Blokir Film Khilafah: Kekalahan Intelektual dan Penguburan Sejarah?

Blokir Film Khilafah: Kekalahan Intelektual dan Penguburan Sejarah?

Umat perlu menyadari bahwa upaya penghalangan sejarah Khilafah adalah kekalahan intelektual, hipokrisi demokrasi dan upaya sistematis untuk mengubur sejarah khilafah di Nusantara.


Oleh: Fadilah Rahmi, S.Pd (Aktivis Dakwah)

POJOKOPINI.COM — Dilansir dari GALAMEDIA – Pemblokiran penanyangan Film ‘Jejak Khilafah di Nusantara‘ menuai polemik di kalangan masyarakat. Film tersebut diblokir di tengah-tengah siaran langsung secara virtual. Sebelumnya, film Jejak Khilafah di Nusantara (JKDN) diluncurkan pada Minggu (2/8/2020) lalu, dibuat oleh Nicko Pandawa dan Komunitas Literasi Islam. Hingga Jumat 21 Agustus 2020, terlihat tayangan video itu sudah dilihat hingga 278.372 kali (terkini.id).

JKDN bercerita soal hubungan Indonesia yang dulu disebut Nusantara yang mempunyai kaitan erat dengan pemerintahan Khilafah Ustmaniyah Turki. 

Perlu diketahui bahwa Khilafah sendiri diartikan sebagai “Kepemimpinan umum bagi kaum muslimin seluruhnya di dunia untuk menerapkan hukum-hukum syariah Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia.” (Taqiyuddin An Nabhani, Al Syakhsiyyah Al Islamiyyah, 2/13).

Kejayaan Khilafah terbukti berhasil membebaskan beberapa negeri di beberapa belahan dunia dari perbudakan manusia dan sistem kufur buatan manusia, tak terkecuali ada di bumi Nusantara yang pernah mengakui ba’iatnya kepada daulah Khilafah Islamiyyah.

Hal ini tentu saja menjadi ketakutan tersendiri bagi para penjajah dahulu maupun penjajah neo-liberalisme saat ini. Begitu juga dengan para penguasa yang menjadi kaki tangan para penjajah asing dan aseng. Mereka sangat tidak menginginkan jika masyarakat terutama kaum Muslim mengetahui tentang apa itu Khilafah yang sebenarnya, dan pengaruh besarnya terhadap bumi Nusantara seperti Indonesia.

Sebab, jika masyarakat terutama kaum Muslim menyadari betapa besar peran Khilafah menyebarkan Islam di Indonesia maupun di dunia, yang akhirnya membangkitkan taraf berpikir masyarakat pada masa-masa penjajahan, serta membangkitkan semangat jihad pada saat itu. Membuat bangsa Indonesia berhasil mengusir penjajah, dan besarnya bantuan negara Khilafah dalam melawan penjajah, seperti bantuan militer maupun pasukan ahli perang.

Tentu saja hal ini dapat membuat masyarakat menyadari bahwa Khilafah pernah ada dan tidaklah seperti yang distigmakan oleh kaum kuffar dan antek-anteknya. Serta bisa saja memicu kembali keinginan masyarakat terutama kaum Muslim untuk bangkit dan menginginkan kembali diterapkan Khilafah Islamiyyah.

Jika hal ini terjadi, akan sangat membahayakan bagi para penjajah asing aseng beserta para anteknya. Sebab, jika masyarakat menyadari sejarah masuknya Islam pertama kali bukanlah berasal dari teori Gujarat seperti yang selama ini dipelajari di sekolah, dan bagaimana Khilafah yang sebenarnya di dalam Islam. Maka, hal ini akan membuat perjuangan mereka selama ini sia-sia dalam mengaburkan dan mengubur jejak Khilafah di Nusantara serta peran pentingnya.

Dan jika kaum Muslim memahami sejarah yang sebenarnya dan mengambil pelajaran dari sejarah tersebut, apa yang membuat mereka bangkit dan apa membuat mereka mundur. Hal ini tentu akan sangat berbahaya bagi penjajah kuffar. Walaupun sejarah bukanlah sumber hukum. Namun, sedikit banyak pelajaran dapat di ambil dari sejarah tersebut.

Inilah penyebab rezim yang memiliki kepentingan pada sistem sekuler ini, yang merupakan kaki tangan penjajah kuffar. Begitu gencar dan masif membuat propaganda yang menjelek-jelekkan Khilafah, memberi label negatif dan membuat masyarakat enggan dengan Khilafah.

Sehingga tak ayal dilakukan moderasi Islam pada buku pelajaran agama Islam di sekolah-sekolah, dengan mengurangi materi Jihad dan menyebutkan bahwa Khilafah tak relevan di Indonesia. Dan yang baru saja terjadi yaitu memblokir penayangan film JKDN tersebut.

Umat perlu menyadari bahwa upaya penghalangan sejarah Khilafah adalah kekalahan intelektual, hipokrisi demokrasi dan upaya sistematis untuk mengubur sejarah khilafah di nusantara.

Seharusnya, jika kaum pendengki benar-benar ingin melakukan perang pemikiran. Maka, mereka melawan pemikiran dengan pemikiran. Yaitu dengan membuktikan bahwa fakta-fakta dalam film tersebut tidaklah benar. Bukan dengan memblokir film yang sudah jelas kebenarannya dengan melalui penelitian yang bersifat ilmiah.

Terlebih, sejak dulu mereka selalu mengaungkan demokrasi yang terdapat hak kebebasan berekspresi dan berpendapat. Jika memang mereka pro dengan demokrasi. Maka, seharusnya mereka membiarkan penayangan film tersebut sebagai bentuk kebebasan berpendapat dan berekspresi.

Selain itu, film tersebut dibuat oleh para pakar sejarah dan menyampaikan kebenaran sesuai fakta, serta tidak melanggar hukum yang berlaku di Indonesia. Apakah kebebasan berpendapat dan berekspresi hanya boleh dilakukan oleh para penguasa saja? Jika dilihat fakta yang ada, agaknya tentu saja memang begitu adanya.

Khilafah adalah ajaran Islam, yang tentu saja sebagai kaum Muslim kita harus menerapkannya kembali. Agar kaum Muslim di seluruh dunia dapat bersatu di bawah satu kepemimpinan dan satu negara, dapat menerapkan syariah Islam secara menyeluruh, serta mengemban risalah Islam ke seluruh dunia.

Oleh karena itu, jangan pernah takut untuk menyuarakan dan mendakwahkan Khilafah walaupun ditentang oleh para penguasa. Sebab, kebenaran tidak dinilai dari sukanya rezim atau tidak. Selama yang kita dakwahkan bersumber dari Islam, dan merupakan perintah Allah Swt.

Kemenangan itu ada syaratnya, dan kejatuhan itu ada sebabnya.” Itu yang dijelaskan oleh Dr Raghib Sirjani ketika mentadabburi ayat “Sungguh, telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah…” (QS 3:137). Mari kita belajar dari sejarah untuk mencari resep-resep kebangkitan itu (@gen.saladin).

Pemblokiran film tersebut mengajarkan kepada kita bahwa musuh-musuh Islam saja begitu yakin akan tegaknya kembali Khilafah Islamiyyah sehingga mereka berusaha untuk menghalanginya. Seharusnya kita yang mengakui diri beriman kepada Allah harus lebih yakin dengan bisyarah Rasulullah Saw. tersebut.

Khilafah akan tetap kembali memimpin dunia sebagaimana sabda Rasulullah Saw.: “…Setelah itu akan terulang kembali periode khilafah ‘ala minhaj nubuwwah. Kemudian Nabi Muhammad Saw diam.” (HR Ahmad).
Wallahu a’lam bish-shawab.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *