Cahaya Islam Takkan Pernah Padam

Cahaya Islam Takkan Pernah Padam

Realitasnya, musibah terbesar sedang mengangkangi umat, kita sedang hidup di bawah payungi ideologi sesat kapitalisme sekuler, maka sesuatu yang lumrah setiap ideologi yang berada di puncak akan mempertahankan kelanggengannya, keberlangsungannya untuk terus menancapkan hegemoninya dalam sendi kehidupan manusia.


Oleh: Ana Frasipa

POJOKOPINI.COM — Pada tahun 2019 Kementerian Agama (Kemenag) mengeluarkan kebijakan untuk mencabut seluruh materi yang mengandung khilafah dan perang atau jihad dalam ujian maupun kurikulum di madrasah-madrasah. Surat yang menginstruksikan hal tersebut dikeluarkan Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah pada Kementerian Agama (Kemenag), Ahmad Umar, pada 4 Desember lalu dengan nomor B-4339.4/DJ.I/Dt.I.I/PP.00/12/2019. Surat itu berisi hal tentang implementasi Keputusan Menteri Agama (KMA) 183 Tahun 2019 dan KMA 184 Tahun 2019. Sementara, KMA tentang kurikulum PAI dan Bahasa Islam pada Madrasah itu memang menekankan pada pengajaran moderasi Islam. (Republika, 9/12/2019)

Menurut Menag Fachrul Razi, moderasi beragama harus dibangun dari sekolah, Implikasi atas hal ini Menag melakukan revisi terhadapi 155 buku pelajaran agama Islam. Revisi itu berasal dari lima mata pelajaran, yakni Akidah Akhlak, Fiqih, Sejarah Kebudayaan Islam, Alquran dan Hadis, serta Bahasa Arab. Konten yang bermuatan radikal dan eksklusivis dihilangkan. Dalam buku Agama Islam hasil revisi itu masih terdapat materi soal khilafah dan nasionalisme. Namun Menag memastikan buku-buku itu akan memberi penjelasan bahwa khilafah tak lagi relevan di Indonesia. Pihaknya pun memastikan ratusan buku pelajaran agama hasil direvisi mulai dipakai untuk tahun ajaran 2020/2021. (Makassarterkini.id 2/07/2020)

Upaya deradikalisasi ajaran Islam tak pernah berhenti. Memicu polemik di beberapa kalangan. Ketua Umum DPP Persatuan Guru Madrasah Indonesia (PGMI) Syamsuddin, ia termasuk dalam golongan yang menolak hal itu. Syamsuddin menilai, jika ingin menangkal paham-paham radikal, caranya bukan penghapusan materi secara total. Sebab, jika hal itu dilakukan, menurut dia, akan menutupi sejarah yang pernah terjadi dalam peradaban Islam. Ia juga menilai paham radikalisme muncul ketika adanya ketidakadilan dalam kehidupan bermasyarakat, bukan karena disinggung dalam pelajaran di sekolah. “Ajaran Islam itu tidak ada yang radikal karena radikal akan menjadi pertentangan manusia. Ketidakadilan hadir ketika ada pemaksaan kehendak tertentu,” ujarnya lebih lanjut (Republika, 9/12/2019)

Bukan fenomena aneh, jika saat ini banyak orang yang mengaku Islam namun sangat keras kebenciannya terhadap ajaran agamanya sendiri. Mereka muslim namun ikut terjangkit penyakit Islamfobia. Pengaruh sekularisme begitu merasuk dalam diri mereka, disadari atau tidak mereka menjadi duri dalam daging. Menjadi penghalang utama dalam kebangkitan pemikiran Islam. Akal dan mata hati tertutup cahaya kebenaran.

Entah kenapa mereka seolah malu, menganggap ajaran Islam adalah ajaran yang konservatif, tidak relevan dengan perkembangan jaman. Di sisi lain silau dan mengagungkan Barat. Dianggap sebagai representasi kemajuan tertinggi pada puncak peradaban manusia. Tak sadar itu adalah awal bencana bagi kehidupan manusia.

Kita paham kenapa peradaban Islam selama 1400 tahun lebih bisa diruntuhkan. Selain faktor eksternal, ada pengaruh faktor internal yaitu dari kaum muslimin sendiri. Kemunduran Islam yang terjadi justru karena umat tidak lagi istiqomah, teguh memegang ajaran Islam dalam kehidupannya. Islam sebagai solusi berbagai problematika kehidupan lambat laun ditinggalkan, perlahan tapi pasti umat kepincut dengan ajaran sekuler barat yang menjunjung tinggi kebebasan. Liberalisme seolah menjadi agama baru. Agama diposisikan sebagai makanan spiritual semata, tidak menjadi spirit dalam kehidupan secara keseluruhan.

Jangan bawa-bawa agama, lah
Agama adalah ruang privat, privasi setiap orang, tak perlu dibawa-bawa dalam urusan dunia

Itulah kalimat dan jargon andalan kaum liberal. Ungkapan yang begitu destruktif bagi akidah. Maka tengoklah dalam pandangan liberal. Jilbab bukanlah kewajiban. Penyimpangan seksual kaum pelangi dan seks bebas merupakan bagian dari HAM. Riba hal lumrah mencari keuntungan. Khilafah ditolak disejajarkan dengan komunisme. Terlarang dan dianggap bagian dari radikalisme.

Padahal bagaimana mungkin kita tidak membawa “agama” dalam setiap langkah, setiap desah nafas kita. Memangnya agama hendak ditaruh dimana. Hal sederhana urusan ke kamar mandi saja, Islam punya aturan. Doa yang harus dibaca, kaki kiri yang harus dilangkahkan terlebih dahulu. Masya Allah itu baru urusan kamar mandi.

Secara logika, jika urusan sederhana semacam itu saja memiliki aturan, bagaimana mungkin urusan-urusan umat yang lebih besar lagi tak memiliki pedoman dan petunjuk pelaksanaan. Ya manual book kaum muslimin itulah hukum-hukum Illahi yang digali dari Al quran, hadits, ijma, dan qiyas.

Jelas sangat tidak masuk akal jika agama hanya urusan privasi, cukup di hati. Jika asumsi itu dianggap benar, lalu apalah artinya Rasulullah berperang berjihad berjuang selama 23 tahun membawa dakwah Islam ditengah umat manusia. Pengorbanan harta, darah dan keringat sudah tidak bisa dihitung. Hingga berdirinya sebuah entitas kaum muslimin dalam sebuah negara besar yang dipimpin Rasulullah berlanjut ke masa Khulafaur Rasyidin dan para khalifah berikutnya.

Dan sejarah berbicara bahwa dalam koridor daulah itulah hukum-hukum Allah, hukum syariat ditegakan, diterapkan mengurus masyarakat, tak satupun luput, ajaran islam jadi amal praktis dalam kehidupan manusia. Hasilnya tak diragukan, Islam menjadi cahaya menjadi penerang umat manusia, tanpa Islam boleh jadi peradaban manusia bahkan tak akan sampai di titik kita saat ini.

Banyak yang menutup mata akan sejarah, para pembenci Islam seolah lupa, bahwa Islam punya kontribusi besar dalam peradaban manusia. Alih-alih merasa bangga atau berutang budi, justru penyakit Islamfobia makin menjalar dan menular layaknya virus, bukan hanya menjangkiti individu namun bahkan sebuah negara.

Ya, realitasnya, musibah terbesar sedang mengangkangi umat, kita sedang hidup di bawah payungi ideologi sesat kapitalisme sekuler, maka sesuatu yang lumrah setiap ideologi yang berada di puncak akan mempertahankan kelanggengannya, keberlangsungannya untuk terus menancapkan hegemoninya dalam sendi kehidupan manusia. Segala cara akan dilakukan untuk memusnahkan ideologi lain termasuk Islam. Ajaran-ajaran Islam dikriminalisasi, diintimidasi dan diberi label radikal dalam konotasi yang negatif.

Sangat tendensius bukan? radikalisme, terorisme diidentikan dengan Islam, padahal jauh panggang dari api. Teringat Firman Allah “Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan- ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.” (QS. At-Taubah [9] : 32)

Mari setiap dari kita, mewakafkan diri menjadi obor, suluh yang tak pernah padam, menyampaikan dakwah Islam yang haq ke seluruh penjuru bumi. Aamiin.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *