Bergerak atau Mati?

Bergerak atau Mati?

Akhirnya kita harus bercermin, di dunia semacam ini, apa posisi dan peran kita sebagai Muslim. Akankah kita diam, bersikap pragmatis menerima sebagaimana adanya, seperti ikan yang menggelepar menunggu dalam sekarat, diam membisu dalam antrian kematian?


Oleh: Ana Frasi

POJOKOPINI.COM — Bayangkan jika suatu makhluk bukan hidup dalam habitat aslinya, ambil contoh ikan, habitatnya di air lalu kita ambil dan kita biarkan di darat tanpa air. Apa jadinya, tentu ia akan sekarat, badannya menggelepar-gelepar, insang sebagai alat bernafasnya mengalami gagal fungsi . Perlahan tapi pasti ia menuju sekarat dan berakhir dengan kematian. Selesai sudah.

Itulah kita, umat Islam saat ini, seperti ikan tanpa cukup air, megap-megap nyaris sekarat. Ya kita tak hidup dalam habitat yang semestinya. Kita hidup dalam kegelapan, kesuraman. Maka tengoklah, setiap kita membuka jendela rumah, kita hanya melihat, mendengar bahkan merasakan kerusakan di setiap sudut belahan dunia. Manusia tak lagi berlaku selayaknya manusia, mereka seolah bertransformasi menjadi mutan baru, makhluk yang sangat ganas, yang hanya demi harta, takhta dan syahwat rela melakukan apa saja, tak mengenal lagi baik dan buruk, terpuji dan tercela. Pun jika masih ada, hanya nampak dari simbol-simbol tak bermakna dalam narasi kosong para pemimpin rakus, yang bertahta jumawa di atas tumpukan derita rakyatnya.

Kezaliman adalah hal biasa, makanan sehari-hari yang disajikan media di setiap sudut rumah, bahkan dalam genggaman tangan. Lihatlah fenomena manusia perahu Rohingya, Penjajahan Zionis atas Tanah Palestina, Suriah, Uyghur, dan mungkin di sudut lain yang senyap, jauh dari jangkauan mata kita. Sungguh derita yang tiada habisnya. Tak kalah miris di dalam negeri kita sendiri, rakyat lebih dari menjerit, mereka tercekik dengan kehidupan yang tak lagi bersahabat. Biaya hidup semakin tak terjangkau, tak bisa sehat tanpa uang, ibadah yang tak tenang. Dosa dan maksiat bertebaran, sesuatu yang dianggap lumrah, tak lagi dianggap menjajah keimanan. Penguasanya? Jangan tanya, entah mereka hidup dalam dimensi apa. Hadirnya seperti hantu, menakutkan di setiap desah nafas kaum marginal.

Tidakkah setiap relung hati kita bertanya, apa penyebab semua ini. Dunia seperti terbalik, benar salah semakin bias, setiap kita nyaris mati kelelahan sekedar mencari keadilan pun setitik kebahagiaan. Sedangkan jika meraba masa lampau, saat Rasulullah datang sebagai utusan Allah membawa cahaya, mengeluarkan manusia dari gelapnya kejahiliyahan. Habis gelap terbitlah terang. Agama jadi pegangan, mendarah daging dalam setiap sendi-sendi kehidupan.

Berabad-abad kemudian, manusia gemilang dalam peradaban penuh cahaya, Islam menguasai dunia. Lalu bagaimana dengan hari ini, umat terpekur layu, disibukan urusan perut dan bawah perut, menjadi santapan empuk serigala kapitalisme, memang tidak sepenuhnya mati layaknya ikan tanpa air, namun apa bedanya, hidup dengan hati yang mati. Mati dari cahaya ilahi, hidup dalam kendali materi, dimana kepuasan jasadiah jadi yang utama. Ketaatan kepada hukum illahi seolah bukan milik setiap diri.

Begitu kuatnya cengkeraman kapitalisme barat di leher-leher kaum muslimin. Tak mengherankan, karena kita hidup dalam naungannya. Sebuah sistem yang jauh dari nilai-nilai Ilahiyah, agama hanya sekadar urusan pribadi pemuas spiritualitas di kala jiwa kering dan hampa. Tak lebih tak kurang. Begitulah peradaban sekuler barat, semesta dan isinya dipandang semata mata “profane” tidak ada keterkaitannya dengan unsur Ketuhanan. Tidak ada kewajiban Alam semesta dan semua makhluknya tunduk pada Sang Pencipta, hidup dibiarkan suka-suka mengikuti kehendak bebas manusia.

Akhirnya kita harus bercermin, di dunia semacam ini, apa posisi dan peran kita sebagai Muslim. Akankah kita diam, bersikap pragmatis menerima sebagaimana adanya, seperti ikan yang menggelepar menunggu dalam sekarat, diam membisu dalam antrian kematian?

Orang-orang beriman pastinya merasakan sesak di dada, nyeri di ulu hati atas musibah yang menimpa umat ini. Hal yang mungkin tak pernah terbayangkan ketika masa-masa Rasulullah menjadi pemimpin diantara orang-orang beriman. Keadaan mereka diliputi ketentraman dan suasana keimanan. Sebuah barang langka di jaman ini ketika kuasa dalam genggaman tirani.

Hidup adalah pilihan, Allah berikan kita akal pikiran untuk memilih dan memilah. Al Quran sebagai tuntuan dan pedoman hidup , dan Rasulullah sebagai suri tauladan. Tak ada yang kurang, Pilihan ada di tangan kita. Diam atau bergerak mengubah gelap menjadi cahaya. Dan peran itu sungguh tak mudah, kita harus keluar dari zona nyaman, mengambil risiko, bergerak atau syahid, tidak sekadar puas atas keshalihan pribadi. Namun bangkit pula menjadi penyeru kepada saudaranya yang lain. Mengubah kemungkaran mejadi ketaatan. Menjadi agen pengubah, membangkitkan ghirah umat kembali menjadi kiblat peradaban cemerlang.

Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman’” (HR. Muslim).

Lalu masihkan kita akan diam dan rela tergolong manusia dengan selemah-lemahnya iman?[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *