Belajar dari Kisah Sebuah Surat Cinta

Cinta itu fitrah. Allah yang berikan. Ada masa-masa Allah tumbuhkan kecenderungan itu memang. Tapi Islam punya batasan agar kecenderungan itu tak jadi perusak. Kita inilah yang punya kewajiban memelihara fitrah anak-anak kita. Memang sulit jika kita berdiri menjadi tameng atas gempuran kehidupan sekuler seorang diri. Tapi bukankah kita punya Allah yang Maha Besar lagi Maha Menyayangi.


Oleh: Ummu Zhafira (Ibu Pembelajar)

POJOKOPINI.COM — Aku memang punya tubuh tak sekuat itu sehingga baru bisa menuliskan keluh kesahku di balik kisah sebuah surat cinta. Awal bulan lalu, jagat maya heboh dengan beredarnya surat cinta seorang belia. Anak laki-laki yang masih duduk di bangku sekolah dasar itu mengukir sejarah dengan mengirimkan surat cinta pada pujaan hati. Bukan hanya perkara suka biasa, tapi di sana tersirat adanya ajakan untuk melakukan perbuatan maksiat yang sama sekali tak pernah terbesit ada dalam kepala anak seusianya.

Tentu, sebagai ibu aku dibuat terkejut parah. Sedih, marah, kecewa bahkan takut bercampur jadi satu. Aku seorang ibu dengan anak-anak yang juga masih belia. Bagaimana bisa ada anak seusia itu punya keberanian menuliskan kalimat-kalimat kotor yang bahkan tak masuk akal sehatku. Allah, Rabb. Sebegitu rusaknyakah anak-anak kami? Bagaimana bisa? Seberapa jauh kami melangkah sehingga “kutukan” ini harus kami terima. Kehidupan dengan selimut maksiat tanpa tepi. Anak-anak hancur dengan berbagai gempuran dari berbagai lini. Ya Allah, ampuni kami.

Wahai ibu, berhentilah membohongi diri bahwa kehidupan kita baik-baik saja. Kekhawatiran ini bukan perdoalan lebay yang bisa kita abaikan. Tidak! Ini persoalan genting. Sudah cukup fakta bahwa generasi kita mengalami kerusakan akut yang entah bagaimana bisa menyelematkan mereka. Bagaimana tidak, mahasiswanya bermental stroberi hobinya bunuh diri. Siswa-siswinya tak mau ketinggalan, tenggelam pada aktivitas zina hingga tega melakukan pembunuhan. Tak terhitung lagi bayi-bayi tanpa dosa membiru di tong sampah, di pinggir kali, bahkan di kamar mandi sekolah. Nah, kali ini, bocah ingusan yang mestinya masih penuh kepolosan tertangkap basah dengan kisah surat cinta yang membuat dunia ibu menggila. Ada apa? Kenapa? Apa yang salah? Bagaimana semestinya? Ah, sejuta tanya memenuhi kepala demi menyaksikan satu per satu episode mengerikan itu.

Surat cinta itu mesti jadi cambuk keras buatmu, Ibu. Ah, ya buat kita bersama. Kita tak boleh diam. Buka mata lebar-lebar, kerusakan ini bukan sekedar kerusakan internal yang menimpa anak-anak itu. Bukan! Banyaknya kasus menjadi bukti bahwa sistem yang bekerja memang sejatinya membawa dampak kerusakan akut pada anak-anak kita. Kita ini, Bu, tak hanya punya tanggungjawab pada anak-anak yang lahir dari rahim kita saja. Namun kita juga diamanahi Allah sebagai ibu generasi. Ibu yang takkan rela jika generasi penerusnya adalah generasi penghamba maksiat. Jangan terus terbuai oleh nina bobo musuh-musuh Allah. Akal kita harus bekerja optimal untuk menakar semua realita yang ada, menariknya dengan sudut pandang agama kita. Lalu, bersama mencari jalan keluar atas persoalan mengerikan ini.

Cinta itu fitrah. Allah yang berikan. Ada masa-masa Allah tumbuhkan kecenderungan itu memang. Tapi Islam punya batasan agar kecenderungan itu tak jadi perusak. Kita inilah yang punya kewajiban memelihara fitrah anak-anak kita. Memang sulit jika kita berdiri menjadi tameng atas gempuran kehidupan sekuler seorang diri. Tapi bukankah kita punya Allah yang Maha Besar lagi Maha Menyayangi. Tugas kita ikhtiyar terbaik, melakukan pembinaan pada generasi agar mereka tersadar akan jalan hidup yang akan mengantarkan mereka pada kehidupan hakiki.

Selain itu, Bu. Kita memang butuh sistem yang akan melindungi diri untuk menjalankan peran tanpa perlu pusing dengan kewajiban nafkah yang dipaksakan harus kita emban hari ini. Atau kita juga tak perlu risau dengan kondisi tak ideal kehidupan rumah tangga akibat tak pahamnya pasangan hidup tentang hak dan kewajiban sebuah pernikahan. Sistem itu adalah sistem Islam. Sistem ini pula yang akan membantu kita mengarahkan buah hati kita dan seluruh generasi pada tujuan hidup yang haq. Mereka jelas akan paham visi misi hidup di muka bumi. Sebab merekalah pemilik kepribadian Islam yang khas dan dirindui.

Sungguh rasa rindu ini semakin menjadi-jadi. Kita memang harus bersabar menantinya. Namun selayaknya seorang yang beriman, kesabaran itu ada aksi nyata yang kita lakukan untuk menyambutnya. Mempelajari Islam dan mengajarkan adalah cara terbaik yang baginda Rasulullah Saw ajarkan kepada kita. Fokus pada hal-hal yang bisa kita lakukan demi menuai pertolongan Allah untuk mengubah kondisi juga menjadi jalan terbaik. Jangan biasakan diri mencari-cari alasan. Apalagi ujian hidup yang seringkali menjadi persoalan dalam melangkah. Sejatinya dia itu penguat. Allah hadirkan ujian agar kita terbiasa fokus pada apa yang bisa kita lakukan. Bukan malah sebaliknya, menyalahkan keadaan lalu berpaling dan berusaha menghindar dari segala hal yang mesti kita pertanggungjawabkan.

Memeluk erat anak-anak kita tak cukup dengan bahu yang kuat tapi juga butuh ilmu yang hebat. Selama darah masih mengalir, maka selama itu pula kita akan belajar dan berpikir, memproses diri agar bisa menjadi pelindung sempurna bagi generasi. Meski pun seringkali kita terjatuh, tak mengapa. Ada pilihan untuk bangkit kembali, kan? Setidaknya anak-anak kita melihat, ibunya adalah ibu yang bermental kuat. Ibunya adalah yang tak sudi pada kebodohan yang memola. Ibunya adalah yang akan senantiasa bergerak selaras dengan apa yang sudah Rabb-nya perintahkan. Ibunya adalah ibu yang selalu berupaya berjalan pada kemuliaan hidup. Itu semua akan menjadi jejak bagi mereka. Anak-anak kita itu akan menyusuri jalan-jalan yang ibunya tapaki di masa lalu. Kemudian, jejak itu akan menuntun mereka pada sebuah peradaban yang penuh kemuliaan. Saat itu Islam menjadi pemenang, dan mereka pun memenangkan ujian kehidupan hingga Rabb-nya rida. Surga pun menjadi tempat kita istirahat tanpa ada sesi tamat.[]

DISCLAIMER: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim dan dipublikasikan sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.