Body Shaming Akibat Liberalisme dan Body Positivity Bukan Solusi

Body Shaming Akibat Liberalisme dan Body Positivity Bukan Solusi

Oleh : Jartika (aktivis dakwah kampus)

WWW.POJOKOPINI.COM — Tidak ada habisnya bila berbicara soal wanita, Mereka selalu menarik untuk di perbincangakan. Mereka juga sangan identik dengan keindahan dan kecantikan yang mempesona. Namun seiring berjalannya waktu dan ber-ubah zaman, banyak wanita yang salah memahami makna kecantikan. Sehingga mengharuskan mereka tergerus dengan arus yang merugikan mereka.

Hari ini, kecantikan bagi perempuan adalah hal yang paling utama, bahkan mereka rela menghabiskan uang puluhan bahkan ratusan juta dan mereka mau melakukan apapun juga hanya untuk di katakan cantik. Sekilas di lihat tidak ada yang salah, karena merekapun harus mampu bersaing dengan dunia beuty. Dimana dunia beuty sekarang menuntut semua wanita untuk tampil cantik dengan kreteria kulit putih, tubuh langsing, rambut lurus, wajah mulus, tinggi dan sebagainya. Sehingga bagi wanita yang tidak memenuhi kreteria ini dan tidak mempunyai biaya untuk mengubahnya maka mereka akan merasa tidak pede, minder, stres bahkan tidak sedikit orang yang kemudian membulli.

Hari inipun sedang marak-maraknya kasus membullian atau body shaming terhadap tubuh seorang wanita. Di lansir dari (liputan6.com) lebih dari sepuluh orang dewasa pernah mengalami body shaming atau olokan/kritikan mengenai bentuk tubuh. Dalam survei yang melibatkan 2.000 orang dewasa, sekitar 56 persen pengatakan pernah menjadi korban body shaming dalam setahun trakhir. Detik. Com- Bahkan ada 966 kasus penghinaan fisik yang tangani oleh pihak kepolisisan.

Di karenakan begitu banyak penghinaan yang tidak wajar kepada kaum perempuan, sehingga beramai-ramai kemudian mengkampanyekan body positivity. Bahkan yang ikut serta di dalamnya dari kalangan publik figur. Banyak cara untuk menyuarakan tentang body positivity salah satunya dengan memposting gambar dan caption di akun sosial media mereka.

Salah satunya dari artris Tara Basro yang mengunggah foto yang berpakaian begini di akun instagramnya. Lebih kurang dia ingin menyampaikan untuk selalu percaya dengan tubuh kita sendiri. Tidak lama kemudian warganetpun merespon dan memberikan dukungan terhadap postingan ini. Karena mereka menggap ini adalah bentuk kampanye body positivity dan berhenti untuk membuli.

Namun di samping dukungan itu semua, banyak kalangan yang menganggap bahwa poto ini mengarah kepada pornografi. Walaupun komnas perempuan, Mariana Amiruddin menyatakan bahwa maksud dari poto tersebut tidak mengarah kepada pornografi atau membangkitkan hasrat seksual tapi hanya menyatakan kepercayaan kepada tubuhnya.

Dari ini nampak bahwa sistem hari ini tidak bisa menjelaskan batasan sebenarnya mana yang dianggap pornografi dan bukan sehingga bisa di kenakan sanksi atas pelanggaran UU ITE. Tapi karena tidak jelas batasan pornografi dan di jaminnya kebebasan berekapresi di negeri ini maka tindakannya tersebut tidak bisa diberikan sankai sebagaimana mestinya.

Ternyata body positivity ala kapitalis hari ini juga bukan solusi untuk memberikan keamanan kepada para wanita Indonesia. Karena body positivity tidak akan lahir kalau tidak ada body shaming dan body shaming juga tidak akan lahir jika negeri ini tidak mengadopsi sistem sekuler dan kapitalistik. Sistem kapitalistik hari ini menjadikan tubuh perempuan sebagai alat penarik keuntungan sehingga tidak dipungkiri akan banyak pelecehan dan ekploitasi terhadap tubuh perempuan. Ajang kecantikan di adakan dimana-mana untuk bisa mendapatkan keuntungan.

Sedangkan di dalam Islam tubuh seorang perempuan sangat dimuliakan tidak ada yang namanya body shaming sehingga tidak melahirkan body potitivity. Karena setandar dari kecantikan wanita di dalam Islam bukanlah bentuk tubuh, kulit atau rupa. Setandarnya cukup dengan aturan Islam.

Islam memerintahkan kepada seluruh muslimah untuk menutup aurat secara sempurna, menundukkan pandangannya, tidak berwangi-wangian, tabaruj (berlebih-lebihan) dalam berdandan. Dan mereka kedududukannya juga di rumah saja tanpa harus bekerja ataupun berkarir setinggi-tingginya. Tidak ada larangan di dalam Islam untuk mereka bekerja tetapi mereka mulia jika menjadi generasi ummu waratulbait dengan mencari ilmu sebanyak-banyaknya.

Negara juga mem fasilitasi penjagaan terhadap para wanita dimana sistem pergaulan antara laki-laki dan perempuan di atur begitu ketat sehingga mereka tidak pernah di lecehkan atau hanya di jadikan sebagai alat pemuas nafsu. Di samping itu negara memberikan sanksi yang tegas terhadap mereka yang menyebar konten pornografi/aksi, dan batasannya sangat jelas di dalam Islam yaitu konten yang membuka aurat dan seterusnya sudah di anggap sebagai pornografi/aksi. Sanksi ini tidak pandang bulu, siapa saja yang melakukan maka dialah yang akan mempertanggung jawabkannya, sanksi ini juga akan memberikan efek jera kepada pelakunya.

Inilah gambaran Islam dalam memuliakan dan memberikan perlindungan kepada wanita, sehingga para wanita tidak perlu bersaing dalam kecantikan yang membutuhkan modal begitu besar tapi belum tentu akan memberikan pujian dari jutaan manusia karna Islam menganggap kecantikan itu adalah ketakwaan. Dan kemuliaan wanita adalah seberapa dia berusaha untuk senantiasa mencari Ridha Allah. Maka dari itu hanya Islam yang mampu memuliakan wanita bukan sistem kapitalisme hari ini yang memperjual belikan kemolekan tubuh para wanita. Mulai dari sekarang kita harus mendukung terterapkannya sistem Islam sehingga bisa mengembalikan persepsi kita dalam melihat kecantikan yang hakiki. Dengan kecantikan ala Islam ini kita akan mampu melahirkan generasi yang berperadaban intelektual dan bertakwa.

Wallahu’alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *