Berdamai dengan Corona?

Berdamai dengan Corona?

Semestinya kita juga bisa mengambil banyak pelajaran dari kisah Corona. Sistem Sekuler-Kapitalis yang diadopsi negeri ini telah menunjukkan kegagalannya dalam mengurus urusan rakyat.


Oleh: Susi Ummu Zhafira (Pegiat Literasi)

POJOKOPINI.COM — Sebelumnya, penguasa getol mengimbau masyarakat untuk memerangi corona. Berbagai anjuran dilakukan. Hingga terakhir menetapkan PSBB sebagai langkah penanganan kasus Covid-19. Namun, baru-baru ini, yang terjadi justru penguasa mengeluarkan pernyataan agar masyarakat bisa hidup berdamai dengan virus yang berasal dari Cina itu. (CNNIndonesia.com, 7/5/2020)

Memang sulit, harus menjalani kehidupan dengan segala keterbatasan. Berdiam diri di rumah sepanjang hari juga membuat masyarakat bosan. Namun, bukan berarti mereka harus semberono. Melakukan aktivitas tanpa mematuhi protokol kesehatan yang ditetapkan. 

Memang benar, kita semestinya berdamai dengan Corona. Menerima ketentuan Allah atas ujian dari makhluk kecil tak kasat mata itu. Bukankah hal ini memang diluar kendali manusia? Makhluk kecil yang telah melambatkan gerak dunia itu hadir atas ijin-Nya.

Justru dengan kehadirannya, kita semestinya sadar. Bahwa Allah Mahakuasa atas segalanya. Manusia hanyalah makhluk lemah tanpa daya. Tapi bukan berarti kita lantas berdamai tanpa melakukan upaya menjaga diri dan mencegah penyebarannya. Bersikap abai, lalu melakukan aktivitas-aktivitas yang bisa membahayakan diri dan orang lain.

Misalnya, memaksakan diri untuk bisa mudik lebaran karena ada kelonggaran. Karena per 7 Mei lalu, telah diizinkan untuk beroperasinya kembali semua moda trasnportasi. Mudik lebaran menjadi impian untuk semua warga urban, tapi bukan berarti kita lalai dan bisa menjatuhkan banyak korban.

Begitupun penguasa sebagai pengurus urusan rakyat. Berdamai dengan corona bukan berarti mengabaikan keselamatan jiwa warganya. Bagaimana bisa penguasa plintat plintut dalam mengambil kebijakan. Lalu membuat banyak istilah yang justru membingungkan warga.

Rezim dalam sistem Sekuler-Kapitalis memang selalu memperhitungkan untung-rugi dalam setiap kebijakan. Tak peduli nyawa rakyat dikorbankan. Mereka lebih mengutamakan kepentingan segelintir korporat di balik topeng keselamatan ekonomi bangsa.

Bangsa yang mana?! Rakyat sudah sejak lama hidup melarat. Ekonomi rakyat sudah hancur lebur jauh hari sebelum Corona menghampiri. Bukannya sejak dulu kebijakan-kebijakan penguasa bisa didebat efektivitasnya? Daya beli masyarakat semakin merosot. Harga kebutuhan pokok merangkak naik membuat masyarakat semakin terpojok.

Bertambah-tambahlah kepedihan rakyat, ketika penguasa lamban dalam menghadapi masa pandemi. Kehidupan rakyat semakin susah. Berkeliaran di luar rumah salah sedangkan berdiam diri pun beresiko tinggi. Karena tidak adanya jaminan kebutuhan bagi rakyat di daerah pandemi.

Ketidakkonsistenan kebijakan yang diambil pun memperlihatkan kegagalan negara dalam melindungi rakyatnya. Setelah menetapkan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) sebagai upaya memerangi Corona, menyusul penguasa mengeluarkan keputusan pelarangan mudik dan penutupan akses jalan demi mencegah penyebaran virus dari para pemudik. Namun, tak lama berselang, tiba-tiba penguasa memberikan izin beroperasinya kembali seluruh moda transportasi meski dalam jumlah yang terbatas.

Ini menggelitik, lucu. Masyarakat pun akhirnya kebingungan. Lantas, mereka mengambil sikap masa bodoh terhadap setiap anjuran yang dikeluarkan. Hal ini terlihat bagaimana keramaian muncul di mana-mana. Jalanan pun mulai padat seperti biasa. Pedagang kali lima yang menjajakan dagangannya di sore hari menjelang berbuka pun kembali seperti biasa. Masyarakat berjubel tanpa ada jaga jarak. Bahkan beberapa di antaranya santai tanpa menggunakan masker.

Padahal, intaian Corona masih saja belum mereda. Justru data terakhir menyebutkan kasus tertinggi terjadi per 13 Mei lalu, yaitu berjumlah 689 kasus. Untuk itu, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) meminta kepada pemerintah agar tidak melonggarkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) sampai ada data yang jelas terkait pengendalian pandemi. (Detik.com, 14 Mei 2020)

Harusnya penguasa mau mendengarkan anjuran-anjuran para ahli. Mengambil kebijakan-kebijakan yang efektif dan efisien demi memutus mata rantai penyebaran virus. Sehingga, bisa menekan jumlah kasus yang ada, sampai negeri ini dinyatakan bersih dari virus corona.

Semestinya kita juga bisa mengambil banyak pelajaran dari kisah Corona. Sistem Sekuler-Kapitalis yang diadopsi negeri ini telah menunjukkan kegagalannya dalam mengurus urusan rakyat.

Berbeda dengan Islam. Sistem Islam melahirkan kepemimpinan yang menjalankan amanahnya karena ketaqwaan kepada Allah. Tugasnya adalah mengurusi urusan kaumnya tanpa terkecuali. Memastikan keselamatan bagi setiap rakyat tanpa mempedulikan kepentingan pribadi. Sungguh sekembalinya kehidupan Islam nanti, kebaikan akan menyelimuti seluruh penjuru bumi.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *