Berantas Stunting: Negara Harus Benar-Benar Hadir

Berantas Stunting: Negara Harus Benar-Benar Hadir

Persoalan stunting atau bertubuh pendek, adalah bukan hal baru di tanah air. Bahkan World Humanitarian Organization (WHO) menetapkan Indonesia sebagai Negara dengan status gizi buruk. Jika batas toleransi stunting 20 persen atau seperlima dari jumlah keseluruhan balita.

Oleh: Aina Syahidah

WWW.POJOKOPINI.COM — Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengusulkan agar satu keluarga memelihara ayam untuk memenuhi kebutuhan gizi anak demi terhindari dari fenomena stunting. “Perlu setiap rumah ada (memelihara) ayam, sehingga telurnya itu bisa untuk anak-anaknya,” kata Moeldoko di Kantor Staf Presiden (cnnindonesia.com, 15/11/2019). 

Persoalan stunting atau bertubuh pendek, adalah bukan hal baru di tanah air. Bahkan World Humanitarian Organization (WHO) menetapkan Indonesia sebagai Negara dengan status gizi buruk. Jika batas toleransi stunting 20 persen atau seperlima dari jumlah keseluruhan balita. Indonesia malah tercatat 7,8 juta dari 23 juta balita dimana ada 35,6 persen balita terkena stunting. Sebanyak 18, 5 persen terkategori sangat pendek, dan 17,1 persen masuk dalam kategori pendek. Sulawesi Tengah adalah provinsi dengan penderita stunting tertinggi di tanah air, yakni sekitar 16,9 persen (Republika.co.id, 24/01/2018). 

Stunting terjadi akibat buruknya pemberian asupan gizi seimbang pada anak, baik sejak dalam kandungan ataupun pada usia 1000 hari pertama kelahirannya, atau selama dua tahun pasca kelahiran. Fenomena  ini memang tak dapat dihindari hari ini. Dan bertumpu dari salahnya pola asuh ibu terhadap anak. Ada banyak faktor yang kiranya dapat mempengaruhi.

Sebagaimana ungkapan Menteri PNN/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Bambang Brodjonegoro, “Isu stunting bukan hanya sekedar kemiskinan dan kekurangan gizi saja. Saat ini yang terjadi banyak anak mengalami stunting padahal keluarganya tidak miskin. Mengapa? Karena misalkan tidak menggunakan konsep ASI eksklusif, mengkonsumsi makanan instan atau tidak bergizi…”  (Kumparan.com, 25/01/2019).

Minim Edukasi, Tidak Digdaya Ekonomi, Menjadi Pemicu

Dr. dr. Damayanti Rusli Sjarif SpA(K) selaku dokter Anak Spesialis Nutrisi dan Penyakit Metabolik menuturkan,  stunting tidak hanya datang dari keluarga kurang mampu saja, keluarga mampu pun hal ini dapat terjadi. Karena berangkat dari pola asuh yang salah (Kumparan.com, 25/01/2019).

 Harus jujur diakui. Kurikulum pendidikan kita tidak mengajarkan perihal asuh mengasuh anak, ataupun bekal kehidupan berumah-tangga sejak dini. Walhasil tidak salah, bila ilmu keibuan dan kerumahtanggaan, sedikit sekali yang menguasai. 
Sebab sejak awal, ilmu tentang pola pengasuhan anak secara baik dan benar tidak tersilabuskan dalam kurikulum pendidikan kita. Sebagaimana ilmu tentang kehidupan lainnya. Kalau pun ada, itu hanya di dunia kampus, dimana tidak semua kalangan mampu menjamahnya. Hanya orang-orang tertentu saja.  
Dahulu para generasi dapat memperoleh ilmu ini dari orang tuanya. Namun seiring dengan berjalan waktu, generasi pun berganti, kebiasan itu akhirnya terkikis oleh zaman.  Di era kapitalistik, wanita berperan sebagai mesin penggerak ekonomi. Perihal mengasuh anak tidak lagi menjadi prioritas utamanya. Ditambah lagi dengan melangitnya gaung kesetaraan.

Maka tidak mengherankan bila kebanyakan orang akan menomorduakan urusan pengasuhan. Padahal keberadaan ibu dengan pengasuhannya adalah hal terpenting, bagi utuhnya peradaban bangsa dan agama ini kedepannya. Sakitnya generasi hari ini, adalah ancaman bagi kelangsungan kehidupan nanti. 

 Jim Yong Kim selaku Presiden Bank Dunia turut menyadari hal ini. Dalam kesempatannya ia menuturkan,  stunting adalah masalah serius yang harus segera ditangani di sejumlah negara berkembang. Sebab kondisi ini akan mengancam kelangsungan langit perekonomian ke depannya (Kumparan.com, 25/01/2019). Sekalipun ungkapan ini lahir di atas kacamata kapitalis, tapi sinyal betapa bahayanya stunting itu terlihat. 

Selain minim edukasi. Kita juga tersandera dengan sistem ekonomi yang berhaluan neoliberalisme. Hal inilah yang membuat bangsa ini kesulitan dalam hal pemenuhan segenap kebutuhan rakyatnya. Urusan rakyat diserahkannya pada mekanisme pasar atau swasta. Walhasil apa-apa rakyat harus beli dengan harga mahal. Maka tidak mengherankan, bila sampai pada perkara makan sehari-hari saja rakyat kesulitan. Belum lagi, jika sang Keluarga harus membayar biaya pendidikan, kesehatan, listrik dan hal lainnya. Yang mana hari ini, semua itu dipatok dengan harga tinggi, bukan? 

Negara Harus Hadir!

Sepatutnya negara tidak sekedar membuat gerakan nasional yang bertumpuh pada keaktifan anggota masyarakat yang menjalaninya. Negara juga harus turut menciptakan kebijakan yang menyeluruh, menghapus kemiskinan, menstabilkan harga-harga kebutuhan pokok melalui pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) dengan baik dan benar. Serta memaksimalkan pemberian layanan terhadap kebutuhan masyarakat secara gratis dan berkualitas.

Mengandalkan pada gerakan nasional menjadi ukuran bahwa negara kian ingin berlepastangan terhadap pemenuhan urusan kemaslahatan rakyat. 
Malu rasanya, negeri yang gema ripa loh jinawi ini, dilabeli sebagai negara dengan status gizi yang buruk. Padahal lahannya subur, segalah rupa tanaman bergizi dapat tumbuh.

Mari Mengambil Hikmah, Dari Sang Amirul Mukminin 

Di masa pemerintahan Umar bin Khathab, pernah terjadi kasus seorang ibu dan anak-anaknya yang tidak dapat makan di suatu hari.  Kala itu, sang Ibu berpura-pura menyalakan tungku. Lalu beraktivitas sebagaimana umumnya orang tengah memasak. Tangis anak-anaknya kian membesar. Pertanda kelaparan luar biasa melanda mereka. Amirul Mukminin yang saat itu tengah melakukan patroli. Mendengar tangisan tersebut. Sang Umar pun singgah. 

Betapa terpukulnya Ia, tatkala menyaksikan sang Ibu memasukan beberapa bongkahan batu dalam periuknya, dengan tujuan untuk mengelabuhi tangis anak-anaknya. 

Apa yang dilakukan sang Khalifah ketika itu? Apakah menyuruh sang Ibu menanam gandum agar kebutuhan mereka terpenuhi?  Tidak. Umar memanggul sendiri perbekalan makan untuk si ibu dan anak-anaknya. 
Umar juga memerintahkan para wali untuk memastikan, apakah kebutuhan hidup rakyat telah terpenuhi atau tidak. Umar sebagai pemimpin kala itu menyalurkan sendiri perbekalan makanan bagi si Ibu dan anak-anaknya. Sebab begitulah harusnya ia bertindak, sebagai pelayan atas rakyatnya.

Bukankah demikian pula harusnya pemerintah kita hari ini bertindak? Jika stunting lahir dari minimnya asupan gizi yang seimbang pada generasi. Negara harus hadir memberi. Begitu pula dengan hal edukasi. Bukankah semua menjadi tanggungjawab penguasa? Wallahu’alam.[]

_________________________________________
Tanggung jawab tulisan kiriman ini sepenuhnya ada pada penulis. Pojokopini.com merupakan media yang terbuka atas segala pendapat kritis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *