Belajar dari Corona

Kita dibuat bergidik dengan kondisi akhir-akhir ini. Mereka yang mungkin dulunya tak percaya, menganggap semua hanya sebuah rekayasa semata, hari ini, dengan mata kepala sendiri keberadaan virus bermahkota itu nyata. 


Oleh: Susi Ummu Zhafira

POJOKOPINI.COM — Gelombang pandemi menapaki babak barunya di negeri ini. Pasca libur lebaran, angka kasus covid-19 terus mengalami lonjakan. Beberapa Rumah Sakit rujukan di berbagai wilayah mengalami over kapasitas. 

Tercatat dalam data Satuan Tugas Penanganan Covid-19, sejak Sabtu (26/6/2021) hingga Minggu (27/6/2021) penambahan pasien positif mencapai 21.342 orang. Penambahan kasus per hari sejak pandemi virus corona berlangsung di tanah air akhirnya mencapai rekor tertingginya. Dan angka tersebut juga menempatkan Indonesia sebagai negara nomor satu dengan penambahan kasus harian tertinggi se-dunia (Kompas.com, 27/6/2021). Mengerikan! 

Di Bekasi, viral video yang menunjukkan membludaknya pasien di sebuah rumah sakit. Beberapa pasien terpaksa mendapatkan pemeriksaan di pelataran parkir. Bahkan ada yang tergolek lemah di atas sebuah mobil pikap. Tidak berselang lama, Direktur Utama RSUD Kota Bekasi Kusnanto Saidi membenarkan video tersebut terjadi di Rumah Sakit tempatnya bekerja. 

Berita duka datang silih berganti. Banyak dokter dan tenaga kesehatan yang akhirnya menyerah pada virus yang berasal dari negeri tirai bambu itu. Mereka kelelahan dengan penambahan jumlah pasien setiap harinya.

Kapasitas tempat tidur penuh. Tabung oksigen di pasaran bahkan langka. Di beberapa Rumah Sakit terpaksa mendirikan tenda-tenda darurat demi bisa menampung jumlah pasien yang datang. 

Kita dibuat bergidik dengan kondisi akhir-akhir ini. Mereka yang mungkin dulunya tak percaya, menganggap semua hanya sebuah rekayasa semata, hari ini, dengan mata kepala sendiri keberadaan virus bermahkota itu nyata. 

Sesak. Dada kita dibuat sesak dengan kebijakan tak tentu arah oleh mereka para penguasa. Di awal pandemi, corona dibuat bahan lawakan. Selanjutnya, aturan yang terkesan plin-plan dipertontonkan. Hingga akhirnya varian delta muncul membuat corona semakin menggila di Nusantara.

Pandemi ini memang qada-Nya. Dia hadir di tengah gegap gempita percaturan peradaban durjana untuk menguji kita. Bukankah Allah sudah berikan akal kepada kita? Harusnya kita bisa memetik pelajaran dari kehadiran makhluk kecil bermahkota.

Dari corona kita belajar tentang sabar akan qada-Nya. Allah telah tetapkan dia ada, pasti Allah tahu ini yang terbaik untuk kita. Pun saat kita diuji dengan terkonfirmasi positif misalnya, maka tak perlu kita panik berlebihan. Sabar dan terus berikhtiyar agar Allah berikan kesembuhan.

Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 153, “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Dari corona kita pun belajar untuk menjadi manusia pembelajar. Tanpa belajar dan memahami sebuah fakta, maka kita akan terjebak dengan isu-isu bohong yang tak bisa dipertanggungjawabkan.

Berapa banyak masyarakat yang tak percaya adanya corona? Menganggapnya konspirasi, lalu dia tak peduli pada keselamatan sesama bahkan diri sendiri. Mengabaikan prokes, bahkan mengajak orang lain menyepelekan pandemi. Fatalnya, banyak para pemangku kebijakan yang justru melakukannya. 

Di sinilah kita butuh belajar. Mencari ilmu dari orang-orang yang memilikinya, memahami fakta pandemi yang terjadi. Mereka adalah para ahli di bidangnya. Dengan demikian, kita akan tetap bersabar dan berupaya untuk menjaga keselamatan diri, keluarga dan masyarakat.

Dari corona pula kita belajar bahwa siatem sekuler-kapitalisme adalah sistem durjana. Sistem yang lahir dari akal manusia ini nyatanya tak mampu menanggulangi bencana. Pandemi sudah memasuki tahun ke dua. Bukan semakin menurun tapi justru meroket kasusnya. 

Di sinilah kita memahami urgensi Islam sebagai sistem yang mampu mengatasi seluruh problematika. Dia sistem yang berasal dari Rabb Sang Maha Pencipta. Jadi sebuah keniscayaan dia akan membawa kebaikan bagi umat manusia dan alam semesta.  

Allah telah memperingatkan kepada kita dalam surat Al-Ma’idah ayat 50. Allah berfirman, “Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)?”

Lantas, apa yang bisa kita lakukan agar sistem Ilahi bisa diterapkan di tengah-tengah kehidupan kita? Pelajari, pahami dan perjuangkan! Bagaimana kita bisa tahu konsep Islam yang luarbiasa tanpa mempelajarinya? Pelajari hingga kita memahaminya. Setelah paham maka ada kewajiban untuk mendakwahkannya, memperjuangkan sistem Allah ini agar kembali tegak di muka bumi.

Bersyukur kita masih diberikan nikmat sehat, nikmat waktu yang entah sampai kapan ini akan berakhir. Maka ketika kita masih memilikinya, bersegeralah dalam ketaatan. Bersegeralah dalam dakwah hingga Islam tak hanya sekedar agama ritual semata, tapi menjadi konsep hidup yang mampu menyelesaikan seluruh problematika. Pun dengan persoalan pandemi yang kini mengungkung penduduk bumi. Wallahu a’lam bishawab.[]

DISCLAIMER:Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim dan dipublikasikan sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *