Bukan Kenormalan Baru tapi Sistem Kehidupan Baru

Bukan Kenormalan Baru tapi Sistem Kehidupan Baru

Dari sinilah selayaknya disadari bahwa masyarakat dunia hari ini tak membutuhkan konsep kenormalan baru berbau kapitalisme. Namun membutuhkan sistem kehidupan baru sebagai alternatif atas berbagai problematika yang membelit penduduk bumi. Apalagi kalau bukan Islam.


Oleh: Ummu Zhafira (Pegiat Literasi)

POJOKOPINI.COM — Siapa yang tak ingin kembali hidup normal? Menjalani seluruh aktivitas tanpa dihantui rasa was-was akan intaian Covid-19 yang mematikan. Seorang ayah ingin kembali bekerja dengan baik di kantor. Ibu ingin bisa berbelanja ke pasar dengan bebas. Pun anak-anak menginginkan kembali bersekolah, belajar dan berkumpul bersama dengan teman-temannya seperti sediakala.

Agaknya harapan itu masih jauh panggang dari api. Enam bulan bertarung melawan pandemi justru menimbulkan ancaman krisis global yang melumat perekonomiannya. Kebijakan-kebijakan yang mereka ambil nyatanya tak mampu menyapu bersih keberadaan Corona.

Kepala ekonom CIMB Niaga, Adrian Panggabean menyatakan bahwa tingkat pengaruh ekonomi akibat Covid-19 ditentukan oleh bagaimana kebijakan social distancing maupun physical distancing akan dilakukan dan berapa lama durasinya. Sementara kebijakan social distancing akan ditentukan oleh kemampuan negara-negara di dunia untuk mengatasi Covid-19. Maka, menurutnya dibutuhkan solusi global untuk mengatasi hal ini. (Republika.co.id, 26/4/2020)

Sebuah panel tingkat tinggi beranggotakan para ahli di bidang ekonomi, keuangan, dan kesehatan untuk membantu para menteri, gubernur bank sentral, dan pejabat senior dari negara-negara Asia Tenggara diluncurkan oleh presiden Asian Development Bank (ADB) Masatsugu Asakawa. Panel tersebut diharapkan dapat mengidentifikasi langkah-langkah pemulihan pasca pandemi virus Corona (Covid-19). Karena menurutnya pandemi ini sangat mungkin menimbulkan gelombang kedua dan ketiga yang kemudian akan berdampak pada kemerosotan ekonomi yang lebih dalam lagi. (Kontan.co.id, 11/6/2020)

Kegalauan dunia menghadapi badai Covid-19 nampak dari berbagai kebijakan yang diambil. Kebijakan lockdown di beberapa negara tak mampu menanggulangi penyebaran virus. Di antaranya malah menimbulkan masalah baru berupa kelaparan massal seperti yang terjadi di India.

Ada juga yang tak menjadikan lockdown sebagai pilihan. Namun lebih memilih menjalankan pembatasan sosial dengan regulasi-regulasi yang menyertainya. Kebijakan ini pun gagal menekan laju penyebaran infeksi virus. Hal ini terlihat dari kurva kasus positif Covid-19 yang terus meningkat.

Di tengah peringatan fase baru dan berbahaya pandemi Covid-19 dari WHO, justru banyak negara kompak mengambil langkah kenormalan baru atau new normal life dengan protokol kesehatan yang ketat. Kantor, sekolah, mall, dan tempat wisata kembali dibuka. Hasilnya? Gelombang kedua Covid-19 menerpa. Seperti yang menimpa Prancis dan Korea Selatan yang gagal menerapkan new normal di tengah pandemi.

Kepentingan kaum bermodal agaknya menjadi alasan utama dipaksakannya kenormalan baru di berbagai negara. Beginilah watak sistem sekuler-kapitalisme yang bercokol hari ini. Darinya melahirkan bangunan sistem ekonomi kapitalis liberal yang terbukti rapuh menghadapi terpaan pandemi. Sistem kesehatannya pun telah gagal menyelesaikan permasalahan wabah sejak awal.

Dari sinilah selayaknya disadari bahwa masyarakat dunia hari ini tak membutuhkan konsep kenormalan baru berbau kapitalisme. Namun membutuhkan sistem kehidupan baru sebagai alternatif atas berbagai problematika yang membelit penduduk bumi. Apalagi kalau bukan Islam.

Islam memandang politik sebagai sarana kepengurusan kebutuhan umat. Kepemimpinannya adalah sebuah amanah untuk menjalankan kepengurusan tersebut. Akidahlah yang kemudian mendorongnya untuk bisa memberikan pelayanan terbaik bagi umat dibawah kepemimpinannya. Karena hal ini berkaitan dengan surga dan neraka.

Setiap kebijakan yang diambil oleh negara tidak boleh menyalahi ketentuan yang telah ditetapkan Allah melalui Al-Qur’an dan Hadist. Negara memiliki otoritas terhadap berbagai sumber kekayaan untuk mengurus seluruh kebutuhan rakyat. Allah SWT. menetapkan bahwa kekayaan alam yang melimpah adalah milik umat. Negara berkewajiban mengelolanya dan mengembalikan manfaatnya kepada umat.

Seluruh kekayaan alam yang ada di negeri-negeri kaum Muslim diatur dengan syariat. Dengannya akan terlahir negara Islam yang kuat, mandiri dan memiliki ketahanan secara politik dan ekonomi. Tidak seperti saat ini negara justru memberikannya kepada para kapitalis baik asing maupun aseng. Rakyat hanya dibuat gigit jari dan terpaksa menjadi buruh di negeri sendiri.

Dengan beginilah negara akan mampu mewujudkan pelayanan terbaik untuk memenuhi kebutuhan asasi rakyat baik skala individu maupun publik. Demikian juga kebutuhan mereka akan kesehatan. Negara siap menghadapi wabah tanpa melakukan tindakan gegabah. Sebab hilangnya nyawa seorang Muslim bukan sekedar hitungan angka. Melainkan sebuah musibah berat dibandingkan dengan hilangnya dunia.

Akhirnya akan ada relasi yang baik antara negara, rakyat dan pihak medis dalam menghadapi wabah. Konsekuensi keimananlah yang akan mendorong mereka untuk mematuhi setiap kebijakan yang diambil oleh negara. Salah satunya menerapkan lockdown sebagai salah satu syariat. Negara pun menjamin setiap pemenuhan kebutuhan wilayah terdampak. Sehingga laju penyebaran virus bisa diatasi dengan cepat.

Negara juga mendorong para ilmuwan untuk melakukan riset dengan cepat sampai ditemukan obat yang tepat. Alhasil wabah bisa ditaklukkan dalam waktu yang singkat.

Inilah sistem terbaik yang pernah memimpin dunia. Baginda Rasulullah Saw. dan para Khalifah setelahnya pun telah mencontohkannya. Sampai kapan sistem Kapitalisme yang memisahkan agama dari kehidupan ini dipertahankan? Sungguh kenormalan hidup umat muslim hanya akan terwujud jika Islam diterapkan secara sempurna dalam bingkai Khilafah.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *