Boikot Unilever atau Facebook?

Boikot Unilever atau Facebook?

Mengecam Unilever karena tindakannya mendukung LGBT melalui berbagai sarana, termasuk Facebook, adalah tindakan terpuji. Selama dilakukan dalam koridor yang dibenarkan oleh syariat. Tetapi upaya ini tidak akan menghilangkan perbuatan keji itu dari kehidupan kita.


Oleh: Ummu Afkar

POJOKOPINI.COM — Aksi protes counter aktivitas Unilever yang pro LGBT itu meluas di Facebook. Biasanya Facebook segera memblokir status-status anti LGBT. Namun kali ini Facebook dinilai gagal mengatasi konten hoax dan bahkan dianggap membiarkan ujaran kebencian demi meraih keuntungan. Akibatnya Unilever menarik iklannya dari Facebook, disusul perusahaan-perusahaan lain seperti PepsiCo, Coca-Cola, Levi’s dan Starbucks (cnbc.com, 29/06/2020).

Kampanye pro LGBT yang gencar dilakukan Unilever dinilai umat Islam sudah keterlaluan dan sangat keliru. Perusahaan yang berbasis di Amsterdam ini, pada 19 Juni lalu resmi menyatakan diri berkomitmen mendukung gerakan LGBT dan memastikan setiap orang memiliki akses secara inklusif ke tempat kerja. Mereka berkerja sama dengan Stonewall, sebuah lembaga amal untuk LGBT.

Meskipun mengakui Unilever adalah perusahaan terbesar, tapi bukan berarti umat Islam tidak bisa beralih ke produk lain. Justru menurut Ketua Komisi Ekonomi MUI, Azrul Tanjung, sekaranglah kesempatan bagi produk lain untuk mengambil posisi. Beliau bahkan menyeru masyarakat untuk berhenti menggunakan dan memboikot produknya, jika Unilever tetap bersikap seperti itu (republika.co.id, 29/06/2020).

Namun, manajemen PT Unilever Indonesia Tbk memastikan tidak akan mengikuti kebijakan Unilever Amerika Serikat yang memboikot iklan di media sosial Facebook. Penyetopan iklan sosial media hanya dilakukan Unilever Amerika Serikat dan mengacu pada kondisi di negara tersebut (cnbc.com, 01/07/2020). Agaknya Unilever Indonesia menyadari betul posisinya di pasar negeri muslim yang tidak menerima LGBT dari sisi keyakinan agama.

Manajemen Facebook sendiri, sejak aksi boikot iklan yang sempat membuat saham mereka anjlok, merasa tidak mendapat profit atau keuntungan apapun, dari konten-konten berisi ujaran kebencian maupun informasi palsu yang beredar di platform mereka. Justru Facebook mengklaim setiap bulan menghapus lebih dari tiga juta unggahan ujaran kebencian, bahkan 90 persen di antaranya langsung di-takedown (cnnindonesia.com, 29/06/2020).

Menunjukkan komitmennya, baru-baru ini Facebook mengumumkan telah menghapus dan menangguhkan ratusan akun yang berkaitan dengan kelompok ekstremis bersenjata anti-pemerintah Amerika Serikat, yang diduga menunggangi aksi protes terkait kematian George Floyd, yaitu Boogaloo (cnnindonesia.com, 02/07/2020).

Sampai di sini, maka sebenarnya pihak mana yang harus diboikot, Unilever atau Facebook? Standar apa yang sebaiknya kita gunakan untuk menilai? Akal kita yang diselimuti hawa nafsu, atau agama?

Tentu saja sebagai seorang muslim sudah menjadi kewajiban kita menilai baik buruk itu dengan sudut pandang agama. Apa yang dilarang dalam Islam itu buruk, dan perkara yang diperintahkan adalah kebaikan. Maka hawa nafsu kita harusnya disesuaikan dengan syariat. Kita semestinya menyukai sesuatu yang dihalalkan syariat, dan membenci perbuatan yang diharamkan syariat.

Apa salahnya kalau kita menggunakan pertimbangan hak asasi manusia dalam menilai sesuatu? Tidak salah, hanya saja bisa tidak tepat. Prinsip hak asasi manusia itu hasil pemikiran akal manusia yang terbatas. Setiap manusia bisa berbeda dalam menginterpretasikannya.

Contohnya, bagi sebagian orang, pakaian perempuan yang menutup aurat dengan sempurna, adalah pengekangan terhadap kebebasan berekspresi yang merupakan salah satu hak asasi manusia. Tapi dari sisi bahwa pakaian itu adalah sesuatu yang dikenakan seseorang karena alasan keyakinan agamanya, maka itu juga wujud hak asasinya. Yaitu kebebasan berkeyakinan. Maka hak asasi manusia bagai pisau bermata dua.

Kemudian akan menjadi lebih ruwet lagi ketika perempuan-perempuan dari agama yang sama, kemudian tidak mau diatur dengan aturan berpakaian dari agamanya karena alasan hak asasi manusia. Padahal aturan agama itu berasal dari Sang Pencipta yang paling tahu yang terbaik untuk makhluknya. Menutup aurat dalam pandangan Islam adalah untuk memuliakan perempuan.

Oleh karena itu, kebebasan atau liberalisme yang dibalut jubah hak asasi manusia, bukanlah sebuah standar yang tepat untuk digunakan dalam kehidupan kita. Yang terbaik dan menenteramkan manusia adalah kembali kepada aturan penciptanya. Yang adil, tidak berpihak dan tidak ada kepentingan kepada makhluknya kecuali kebaikan.

Maka sekarang yang seharusnya kita pikirkan bukanlah tentang boikot Unilever atau Facebook. Tetapi say no to liberalism atau paham kebebasan yang kebablasan. Yang kita perlukan adalah mengembalikan standar Islam sebagai tolok ukur menilai segala sesuatu. Suka sesama jenis, apalagi sampai melakukan hubungan seks dengan sesama jenis, adalah perbuatan terlarang di dalam Islam. Maka sudah tepat, bila kita menginginkan perbuatan seperti itu dihilangkan dari lingkungan sosial kita. Agaknya ini memang penyakit menular, karena realitanya hari ini semakin banyak orang yang terjerumus dalam perbuatan haram itu. Na’udzubillahi min dzalik.

Mengecam Unilever karena tindakannya mendukung LGBT melalui berbagai sarana, termasuk Facebook, adalah tindakan terpuji. Selama dilakukan dalam koridor yang dibenarkan oleh syariat. Tetapi upaya ini tidak akan menghilangkan perbuatan keji itu dari kehidupan kita.

Sekularisme telah memberikan ruang berkembangnya perilaku menyimpang dengan stempel hak asasi manusia. Padahal bukan hanya menyimpang. Secara alamiah perbuatan ini menghilangkan kemampuan manusia bereproduksi, sehingga akhirnya bisa punah. Dan meski penyakit HIV AIDS kerap menyertai perilaku tercela ini, namun kelihatannya belum bisa memberikan efek jera.

Beginilah derita kita, muslim, hidup di alam sekularisme. Dengan motonya, yang penting agama tidak ikut-ikutan mengatur kehidupan, maka sistem ini mengusung empat macam kebebasan yang sangat diagungkan. Yakni dalam hal berkeyakinan, berpendapat, berkepemilikan dan bertingkah laku. Semua aturan dibuat mengandalkan akal manusia yang cenderung terbatas, dipengaruhi hawa nafsu dan selalu berubah-ubah.

Kebebasan kepemilikan telah tumbuh menjadi sistem ekonomi kapitalisme dan melahirkan pebisnis-pebisnis tamak yang tidak mengenal halal haram. Di sisi lain, kebebasan bertingkah laku kemudian melahirkan komunitas LGBT yang mengglobal dan menginfiltrasi berbagai institusi. Hari ini bisa saja di antara mereka sudah menjadi CEO perusahaan kapitalis global dengan tentakel menjangkau sekujur dunia, yang ke mana pergi membawa serta agenda dan propaganda kaum Luth ini.

Mengerikan bukan? Bila ingin lepas dari mimpi buruk ini, kita harus memiliki tempat bernaung yang tidak memperkenankan nilai-nilai sekularisme berkutat dalam kehidupan. Dan dalam Khilafahlah, cita-cita itu bisa direalisasikan. Khilafah, sebuah negara global yang tegak atas dasar keimanan kepada Sang Pencipta, Allah SWT. Yang menjalankan pengaturan kehidupan dengan petunjukNya. Sehingga terlindungilah manusia dari segala keburukan, bahkan yang ia tak ketahui.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *