Boikot Produk Asing, termasuk Kapitalisme Sekuler

Boikot Produk Asing, termasuk Kapitalisme Sekuler

Mustahil umat Islam hari ini mampu memutus mata rantai penghinaan terhadap Islam, Rasulullah, dan syariat Allah selama masih bersandar pada sistem yang justru menumbuhsuburkan islamofobia yaitu kapitalisme sekuler. Semua pembelaan termasuk boikot produk takkan berdampak begitu signifikan sampai umat Islam memiliki kesadaran politik untuk menegakkan kekuatan Islam ideologis politis global.


Oleh: Ummu Farhan

POJOKOPINI.COM — Banyak kecaman terhadap Macron diikuti dengan boikot produk Prancis di seluruh negeri kaum Muslimin. Apa yang dilakukan Macron membuat marah setiap Muslim, semua orang yang di dalam dadanya ada iman pasti ‘terbakar’ menyaksikan penghinaan terhadap Rasulullah Muhammad Saw. Hanya para munafik yang santai menghadapi musibah ini.

Kecaman dari berbagai belahan dunia seakan membentuk satu kesatuan pemikiran bahwa memang Charlie Hebdo harus diberi pelajaran, apalagi saat ini islamofobia itu justru di-back up oleh negara. Emmanuel Macron berdiri menjadi tameng bagi Charlie Hebdo atas nama kebebasan berekspresi. Itulah kemudian disusul dengan aksi kompak memboikot produk Prancis. Namun adakah kita sadari bahwa produk asing tak hanya merk-merk yang nampak itu? Ada lagi yang bertentangan dengan Islam dan begitu lancang memangkas hak Allah sebagai Pengatur urusan manusia, ini produk asing yang sangat ‘bukan kita’, ini benar-benar asing yaitu sistem kapitalisme sekuler.

Sistem ini tak hanya memutilasi peran Islam dalam regulasi kenegaraan, dia juga membuat rabun pandangan umat Islam sehingga memandang agamanya sekadar ibadah individu yang ritualitas saja. Parahnya lagi, kapitalisme sekuler menciptakan ketakutan terhadap Islam secara masif dan global. Sudahlah kita ini dibuat tak memahami Islam kaffah, pun kita dibuat takut dengan identitas diri kita sendiri.

Kapitalisme Produk Asing

Amerika mengekspor produk pemikirannya ke seluruh dunia dan menancapkan tentakelnya di negeri-negeri tersebut untuk meredam segala ancaman atas eksistensi kapitalisme demokrasi, menghilangkan halang rintang hegemoninya, dan melanggengkannya. Jika bukan karena tentakel-tentakel atau orang-orang yang “terbeli” ini, kerja dakwah di berbagai negara sungguh lebih mudah karena memang fitrah manusia adalah taat kepada Rabb yang menguasainya.

Benar adanya bahwa kaum kuffar sangat serius dengan upayanya untuk menghegemoni dunia dengan produk pemikiran dan komoditas yang mengglobal. Benar juga adanya bahwa umat Islam di berbagai negeri punya komoditas yang dapat menggantikan semua yang diposisikan sebagai kebutuhan hari ini, pun lebih dari itu adalah identitas kesatuan pemikiran, perasaan dan diatur oleh satu sistem ilahiah yang memang itulah identitas kita orang Islam.

Alhasil dipahami kenapa Islam yang hari ini dimaknai sekadar agama ritual merupakan bagian dari program pengabdian para tentakel kuffar demi menyenangkan tuannya. Sehingga umat memahami Islam takkan pernah sampai pada pemahaman bahwa Islam adalah sistem hidup. Islam adalah ideologi. Islam itu punya sistem holistik mencakup seluruh aspek hidup manusia. Pun padahal sejatinya Islam memiliki aturan yang kesempurnaannya takkan pernah disamai sistem apapun di dunia ini, termasuk kapitalisme demokrasi dan sosialisme komunisme.

Selain keberadaan para penjaga sistem kapitalisme demokrasi yang bercokol di negeri-negeri Muslim hari ini, umat Islam juga dihadapkan dengan pengaruh besar dan ujian yang tak mudah yaitu tsunami islamofobia yang memang diperkuat dengan hegemoni kapitalisme. Jadi umat Islam harus sangat memahami, melihat segala sesuatunya dengan pandangan yang jernih (clear eyes) bahwa produk asing yang paling berbahaya adalah kapitalisme sekuler. Sistem ini yang hari ini dipakai untuk mengatur semua hajat hidup publik di seluruh negeri Muslim di dunia.

Sekadar Asa, Kecuali Khilafah

Dari situ akhirnya kita semua memahami bahwa mustahil umat Islam hari ini mampu memutus mata rantai penghinaan terhadap Islam, Rasulullah, dan syariat Allah selama masih bersandar pada sistem yang justru menumbuhsuburkan islamofobia yaitu kapitalisme sekuler. Semua pembelaan termasuk boikot produk takkan berdampak begitu signifikan sampai umat Islam memiliki kesadaran politik untuk menegakkan kekuatan Islam ideologis politis global.

Pembelaan terhadap Rasulullah Saw adalah wajib, sehingga mewujudkan sebuah kekuatan Islam global tersebut Khilafah itu merupakan kewajiban. Jika karena ketiadaan Khilafah membuat syariat Islam tak bisa diterapkan, sementara menjaga kemuliaan Nabiyullah Muhammad Saw adalah kewajiban, maka mewujudkan Khilafah merupakan agenda wajib bagi seluruh umat Islam dunia.

Sebaliknya, segala yang hari ini membuat sesak data kita atas kondisi ketidakberdayaan umat Islam dan syariat Allah yang terus menjadi bulan-bulanan akan terus terjadi selama kita semua masih berdiri di atas sistem yang salah. Wujudkan Islam dalam Khilafah, jemput kemuliaan Islam, wujudnyatakan ukhuwah, dan inilah manifestasi akidah Islam.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *