Bukan Keringanan Biaya, Kuliah itu Harus Gratis dan Berkualitas

Bukan Keringanan Biaya, Kuliah itu Harus Gratis dan Berkualitas

Ini problem sistemik. Mahasiswa dikepung oleh problem yang diproduksi oleh sistem kapitalisme sekuler. Jika kaum intelektual tak mampu menalar kerusakan yang diakibatkan oleh sistem ini, bagaimana dengan masyarakat secara keseluruhan? Mahasiswa selayaknya berpikir kritis dan mampu menemukan ujung pangkal kesulitan hidup hari ini tersebab penerapan sistem kapitalisme yang mengikis bahkan mengancam kelestarian intelektualitas.


Oleh: Cut Putri Cory, S.Sos (Koordinator Intellectual Muslimah Squad)

POJOKOPINI.COM – “Kuliah yang sukses itu adalah kuliah yang selesai,” kalimat itu sering terdengar di kalangan intelektual kampus. Dalam proses menuntut ilmu di bangku kuliah, mentalitas para Mahasiswa tertempa untuk menjadi pribadi yang pantang menyerah melalui kesulitan demi kesulitan dalam belajar. Mereka selayaknya kaum terdidik yang mempersiapkan diri untuk mengembangkan intelektualitasnya dan mempersembahkannya untuk peradaban yang ada. Indah sekali.

Tapi apakah pada tatanan realitas hal itu benar-benar terjadi? Karena faktanya memang tak mudah menjalani kuliah saat ini. Banyak Mahasiswa dengan fokus ganda, di satu sisi mereka harus memenuhi segala tuntutan dunia pendidikan tinggi yang menyita waktu, pikiran, dan tenaga. Berkelana dari satu perpustakaan ke perpustakaan lain, menjelajah toko buku, meleburkan diri dalam praktik demi praktik serta tenggelam dalam deadline laporan dan tugas-tugas kuliah yang tak sedikit.

Di sisi lain para Mahasiswa juga banyak yang menjalani kuliah sambil bekerja demi membiayai iuran yang tak murah. Mereka butuh referensi buku-buku bahkan jurnal berbayar yang rupiahnya tak sedikit. Pada saat yang sama, banyak kalangan intelektual muda juga terbebani biaya hidup (living cost) yang mahal. Sampai-sampai ada istilah “harga Mahasiswa” untuk menyebutkan murahnya barang dengan kualitas yang patut untuk dipertanyakan, istilah itu demi menggambarkan betapa Mahasiswa dirundung pilu kesulitan ditekan di sana sini.

Dalam kondisi seperti itu agaknya terasa sangat sulit bisa berkonsentrasi untuk belajar. Itulah kenapa jumlah Mahasiswa berprestasi dari keseluruhan kaum intelektual yang ada persentasenya sangat kecil. Seribu satu, mungkin. Pada akhirnya kenyataan itu mengubah orientasi pendidikan dari demi meraih kemuliaan ilmu menjadi secuil materi. Biar bisa kerja. Kuliah untuk melepaskan diri dari belenggu problem ekonomi yang melilit leher.

Apalagi di masa pandemi ini, banyak Mahasiswa pekerja dan keluarga penopang biaya kuliah yang terdampak secara ekonomi. Semakin sulit dan terjepit. Kuliah daring membutuhkan kuota berbayar yang tak sedikit, orang tua terdampak kesulitan ekonomi dan beban biaya pendidikan tetap mencekik. Alih-alih menggratiskan, kebijakan yang diambil justru hanya menurunkan biaya kuliah dengan dalih absurd demi meringankan beban Mahasiswa (Kompas.com, 5/6/2020).

Memangnya kenapa? Bukankah itu yang menjadi tuntutan Mahasiswa? Mereka yang minta diturunkan biaya pendidikannya pada masa pandemi ini (Okezone.com, 18/6/2020). Itulah masalahnya. Harus disadari bahwa mengenyam pendidikan adalah hak seluruh anak bangsa. Selayaknya seluruh Mahasiswa difasilitasi untuk belajar dengan tenang tanpa terbelit problem ekonomi dan segala kesulitan teknis dalam masa perkuliahan. Siapa yang bertanggungjawab memfasilitasi itu semua?

Semestinya disadari oleh Mahasiswa dan seluruh elemen masyarakat bahwa pendidikan adalah hak warga negara. Negara wajib menyediakan secara gratis dan berkualitas. Jadi tuntutan yang ada selayaknya diarahkan kepada realisasi peran negara dalam memfasilitasi pendidikan gratis berkualitas bagi seluruh anak bangsa, bukan sekadar memberi diskon.

Mahasiswa Kritis mampu Menalar Problem Sistemik

Kuliah berkualitas bagus dengan fasilitas unggul dan gratis agaknya hanya mimpi selama kita semua masih betah bersandar pada sistem kapitalisme sekuler ini. Jika kita memaklumi kehadiran negara hanya berwujud penurunan UKT di masa pandemi sama saja dengan membiarkan berlangsungnya pendidikan sekuler yang mengamputasi potensi generasi Khairu Ummah. Pun ketiadaan kritik terhadap kewajiban negara menyediakan pendidikan gratis artinya melestarikan tata kelola layanan masyarakat yang menyengsarakan karena lepasnya tanggung jawab penuh negara.

Ini problem sistemik. Mahasiswa dikepung oleh problem yang diproduksi oleh sistem kapitalisme sekuler. Jika kaum intelektual tak mampu menalar kerusakan yang diakibatkan oleh sistem ini, bagaimana dengan masyarakat secara keseluruhan? Mahasiswa selayaknya berpikir kritis dan mampu menemukan ujung pangkal kesulitan hidup hari ini tersebab penerapan sistem kapitalisme yang mengikis bahkan mengancam kelestarian intelektualitas.

Setelah menalar problem sistemik, Mahasiswa sebagai kaum intelektual harus bangkit memperjuangkan sistem alternatif yang menjadi obat bagi kerusakan demi kerusakan akibat penerapan sistem kapitalisme ini. Obat itu adalah sistem Islam. Ya, inilah arah pergerakan Mahasiswa.

Dalam sistem Islam, kebijakan negara secara sistemis akan mendesain sistem pendidikan dengan seluruh supporting system-nya. Islam menetapkan bahwa negara wajib menyediakan pendidikan yang baik dan berkualitas secara gratis untuk seluruh rakyatnya. Daulah Islamiyah wajib menyiapkan sarana dan prasarana pendidikan.

Pernah pada masa kekhilafahan, Madrasah an-Nuriah di Damaskus yang didirikan pada abad 6 H oleh Khalifah Sultan Nuruddin Muhammad Zanky mencontohkan bagaimana pengurusan sistem Islam terhadap pendidikan, gratis dan berkualitas. Di sekolah ini terdapat fasilitas seperti asrama siswa, perumahan staf pengajar, tempat peristirahatan, para pelayan, serta ruangan besar untuk ceramah dan diskusi.

Islam ketika diterapkan akan melahirkan output generasi yang berkualitas, baik dari sisi kepribadian maupun dari penguasaan ilmu pengetahuan. Peranannya di tengah-tengah masyarakat akan dirasakan, baik dalam menegakkan kebenaran maupun dalam menerapkan ilmunya. Jadi tak ada istilah kaum intelektual terbebani biaya pendidikan dan biaya hidup mencekik seperti saat ini. Jadi, kuliah itu bukan “yang penting ada keringanan” biaya, tapi gratis dan berkualitas. Hanya sistem Islam yang bisa.[]

Ilustrasi: Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *