Brenton Tarrant: Wajah Sebenarnya Perang Kapitalis Barat Terhadap Islam

Brenton Tarrant: Wajah Sebenarnya Perang Kapitalis Barat Terhadap Islam


WWW.POJOKOPINI.COM — Christchurch, Selandia Baru, Kejutan kelegaan dan “campuran emosi” menyambut berita Kamis (26/3) bahwa Brenton Tarrant, pria yang melakukan kekejaman terburuk pada waktu damai di Selandia Baru, telah mengubah permohonan tidak bersalahnya dan dihukum atas semua tuduhan. Tarrant membunuh 51 jamaah shalat Jum’at dan melukai puluhan di dua masjid, di Christchurch pada 15 Maret tahun lalu. Bahkan serangan pertamanya disiarkan langsung di Internet.

Warga negara Australia ini didakwa dengan tuduhan berlapis, di antaranya pembunuhan massal, sehingga hal serupa tidak mungkin diajukan terhadap seorang individu saja dalam sejarah Selandia Baru, bahkan ditambahkan juga tuduhan pelanggaran terorisme, dan 40 tuduhan pembunuhan. Alasan di balik perbuatan Tarrant, bahwa itu spontanitas untuk mengalihkan pembelaannya menjadi bersalah masih belum jelas. Sebelumnya Tarrant menyangkal tuduhannya. Persidangan dijadwalkan bulan Juni. Berita itu pecah ketika Selandia Baru mulai mengkarantina wilayah (lockdown) untuk menghentikan penyebaran virus corona yang terus meningkat (www.reuters.com, 25/3/2020).


Satu tahun setelah insiden teror Christchurch, peradaban dunia Barat dicabik-cabik dari semua klaim universalitas ideologinya. Ideologi Kapitalis Barat yang didasarkan pada akidah (doktrin) sekuler yang korup merupakan pendorong dan alasan yang menyebabkan insiden teror Christchurch. Setelah jatuhnya bekas Uni Soviet pada tahun 1991, ideologi Komunis tidak lagi menjadi ancaman bagi sistem Kapitalis Barat. Karenanya, George W Bush Senior mengumumkan tatanan dunia baru yang diprediksi oleh para intelektual Barat seperti Fukiyama dalam bukunya, “The End of History and the Last Man (Akhir Sejarah dan Manusia Terakhir)”.

Suasana perayaan itu berumur pendek karena tantangan baru dan ancaman terhadap Kapitalisme tidak bisa dihindari. Ancamannya adalah Islam, yaitu sistem yang telah diterapkan selama lebih dari tiga belas abad, yang telah menuntun umat manusia dari kegelapan menuju cahaya. Hari ini Islam tanpa negara, namun semua keadaan menunjukkan akan kembalinya. Ancaman ini adalah satu-satunya alasan fitnah yang dibuat oleh negara-negara Kapitalis dan lembaga-lembaga media utama, yang bertujuan menciptakan ketakutan dan kebencian terhadap Islam dan kaum Muslim.

Brenton Tarrant merupakan produk dari propaganda dan kebencian Barat, meskipun mereka mengisolasi insiden itu sebagai perbuatan individu (oknum), dan tidak ada kaitannya dengan kebijakan luar negeri yang jahat terhadap Islam dan kaum Muslim. Namun faktanya, Tarrant telah merobek pergolakan ideologis dan politik antara Islam dan Kapitalisme.

Hal ini dapat disaksikan dari berbagai channel media utama yang menyajikan insiden kejahatan keji dan kejam ini sebagai serangan oknum, lone wolf (serigala penyendiri), tanpa ada keterikatan dengan seluruh agenda politik, dengan menggunakan kata-kata seperti “tersangka”, “menembak”, dan para jamaah shalat untuk menyembunyikan dan menyesatkan publik dari memahami realitas dan mengetahui kebenaran.

Bahkan mengubah permohonan bersalah yang dibuat pada saat yang tepat, yaitu waktu di mana dunia tengah dihantui pandemi Covid-19. Oleh karena itu, kasus ini tidak lagi memiliki banyak pengaruh pada masyarakat. Perubahan permohonan ini adalah keputusan kolektif yang disengaja dan tepat waktu yang mencerminkan kesadaran bersalah si iblis Brenton Tarrant.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.“ (TQS Ali Imran [3] : 118).

Wahai umat Muhammad, saat ini negara-negara Barat dengan semua kekuatannya, secara terbuka mewujudkan permusuhan nyata terhadap ad-dīnul haq (Islam). Sungguh, telah tiba saatnya untuk menyadari hal ini, di mana dunia akan menyaksikan jatuhnya Kapitalisme dan bangkitnya Islam; dan untuk mengerahkan semua upaya, serta mewujudkan kebangkitan yang tak terhindarkan dan kembalinya agama Islam yang agung ini, dengan mendirikan negara Islam, yaitu negara yang berkuasa untuk membalas dendam, dan menegakkan keadilan bagi semua nyawa tak berdosa yang hilang dengan cara yang paling mengerikan.

“Dan di hari (kemenangan) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah.” (TQS. Ar-Rūm [30] : 4-5). [Ali Omar Albaity].
Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 5/4/2020.
Share artikel ini.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *