga daya beli masyarakat, lembaga tersebut masih berjalan dengan terus melakukan penagihan kepada nasabahnya tanpa rasa empati.

Tidak bisa dipungkiri bahwa Bank Emok adalah aktivitas riba yang diharamkan oleh syariat Islam. Bunga pinjaman yang terselip di dalam akad pinjam-meminjam ini termasuk riba, walaupun jumlahnya sedikit. Haram hukumnya seorang muslim memakan riba dan menjadi pelaku riba.

Fakta di lapangan jarang sekali ada pihak pemberi pinjaman tanpa bunga, bahkan bunga pinjaman akan ditambah denda jika yang meminjam uang telat membayar angsuran. Penyelesaian angsuran macet terkadang dilakukan dengan cara yang kejam, contohnya: menyewa debt kolektor untuk menagih tunggakan angsuran, atau menyita barang berharga yang ada di rumah si peminjam. Jadi Bank Emok bukan memberikan solusi, tapi hanya menambah masalah baru  kepada masyarakat.

Sungguh miris, riba kini semakin merajalela dari kota hingga ke desa-desa terpencil. Masyarakat menengah ke bawah terpaksa meminjam uang kepada Bank Emok karena mengalami kesulitan ekonomi, sulitnya lapangan kerja dan keimanan yang tipis membuat masyarakat mengambil jalan instan dengan pinjaman berbunga (riba) kepada rentenir blusukan yang sekarang dikenal sebagai Bank Emok.

Menjamurnya aktivitas ribawi dengan berbagai model dan cara adalah buah dari diterapkannya sistem kapitalisme. Jantung dari sistem ekonomi kapitalisme adalah riba, yang menjadi akar penyebab segala macam krisis. Kapitalisme adalah ideologi yang rusak dengan sistem ekonomi bersifat imperialisme. Solusi yang ditawarkan pun mengandung kebahayaan terselubung menyasar penguasaan aset bangsa dan negara jajahannya. Indonesia misalnya.

Bank konvensional, syariah ataupun bank Emok adalah wajah-wajah manis pencabut kebahagiaan. Masyarakat diiming-iming cicilan murah dengan bunga yang rendah namun menjauhkan dari syariah. Akibatnya, yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Banyak masyarakat hidup serba pas-pasan bahkan kekurangan tapi luput dari perhatian pemerintah. Sehingga jalan yang mudah bagi rakyat untuk bisa menyambung hidup salah satunya adalah dengan meminjam uang kepada Bank Emok, walaupun tanpa disadari itu adalah solusi yang sangat buruk. Selain uang yang harus dikembalikan berlipat ganda, yang lebih berbahaya adalah riba yang dianggap boleh dan biasa. Padahal dosa riba di sisi Allah sangat besar. Sebagaimana firman Allah Swt:

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya“. (TQS Al-Baqarah : 275)

Lepas tangannya penguasa dalam memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya membuktikan bagaimana penguasa dalam sistem kapitalis sekuler tidak pernah hadir saat rakyat membutuhkan mereka. Rapuhnya tatanan sistem ekonomi kapitalis yang diterapkan di negeri ini telah berdampak pada tergadainya aset negara kepada korporasi yang berakibat pada kemiskinan dan langgengnya penjajahan di bidang ekonomi.

Alhasil, ekonomi negeri ini rapuh dan tak mampu bertahan saat kondisi bencana ataupun wabah seperti saat ini. Sehingga tidak tampak upaya penguasa memberikan penanganan dan memastikan kebutuhan dasar serta menopang pemenuhan darurat pelayanan kesehatan masyarakat khususnya di tengah wabah.

Penguasa adalah pelayan umat, yang seharusnya bisa mengelola kekayaan sumber daya alam untuk kesejahteraan rakyatnya. Tolok ukur kesejahteraan adalah terpenuhinya kebutuhan setiap individu masyarakat. Penguasa harus memastikan kebutuhan setiap rakyatnya terpenuhi dengan baik. Dan apabila terjadi kesulitan ekonomi, maka tugas negara untuk mencari solusinya. Haram hukumnya jika dia berbuat zalim menghimpit rakyatnya dengan melemahkan perekonomiannya.

Dari Abu Maryam al-Azdiy ra, ia berkata kepada Mu’awiyah Ra: saya mendengar Rasulullah Saw. bersabda: “Siapa saja yang diberi kekuasaan oleh Allah mengurusi umat Islam, sedang ia tidak memperhatikan kedukaan dan kemiskinan mereka, maka Allah tidak akan memperhatikan kepentingan, kedukaan dan kemiskinannya pada hari kiamat. Kemudian Mu’awiyah mengangkat seseorang untuk mengurusi segala kepentingan manusia“. (HR Abu Daud dan Tirmidzi)

Sistem kapitalisme sekuler hanya mementingkan para pemilik modal bukan rakyat. Sehingga tak ada lagi rasa prikemanusiaan melihat sulitnya kehidupan rakyat saat ini. Berbeda dengan Islam yang mampu menyejahterakan rakyat. Bukan hanya melalui perhitungan angka tetapi dengan pengurusan langsung. Sebab, Islam memandang bahwa amanah kepemimpinan, pertanggungjawabannya langsung di hadapan Allah, bukan manusia.

Islam memiliki sudut pandang yang khas dalam menilai kemiskinan. Yakni ketika sebuah keluarga tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok, berupa sandang, pangan, dan papan, ketiga hal ini wajib dipenuhi oleh seorang ayah atau suami, sebagaimana firman Allah di dalam al-quran:

Kewajiban ayah memberikan makan dan pakaian kepada ibu dengan cara yang makruf“. (TQS. Al Baqarah : 233).

Ketika ayah atau suami tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan primer ini, maka syariah Islam telah merincikan tatacara membantu memenuhi kebutuhan keluarga tersebut. Mulai dari kerabat terdekat yang memiliki hubungan waris. Dimana pewaris yang dimaksud ialah siapa saja yang berhak mendapatkan warisan. Apabila ia tidak mempunyai sanak saudara maupun kerabat maka kewajiban memenuhi kebutuhan nafkah tersebut jatuh kepada negara, di sinilah peran Baitul Mal, pada pos zakat.

Selain itu, negara wajib memberikan jaminan pendidikan, kesehatan, dan keamanan secara gratis. Sehingga tak akan didapati seorangpun hidup miskin pada masa penerapan Islam. Tidak cukup sampai di situ, negara juga wajib membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya demi memudahkan ayah atau suami untuk dapat memenuhi kebutuhan keluarganya.

Demikian sempurnanya ketika Islam diterapkan dalam seluruh sendi kehidupan secara kafah. Maka tidak mungkin ada aktivitas ribawi yang Allah murkai, selain takut mendapat dosa kehidupan rakyat dibawah kepemimpinan Islam sudah sangat amat layak dan tercukupi dengan baik. Karena negara tidak abai, dan khalifah memberikan solusi terbaik berdasarkan hukum syara untuk setiap permasalahan rakyatnya. Sehingga baik rakyat maupun pemimpin negara tidak berkubang dalam dosa. Wallahu a’lam bi ash shawwab.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *