Beramai-ramai Membunuh Kebenaran agar Bersama-sama Hidup dalam Aib

Beramai-ramai Membunuh Kebenaran agar Bersama-sama Hidup dalam Aib

Beginilah kondisi negeri kita saat ini. Mereka orang- orang yang yang terlanjur rusak, mereka mencela, menyerang, mengucilkan, bahkan membunuh eksistensi penegak kebenaran. Agar kehidupan mereka tetap terlihat baik walau sesungguhnya penuh aib dan dosa. Penuh kepalsuan, penghinaan, pengkhianatan, ketidakberdayaan dan menuju kepada kehancuran yang nyata.


Oleh: Witri Osman

POJOKOPINI.COM — Sebuah kisah inspiratif yang disampaikan oleh seorang ustadzah, beberapa waktu yang lalu pada acara diskusi tokoh muslimah. Agaknya kisah itu cocok dengan kondisi  yang kita alami, terkait dengan dakwah yang kita sampaikan, hingga mengalami pembungkaman dengan berbagai cara.

Segerombolan tantara musuh memasuki sebuah desa. Mereka menodai kehormatan semua wanita yang ada di desa itu. Hanya seorang wanita yang selamat dari penodaan, karena dia melakukan perlawanan. Dia membunuh dan memenggal kepala tentara yang akan menodainya. Ketika seluruh tentara sudah pergi dari desa itu, keluarlah para wanita malang itu dengan busana yang compang camping, mereka meraung, meratap, menangis menyesali diri. Kecuali satu orang wanita tadi. Dia keluar dari rumahnya dengan busana yang rapat menutup aurat dan bersimbah darah, sambil menenteng kepala tentara tadi dengan tangan kirinya.

Para wanita malang itu bertanya, “Bagaimana engkau bisa melakukan hal itu bisa keluar dengan selamat dari bencana ini?” Dia menjawab, “Bagiku hanya ada satu cara, berjuang membela diri atau mati karena menjaga kehormatan.

Para wanita malang itu mengagumi tindakan yang diambil oleh wanita pemberani tersebut. Tiba- tiba rasa was-was khawatir, memenuhi benak mereka, bagaimana jika nanti para suami mengetahui, ada seorang perempuan yang selamat dari tindak penodaan itu. Maka mereka akan bertanya, “Mengapa kalian tidak membela diri sebagaimana wanita yang selamat itu? Bukankah lebih baik mati dari pada ternoda?

Kekaguman merekapun, berubah menjadi ketakutan dan ancaman yang memuncak. Alam bawah sadar mereka seperti menggerakkan mereka secara serentak seolah mendapat komando. Mereka beramai-ramai menyerang wanita pemberani itu dan akhirnya membunuhnya. Membunuh kebenaran, agar mereka bisa bertahan hidup bersama dalam aib, dalam kelemahan, dan fata morgana.

Beginilah kondisi negeri kita saat ini. Mereka orang- orang yang yang terlanjur rusak, mereka mencela, menyerang, mengucilkan, bahkan membunuh eksistensi penegak kebenaran. Agar kehidupan mereka tetap terlihat baik walau sesungguhnya penuh aib dan dosa. Penuh kepalsuan, penghinaan, pengkhianatan, ketidakberdayaan dan menuju kepada kehancuran yang nyata.

Maka sebelum terlambat, pastikan diri kita berpihak pada kebenaran Islam Kaffah. Teruslah istiqamah melakukan penyadaran di tengah- tengah umat dengan apapun yang  bisa dan mampu kita lakukan, sekecil apapun kontribusi kita, akan dapat memperberat timbangan amal saleh kita kelak di Yaumil hisab. Walaupun bahaya besar datang menghadang, kita punya Allah Yang Mahabesar. Wallahu a’lam bishshawab.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *