Bukti Cinta Hakiki untuk Nabi

Bukti Cinta Hakiki untuk Nabi

Untuk itu, pengakuan cinta kepada Nabi harus dibuktikan dengan ketaatan dan pengorbanan. Berani membela Nabi dalam kondisi apapun. Bahkan siap melanjutkan estafet perjuangan dalam mengembalikan kehidupan Islam. Inilah cinta sejati yang akan dibawa mati. Bukan cinta buta tanpa bukti nyata.


Oleh: Jumratul Sakdiah (Pemerhati Generasi)

POJOKOPINI.COM — Walaupun di tengah wabah, kaum muslimin di seluruh penjuru dunia tetap memeringati kelahiran makhluk mulia dan manusia sempurna tanpa cela. Seorang pemuda padang pasir yang lahir di kota Mekah dan wafatnya di Madinah. Menoreh tinta emas perjuangan di setiap jengkal hidupnya. Dialah baginda Nabi Muhammad Saw. yang ketika mendengar namanya saja bumi seolah bergetar dan teriring salawat sebagai pertanda pengagungan kepada utusan Sang Pencipta.

Tak sedikit lantunan salawat senantiasa bergema di seluruh penjuru semesta. Bahkan alam pun ikut memuliakannya. Awan dari langit siap memayunginya ketika ia berjalan di atas bumi dan binatang liar berhenti berlari saat berjumpa dan melihat wajahnya. Para malaikat bersalawat kepadanya dan semua orang mengakui kehebatannya. Sebut saja Machel Heart, penulis buku “10 Orang Paling Berpengaruh di Dunia” dan orang pertama yang disebut pada buku itu adalah Nabi dan Rasul Allah, dialah Muhammad Saw.

Sepak terjangnya dalam mengarungi samudera kehidupan telah meninggalkan jejak kagum bagi yang mempelajari sejarahnya. Bagaimana tidak, di saat yang sama beliau mampu menjalankan banyak peran yang tak mudah. Selain sebagai Nabi dan Rasul Allah, Muhammad Saw juga adalah kepala negara. Beliau pemegang kunci baitul mal dan sekaligus sebagai panglima perang. Dan luar biasanya lagi beliau berhasil menjadi ayah bagi anak-anaknya, suami bagi istri-istrinya dan kakek bagi cucu-cucunya. Tanpa ada satupun diantara mereka yang merasa terzalimi oleh perlakuan Nabi Saw.

Begitulah hebatnya Nabi. Belum lagi berbicara tentang akhlak terpuji yang dibingkai dalam lembaran kesehariannya. Sungguh tak ada hati yang tersakiti oleh beliau. Tutur katanya yang santun, kejujuran dari setiap lisannya membuat orang-orang Mekah sebelum pengutusan beliau menjadi Rasul menyematkan gelar kepadanya, Muhammad Al-Amin.

Namun apa yang terjadi saat manusia mulia ini diberikan amanah yang langit dan bumi pun tak mampu memikulnya. Ia, amanah dakwah yang diembannya telah mengubah wajah masyarakat Mekah kala itu, Muhammad menyampaikan yang haq dan batil. Menyatakan Allah satu-satunya Tuhan yang layak disembah serta tidak ada sekutu bagiNya dan dia adalah utusan Allah SWT. Mendengar hal itu, kemarahan kafir Quraisy memuncak karena menganggap apa yang disampaikan dari lisan mulia nabi telah mencela berhala-berhala yang mereka sembah. Ajaran dari nenek moyang mereka yang telah diwariskan dalam garis keturunan masyarakat kafir Quraisy kala itu. Sehingga hati-hati mereka mengeras seperti batu. Kesombongan para pemuka Quraisy telah menutup mata akan kebenaran yang telah sampai kepadaNya. Sampai akhirnya dakwah Nabi dihantui dengan penganiayaan, propaganda dan pemboikotan.

Namun, di tengah hiruk pikuknya perjuangan Nabi. Ada segelintir manusia yang setia bersama Nabi. Merekalah orang-orang yang beriman tatkala yang lain ingkar dan mereka orang-orang yang mendukung perjuangan nabi tatkala yang lain menghentikan laju dakwahnya. Merekalah as-saabiquunal awwaluun. Sahabat yang siap berdiri di belakang Nabi, menjadi tameng untuk Nabi bahkan rela mati demi membela Nabi. Dahsyatnya lagi, mereka adalah orang yang berjuang bersama Nabi demi tegaknya Islam di muka bumi ini. Dengan pengorbanan tanpa batas. Mereka menginfakkan harta mereka di jalan dakwah sekaligus darah mereka, rela mereka tumpahkan hanya untuk kemenangan Islam. MasyaAllah, oleh karena itu, layaklah cinta mereka kepada Nabi telah diakui dengan bukti nyata melalui ketaatan dan pembelaan mereka kepada Islam. Tak heran jika surga telah dijamin untuknya.

Bagaimana dengan kita? Cukupkah hanya dengan salawat sabagai bentuk cinta? Sebatas peringatan tahunan sebagai bentuk rindu? Tidak saudaraku. Cinta menuntut pengorbanan dan ketaatan sempurna. Namun sudahkah kita melakukan itu? Kita adalah umat yang dirindukan Nabi dan yang dibanggakan oleh beliau karena kita adalah orang yang beriman kepada Rasulullah Saw. walaupun tak pernah saling bersua. Namun risalah yang ditinggalkannya telah cukup menggambarkan sosok pribadi tangguh, pejuang Islam dan paling berjasa dalam menegakkan kalimah Allah di atas bumi ini.

Untuk itu, pengakuan cinta kepada Nabi harus dibuktikan dengan ketaatan dan pengorbanan. Berani membela Nabi dalam kondisi apapun. Bahkan siap melanjutkan estafet perjuangan dalam mengembalikan kehidupan Islam. Inilah cinta sejati yang akan dibawa mati. Bukan cinta buta tanpa bukti nyata.

Maka saatnya, di kondisi kehidupan yang tak waras ini. Harus ada perubahan revolusioner dengan mengembalikan Islam sebagai sistem kehidupan baik individu, masyarakat dan negara. Sama persis dengan apa yang dilakukan Nabi dan para sahabat. Mengatur Madinah dengan sistem kehidupan Islam sehingga dengannya Persia dan Romawi takluk tak berdaya. Bahkan 2/3 dunia menjadi wilayah kekuasaan negara Islam. Wallahu a’lam.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *